CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter

CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter
Ke rumah sakit


__ADS_3

Sesuai janji, siang ini Brayen datang ke rumah sakit, tempat Juwita sedang bekerja mengobati pasien pasien luar biasanya. Brayen mengernyit melihat beberapa tingkah pasien tersebut. Brayen akhirnya sampai di meja resepsionis.


"Mau bertemu dengan dokter Juwita, ruangannya di mana ya?" Brayen tersenyum ke arah resepsionis tersebut.


Seketika wanita itu terkesima melihat senyum manis dari Brayen, sangat manis, membuat dunianya teralihkan sejenak, bak sebuah lirik lagu, "Wajah mu mengalihkan dunia ku." Sebelum akhirnya buyar, karena teguran dari Brayen.


"Halo, bisa saya bertemu dokter Juwita, ruangannya di mana ya?" Brayen kembali lagi bertanya, pasalanya tidak di jawab oleh resepsionis tersebut.


"Ah di lantai dua, setelah menaiki tangga ini, resepsionis tersebut menunjuk sebuah tangga yang berada di dekat lobi tersebut, belok kiri lurus, dan yang berada di paling ujung, itu ruangan dokter Juwita," terang resepsionis tersebut. "Ngomong ngomong ada keperluan apa bertemu dengan dokter Juwita? Ingin berobat?"


"Tidak, saya ada janji makan siang dengan beliau," ucap Brayen seraya tersenyum. "Terimakasih atas informasinya."


Brayen segera berlalu meninggalakan resepsionis tersebut yang terperangah, bagaiman tidak lelaki tampan yang baru saja berhadapan dengan dirinya itu, memiliki janji makan siang dengan Juwita. Wanita cuek yang memiliki banyak penggemar, namun memilih untuk sendiri, karena alasan tertentu.


"Kalian lihat tidak laki laki tampan yang tadi menaiki tangga itu?" Resepsionis yang tadi berdiri di belakang meja lobi, mulai berbisik kepada perawat. yang tengah memainkan ponselnya.


"Lihat memang kenapa?" Perawat itu menghentikan aktifitas bermain ponselnya.


"Kau tahu sepertinya itu adalah kekasih dokter Juwita. Laki laki itu datang hanya untuk makan siang bersama dengan dokter Juwita," serunya dengan penuh semangat. Pikir wanita itu, ini adalah bahan gosip yang sangat bagus. "Pantas saja dia menolak para laki laki yang mendekatinya, rupanya kekasihnya sangat tampan."


"Kau tahu dari mana jika itu adalah kekasihnya?" Suster itu segera berdiri di depan meja resepsionis, agar mereka lebih dekat lagi.


"Tidak mungkin seseorang datang untuk janji makan siang saja, tidak untuk berobat di sini," ucap resepsionis tersebut.


"Jadi mereka akan makan siang bersama?" Perawat tersebut nampak sangat terkejut.


"Iya, pasti mereka memiliki hubungan tertentu."


Sementara di atas Juwita baru saja meletakkan kepalanya di atas meja, hendak mengistirahatkan sejenak kepalanya, yang mulai mumet memeriksa setiap pasiennya, mendengarkan keluh kesah mereka, tentang kelamnya hidup ini.


Ya Allah terimakasi banyak engkau telah memberiku hidup yang sangat luar biasa, dan orang orang yang luar biasa pula. Juwita memejamkan matanya dalam sekali.

__ADS_1


"Apa sangat melelahkan?" Brayen tiba tiba muncul di samping Juwita, membuat gadis itu terkejut bukan main. Gadis itu segera memandang ke arah Brayen berdiri.


"Eh sudah datang? Ayo duduk, ku pesankan makan siang dulu." Juwita menarik gagang telfon di mejanya. "Kau mau memesan apa?"


"Aku ingin memesan sushi, dan seafood saja," ucap Brayen melihat d sekeliling ruangan Juwita. "Minumannya jus alpukat saja."


Juwita segera menyebutkan pesanan dirinya dan juga Brayen. setelah menyebutkan semua jenis makanannya, Juwita kembali meletakkan kepalanya di atas meja.


"Kau tak apa?" Bryan tampaknya sedikit khawatir.


Juwita menggeleng, kemudian tersenyum. "Tidak aku rasa aku tidak apa apa. Hanya sedikit lelah saja.


Tak lama kemudian makanan datang, dan mereka makan dengan hikmat, sesekali Brayen melontarkan tentang para pasien Juwita. Juwita pun tak segan manjawab pertanyaan Brayen, mereka makan layaknya seorang teman.


"Jadi pengobatan ku bagi mana?" Brayen tiba tiba menanyakan hal itu.


"Pelan pelan, karena kita akan sering bertemu, maka dari itu pengobatannya akan lebih mudah." Juwita meneguk air putih miliknya. "Kita akan melakukan nya secara berlahan, hingga kau sendiri tak merasakan pengobatan itu."


"Ada cara lain, cari pasangan. Atau tidak setiap wanita yang lewat pelototi, roknya yang pendek, pakaiannya yang seksi. Kalau pria jangan, kau pura pura tak melihatnya saja. Pengobatan itu dijamin ampuh," terang Juwita memandang wajah serius.


"Benarkah?" Brayen juga ikut memasang wajah yang serius.


"Iya, jika itu wanita di jamin akan di tampar di muka umum," tawa Juwita pecak seketika, menampakkan wajah Brayen yang tersenyum kecut. "Nah kalau laki laki, kau di jamin akan di katai aneh, orang orang."


"Kau aku benar benar bertanya kepadamu," kesal Brayen, melihat tawa Juwita yang pecah.


"Iya, iya, maaf aku hanya bercanda ok," Juwita mulai merendahkan suara tawanya. "Tapi kalau masalah mencari pasangan itu benar adanya. Yang lawan jenis ya! Catat, la wan je nis! Mengerti?"


Brayen mengangguk mengerti, bingung mencari siapa yang bersedia. Seketika otak Brayen bekerja, melihat ke arah Juwita. Juwita mulai waspada.


"Katanya kau akan membantuku hingga sembuh bukan?" Juwita mengangguk membenarkan, sembari meminum air putih miliknya. "Kalau begitu kau saja yang jadi pasangan ku."

__ADS_1


Byur, seketika Juwita menyemburkan air ke wajah Brayen. Brayen ikut terkejut dengan hal tersebut, Brayen segera meraih tisu di samping Juwita.


"Kau gila? Kau benar benar penyihir," kesal Brayen, sembari mengusap kasar wajahnya.


"Lagian kau ada ada saja, ingat kita hanya sebatas dokter dan pasien," ujar Juwita segera berdiri hendak membantu Brayen membersihkan wajahnya.


"Iya tapi kan kita punya perjanjian, lagian ingat perjanjian kita?" ujar Brayen membuat Juwita mengangguk.


Juwita yang sibuk berjalan tanpa memperhatikan kaki Brayen yang jenjang, hingga akhirnya limbung di atas Brayen.


"Kita tidak boleh berdekatan dengan lawan..."


Cup.


Bibir mereka terhubung, Brayen yang refleks memeluk pinggang Juwita.


"Dok..." Suster yang baru saja menyelesaikan makan siangnya terkejut melihat hal itu. Suster itu kembali menutup pintu tersebut.


Brayen terkesima, dirinya merasakan sesuatu yang aneh. Manis, ini tidak asing. Ada apa sebenarnya.


Juwita yang berusaha bangkit di tahan oleh Brayen. Rasa penasaran Brayen terlalu tinggi, sehingga membuatnya tetap memeluk dan bahkan menarik tengkuk Juwita. Brayen menutup matanya, me*lu* mat bibir Juwita dengan lembut, membuat Juwita terperangah.


Badan Juwita membeku, membuat Brayen semakin leluasa menarik pinggang Juwita untuk menepis jarak mereka.


Mengapa ini tidak asing? Apa aku pernah dengannya, Oh si*al, dia benar benar penyihir, bahkan membuatku tak ingin lepas. Brayen terus mengumpat, namun juga dalam bersamaan memuji ciu*man mereka, meski hanya sepihak.


Apa yang dia pikirkan? Ini ciuman pertama ku, aku tak bisa lepas, tenaganya terlalu kuat. Agh, kenapa ini justru, agh pers*etanan, ini sangat nikmat. Si*al. Juwita juga sama halnya dengan Brayen mengumpat sekaligus menikmati pa*ngu*tan mereka.


Brayen segera melepaskan pa*ngu*tan tersebut dan memandang ke arah Juwita. "Ini sangat manis, ini pertama kalinya untuk mu? Aku baru tahu rasanya semanis ini dengan lawan jenis."


Guys jangan lupa like, dan komentar ya. Karena hal itu memberikan semangat kepada othor untuk rajin update, kalau perlu beri dukungan dan vote ya guys.

__ADS_1


__ADS_2