CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter

CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter
Skizofrenia


__ADS_3

Brayen baru saja tiba di rumah sakit, tempat Juwita bekerja, setelah dari rumah keluarga Kostak. Brayen hendak menjemput Juwita, namun ini terlalu cepat, pasalnya saat ini masih pukul sembilan malam. dan bisa di pastikan Brayen akan menunggu satu jam lamanya.


Brayen membawa beberapa makanan untuk Juwita, agar gadis itu tak kelaparan saat memeriksa pasien.


Brayen segera menuju masuk ke dalam ruang kerja Juwita. Suster yang membantu Juwita membiarkan nya masuk, hingga beberapa pasien marah, karena menunggu sejak tadi, namun belum mendapat giliran.


"Woi mas bule, kami di sini dari tadi," teriak salah satu pasien yang mengantri sejak tadi.


"Maaf saya bukan pasien," ujar Brayen tersenyum, kemudian membuka pintu, dan berlalu masuk.


Juwita memandang ke arah pintu, ketika sedang terbuka, Brayen tersenyum ke rah Juwita, dan mendekati Juwita.


"Mau istirahat dahulu? Ini aku membawa makanan untuk mu," ujar Brayen, meletakkan makanan di atas meja depan sofa.


"Sebentar satu lagi, pasalnya mereka mengantri sejak tadi siang di sini," ujar Juwita tersenyum. "Oh ya ini Al-fatiha dalam tulisan latin, niat sholat, dan beberapa niat lainnya."


"Terimakasih, aku akan mempelajarinya sambil menunggumu," ujar Brayen segera menyambut sebuah buku kecil yang di berikan Juwita, Brayen mulai membuka halaman pertama, dan membacanya dengan suara yang kecil, cendrung tak terdengar.


Pasien selanjutnya datang dan duduk bersama anggota keluarganya. Anak itu tampak sangat pucat dan kurus, pandangannya lurus, seperti tak bernyawa, ekspresi nya datar.


"Selamat malam yang mana yang mau di periksa ya?"Juwita tersenyum ramah. Seorang wanita tampak menangis, terus menggenggam tangan anaknya.


"Ini dok anak kami" ujar laki laki paruh baya tersebut.


"Baiklah namanya Rani ya," ujar Juwita, melihat biodata anak tersebut. "Apa sudah pernah melakukan pemeriksaan di tempat lain sebelum nya?"


"Tidak dok ini yang pertama kalinya," ujar laki laki itu.


"Baiklah kenapa bisa di bawa ke sini?"

__ADS_1


"Dok kemarin anak saya mencoba untuk melakukan bunuh diri, dokter bilang meminta saya untuk memeriksa kejiwaannya," ujar laki laki paruh baya yang mendampinginya.


"Baiklah bisa say bertanya bagaimana keseharian anak anda?" Juwita turut prihatin melihat keadaan anak tersebut.


"Dulu dia itu anak yang periang, mudah bergaul, dan ramah. Namun setelah kembarannya meninggal dengan bunuh diri, dia tiba tiba berubah," ujar lelaki paruh baya tersebut.


"Apa anak bapak tiba tiba sulit bergaul? Misalnya yang dulu ramah tiba tiba menjadi pendiam, yang dulu mudah bergaul tiba tiba jadi lebih suka menyendiri?" tanya Juwita, membuat kedua orang tua yang berada di hadapannya itu mengangguk.


"Anak ibu dan bapak mudah marah?" Kembali lagi keduanya mengangguk membenarkan.


"Terjadi perubahan jadwal tidur?" kembali lagi Juwita bertanya.


"Ia biasanya dia tidur teratur dari jam sepuluh malam, namun ini berubah menjadi larut malam, bahkan terkadang sampai jam empat subuh," ujar laki laki paruh baya itu.


"Apa yang ia lakukan?" Juwita kembali bertanya.


"Bercakap cakap, entah dengan siapa, terkadang tertawa, terkadang menangis, terkadang ketakutan," ujar pria yang di duga sebagai gadis tersebut.


"Kenapa tidak langsung di bawa pak?" Juwita mengernyitkan keningnya.


"Awalnya kami mengira itu karena dia terpukul atas kehilangannya kakaknya, namun lama kemalaman tingkahnya semakin aneh, terkadang dia berjalan jalan saat malam, lalu kembali ke kamarnya," ujar pria paruh baya itu. "Tetangga kami pernah melihatnya dan bertanya, kenapa malam malam berjalan mengelilingi rumah? Terus dia menjawabnya, aku sedang berjalan jalan bersama dengan kakak dan pacar kami," seketika rumor tersebar mengatakan bahwa anak kami sering didatangi olah roh kakaknya.


"Lalu?" Juwita tampak sangat penasaran.


"Lalu kami mendatangkan seorang pemuka agama agar mendoakan tempat kami, namun hal itu tetap berlanjut, bahkan lebih parah lagi. Rani terkadang ketakutan sendiri di kamarnya, saat di tanya, dia bilang ada yang mengawasinya saat kakak dan kekasihnya pergi." Laki laki itu menghela nafasnya dengan kasar.


Brayen yang melihat Juwita tampak tak terkejut sama sekali, menjadi yakin. Bahwa kekasihnya itu terbiasa menghadapi orang orang dengan masalah seberapa itu, Brayen kembali terkesima dengan sikap Juwita.


"Rani, Rani coba lihat kakak," ucap Juwita mencoba mengajak Rani berbicara, namun hasilnya nihil Rani hanya memandang Juwita dengan tatapan kosong, tanpa ekspresi. "Rani, Rani hobinya apa?" Juwita menghela nafasnya, sesungguhnya dari cerita tersebut, Juwita sudah paham dengan penyakit pasiennya itu. Namun Juwita hanya ingin memastikannya saja.

__ADS_1


"Kakak," ujar Rani tiba tiba melihat sekeliling ruangan tersebut, matanya tak sengaja saling bertatapan dengan Brayen. Sontak membuat Brayen menjadi merinding sendiri. "Aaaahgggghhhh... SUDAH KU BILANG JANGAN MENGIKUTI KU, JANGAN TERUS MENGAWASI KU!"


Semua orang terkejut mendengar teriakan tiba tiba Rani, dan melempar barang di atas meja Juwita ke sudut ruangan, yang tepat berada di samping Juwita. Brayen dengan sigap memeluk Juwita, kemudian memegang tangan Rani, sebelum tanpa sengaja melempar ke arah Juwita.


Juwita mendekat, segera menyuntikkan obat penenang kepada Rani. Sedetik kemudian Rani kembali tenang, namun kembali ketakutan, meringkuk, di bawah meja.


"Tolong, tolong, tolong," Rani terus bergumam sembari memeluk lututnya, kedua orang tuanya hanya mampu melihat ekspresi anaknya dengan wajah sedih. Lambat laun Rani menjadi mengantuk, hingga akhirnya tertidur, di bawah pengaruh obat penenang. Setelah benar benar tenang, Brayen segera membantu ayah Rani untuk mengangkat Rani.


"Bagaiman dok? Apa sebenarnya yang terjadi pada anak saya?" Ibu ibu tersebut tampak sangat sedih, air matanya kembali meleleh.


"Anak ibu terkena penyakit Skizofrenia. Sebuah penyakit gangguan mental yang terjadi dalam jangka panjang. Gangguan ini menyebabkan penderitanya mengalami halusinasi, delusi atau waham, kekacauan berpikir, dan perubahan perilaku. Gejala tersebut merupakan gejala dari psikosis, yaitu kondisi di mana penderitanya kesulitan membedakan kenyataan dengan pikirannya sendiri," ujar Juwita, menjelaskan kepada keluarga penderita merupakan hal yang berat bagi Juwita. Juwita pasti akan selalu melihat kesedihan di mata mereka.


"Bagaiman bisa dok?" Wanita itu tampak sangat terkejut mendengar penjelasan Juwita.


"Penyebabnya banyak terjadi, misalnya faktor dari genetik, atau faktor dari keluarga contohnya paman, nenek, dan lain lain. Selanjutnya faktor dari orang tua, dan dari kembarannya. Apa ada dari sekitar anda menderita penyakit yang ciri cirinya seperti anak anda?" Juwita mencoba mencari tahu tentang gejala yang Juwita alami.


"Hampir sama seperti kembarannya, namun kami pikir dia gila. Di kampung kami kalau ada yang seperti itu, maka menjadi aib bagi keluarga, jadi kami hanya mengurung kembarannya di dalam kamar. Tapi tak lama kemudian kembarannya gantung diri," ujar ibu Rani, dengan bercucuran air mata.


"Apa saat mengalami kelahiran anak kembar ibu mengalami masalah? Seperti lahir prematur? Atau berat badan yang rendah?" Juwita bertanya kepada ibu Rani dengan sangat hati hati.


"Saat istri saya melahirkan anak kembar saya memang mereka lahir prematur, dua bulan sebelum waktunya, berat badannya juga rendah, dan mereka hampir meninggal saat keluar, kata dokter mereka berdua kekurangan oksigen," ujar ayah Rani membuat Juwita mengangguk.


"Baiklah untuk saat ini kita akan meresepkan obat antipsikotik, ada beberapa efek sampingnya, berat badan bertambah, gairah **** menurun, kejang ,mulut kering, penglihatan kabur, pusing dan lain lain. Jadi jika terjadi sesuatu silahkan hubungi saya ya. Kemudian di rumah sebaiknya ibu melakukan psikotrapi, dengan cara mengajarkan pasien tentang interaksi kepada orang lain, mengajarkan pasien untuk memahami lingkungan. Dan bagi yang bersangkutan di harapkan mampu memahami dan berkomunikasi dengan pola pikir pasien. Pasien juga di minta untuk tidak merasa tertekan."


Bagaimana guys? Sudah cocok belum jadi dokter jiwa? Mudahan kita semua dapat memahami tentang perilaku menyimpang sekitar kita ya, agar tidak salah mengambil tindakan. Semoga novel ini memberi manfaat untuk kita semua.


Pleas like guys, ini mencari materinya sampai harus mencari informasi dari dokternya langsung di halo dok, wkwkwk.


Guys cuman mau mengingatkan bahwa give away masih berjalan loh, jadi jangan lupa beri dukungan ya, dengan cara, klik like, komentar, kemudian beri hadiah dengan bunga sekebon, atau kopi secangkir, dan beri vote.

__ADS_1


__ADS_2