CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter

CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter
Rumah sakit.


__ADS_3

"Sayang celananya lucunya, keras di bagian depannya, mirip batok kelapa," Brayen sedikit mengetuk nya, sembari terkekeh geli.


"Iya itu buat melindungi burung puyuh mu," Juwita ikut terkerek. "Terlebih ketika aku tidurnya sedikit rusuh."


"Berarti aku bebas memeluk mu dong," kelakar Brayen.


"Mana boleh orang kamu belum boleh banyak bergerak, kalau sering terjadi gesekan sakitnya akan semakin lama loh," Juwita memencet hidung Brayen.


"Tapi kan kamu masih bisa meluk aku," ujar Brayen terkekeh. Juwita ikut terkekeh di buatnya.


Baru saja Juwita ingin melingkarkan tangannya di tubuh Brayen, namun tiba tiba ponselnya berbunyi, membuat Juwita segera berpaling dan mengambil ponselnya yang ada di samping tempat tidur.


"Halo assalamualaikum Tante," sapa Juwita karena ternyata yang menelfon nya adalah nyonya Mona.


"Halo wit, Aliya dan Chandra di culik, sekarang polisi sedang melakukan pencarian, papa Rio juga saat ini pingsan, kena serangan jantung," ujar nyonya Mona yang di seberang sana.


"Apa...! Kakek di mana sekarang?" Juwita tampak terkejut segera mendudukkan dirinya di samping Brayen, sementara Brayen ikut bangun dari tempat tidur.


"Kakek sudah di bawa ke rumah sakit, nanti Tante kirimin alamatnya ya, sekarang kamu tolong temani kakek, soalnya kita masih mencari tahu keberadaan Aliya," ujar nyonya Mona di ujung sana.


"Iya Tante, sebentar lagi ke sana," ujar Juwita menutup telfonnya.


"Kenapa sayang?" Brayen memandang kekasihnya dengan bingung.


"Kakek masuk rumah sakit, Aliya dan Candra sedang di culik," ujar Juwita lesu, segera bangun.


Brayen ikut bangun dan mengikuti langkah Aliya. Brayen segera mengambil pakaian dalam khusu sunat, dan beberapa sarung, serta pakaian. Brayen ikut masukannya ke dalam tas, kemudian menghubungi Indri asistennya agar di bawakan kursi roda.


"Sayang kamu tunggu sebentar ya, soalnya aku sedang meminta Indri membawakan kursi roda, sekalian kita di sana bisa minta buka perban jahitan," ujar Brayen mengusap kepala Juwita, Brayen bahkan kini membawa Juwita ke dalam pelukannya. Meski memberi sedikit jarak untuk mereka.


Tak lama kemudian Indri datang membawa kursi roda, dan memberikannya kepada Juwita, Juwita juga telah mengemas beberapa pakaiannya, rencananya ia akan bermalam di tempat kakek Rio. Juwita tidak lupa membawa obat obatan sang kekasih.


"Sayang semua sudah siap?" Brayen memandang Juwita, yang kini telah menarik resleting tas miliknya. "Minta beberapa orang membawakan tas itu. Dan Indri tolong siapkan kasur angin untuk kami tidur di sana, dua cukup kok," ujar Brayen.


"Ayo kita masuk ke mobil, aku sudah membawa dua selimut," Juwita tersenyum ke arah Brayen. Dan berjalan menuju mobil mereka. "Nanti malam tolong bawa makanan kesukaan kakek ya."


"Iya non," ujar mereka tersenyum. Sungguh mereka sangat senang kepada Juwita, meski Juwita kini sudah bisa di bilang setara dengan Aliya, namun gaya bicaranya, dan cara minta tolongnya tetap sama, sopan, tak ada yang berubah satu pun.


"Indri bantal dan guling nanti ya, dua ingat loh dua," ujar Brayen membuat Indri mengangguk mengerti.

__ADS_1


Mereka segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit tempat kakek di rawar, sementara Brayen terus bergelayut manja di samping Juwita. Juwita tersenyum dan menggeleng.


......................


Sesampainya di rumah sakit, mereka segera berjalan menuju ruangan kakek Rio, dan mendapati nyonya Mona yang masih mondar mandir di tempat tersebut.


"Tante..." "Mamah," ujar Brayen dan Juwita bersamaan.


"Bagaimana keadaan kakek? Al gimana? Udah tahu di mana?" Juwita memberikan pertanyaan beruntun kepada nyonya Mona.


"Kakek masih pingsan, sementara mereka saat ini sedang membawa Aliya ke rumah sakit," ujar nyonya Mona menitikkan air matanya.


"Tante yang sabar ya, ada kita di sini. Apapun yang terjadi kita hadapi sama sama," Juwita memeluk erat nyonya Mona memberi kehangatan, dan kenyamanan.


"Terimakasih sayang," nyonya Mona tersenyum mendengar ucapan tulus dari Juwita.


"Ya sudah Tante mau nunggu di sini juga atau menunggu Al?" Juwita mengurai pelukannya.


"Tante akan menunggu Al dulu, takut terjadi sesuatu," ujar nyonya Mona. "Loh Brayen kamu habis kecelakaan nak?"


"Oh engga ma, habis sunat tadi pagi, jadi naik kursi roda," Brayen tersenyum ke arah nyonya Mona.


"Mamah..." wajah Brayen sudah memerah mendengar ucapan nyonya Mona.


Nyonya Mona melenggang pergi meninggalkan sepasang pasang kekasih itu di hadapan ruangan kakek Rio. Mereka pun segera masuk dan mengamati kakek Rio yang masih berbaring lemas.


"Sayang ayo duduk dulu,sembari menunggu Indri membawakan pesanan kita," Brayen menepuk sofa agar Juwita segera duduk.


Juwita menitikkan air mata, kala melihat kakek Rio yang selama ini sangat kuat dan tegar, kini tengah berbaring lemas dengan wajah pucat nya. Rasanya Juwita tak sanggup melihatnya. Brayen membawa Juwita ke dalam pelukannya, dan mengecupnya dalam.


"Sayang jangan sedih, kita harus menguatkan kakek dan Aliya, jadi kita juga harus kuat ok sayang," Brayen mengecup puncak kepala kekasihnya berkali kali.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


Sementara itu di tempat lain, nyonya Weni tengah duduk di kursi sebuah kafe, tampaknya ia tengah menunggu seseorang, beberapa kali kafe tersebut terbuka membuat nyonya Weni memandang ke arah pintu. Nyonya Weni tersenyum kala melihat siapa yang datang.


"Sayang aku merindukan mu, terutama adikku ini," ujar laki laki itu segera mendudukkan diri di samping nyonya Weni.


Laki laki itu memejamkan matanya merasakan tubuhnya meremang panas ketika nyonya Weni mengusap lembut adiknya. "Ayo ke hotel sekarang, aku sudah tak tahan," ujarnya menarik nafasnya dalam dalam.


"Ayo..." ujar nyonya Weni tersenyum penuh arti.


mereka segera beranjak dari tempat tersebut dan berjalan menuju hotel terdekat, sembari bergandengan mesra. Namun tiba tiba ponsel nyonya Weni berbunyi membuat laki laki di sampingnya cemberut melihat siapa penelfonnya.


"Halo sayang kamu di mana? Masih lama kumpul dengan teman temannya?" ternyata itu adalah tuan Damar yang menelfon nya.


"Iya sayang, mungkin setelah magrib baru pulang soalnya lagi seru serunya ini," ujar nyonya Weni menahan desa*hannya pasalnya saat ini laki laki itu mulai menjelajahi leher nyonya Weni dengan kecupan. "Reymond..." ujar nyonya Weni dengan suara yang tak terdengar.


Reymon terkekeh, kemudian melakukan mobilnya menuju salah satu hotel terdekat. Reymond kemudian segera mengajak nyonya Weni untuk bergegas keluar ketika mereka sampai di hotel. Mereka memesan kamar, yang dikira resepsionis mereka adalah sepasang suami istri, pasalnya mereka menggunakan buku nikah palsu, dan KTP mereka sama sama telah menikah, belum lagi wajah mereka yang telah tua, jadi pastinya mereka suami istri.


Mereka segera masuk ke kamar dengan terburu buru, nyonya Weni membuka bajunya satu persatu begitupun dengan Reymond. Mereka terus melucuti pakaian masing masing dengan mulut saling ber*tau*tan.


Setelah sama sama tela*njang mereka segera menuju tempat tidur, dan memulai aksinya hingga membuat mereka lupa akan waktu.


"Ah... Rey... mooon..." ujar nyonya Weni ketika mencapai puncaknya. Nyonya Weni bahkan menggigit dada Reymond.


"Agh... sayang... Wen... kau sangat cantik..." balas Reymond, kemudian menjatuhkan dirinya di atas nyonya Weni.


Tak ada kata yang keluar, mereka sama sama diam menikmati indahnya debaran mereka. Reymond mengecup bibir nyonya Weni berkali kali. "I love you..."


"Love you to," jawab nyonya Weni tersenyum. Reymon segera menjatuhkan dirinya di samping nyonya Weni, dan mulai mengusap lembut kening nyonya Weni. Mereka sama sama tersenyum. Cinta yang telah mereka kubur lama kini kembali tumbuh, dan lebih besar dari sebelumnya. Mereka kembali merasakan jatuh cinta satu sama lain.


"Kapan kita akan seperti ini lagi?" Reymond mengecup kening nyonya Weni.


"Besok pagi Damar keluar kota hingga dua bulan, kita bisa terus bersama," ujar nyonya Weni, memegang tangan Reymond.


"Baiklah aku akan melakukan perjalanan ke luar kota juga, tapi tidak sendiri, aku kan pergi dengan mu," Reymond mendekatkan tubuh mereka yang polos kembali. "Bagaimana jika aku ingin lagi?"


"Hust besok saja, aku harus pulang," ujar nyonya Weni menggigit hidung Reymond dengan gemas.

__ADS_1


"Baiklah, setelah itu kita akan pergi ok..." ujar Reymond kembali memeluk erat tubuh nyonya Weni. "Aku mencintai mu, selalu dan selamanya."


__ADS_2