
"Aku pergi dulu lid," ujar wanita itu menghampiri istri dari selingkuhnya, yang saat ini berada di belakang taman rumah. Sudah menjadi kebiasaan untuknya jika menjelang sore akan berada di taman belakang. Sembari menunggui suaminya kembali untuk kembali dari bekerja.
"Wen..." wanita yang tengah duduk di kursi roda tersebut segera memutar tubuhnya. "Sudah selesai belanjanya Wen?"
"Sudah Lid, ini aku bawakan untuk mu, bagus bukan? Ketika aku melihatnya aku teringat dengan mu," ujar wanita itu, sembari tersenyum manis, seolah tak pernah terjadi apa apa. "Kalau begitu aku pergi dulu ya lid, soalnya takut suami ku pulang, aku hanya ingin memberi mu ini."
"Hm... temani aku dulu, aku bosan suami ku pergi dari tadi, aku kesepian. Sampai suami ku kembali kau harus menungguku ok," wanita itu memandang wanita tadi dengan pandangan mengiba.
"Baiklah untuk sahabat tercinta ku, sekarang kau sudah makan?" wanita itu membelai rambut Lidia dengan lembut, seolah ia benar benar sangat menyayangi wanita yang tengah duduk di kursi roda tersebut.
"Belum, ayo makan bersama, mungkin para maid sudah selesai," ajak Lidia, dengan melajukan kursi rodanya.
"Ayo, biar aku mendorong mu," ujar wanita itu mendorong istri sah selingkuhannya.
Mereka menuju ke ruang makan, wanita itu terus mendorong kursi roda istri selingkuhannya. Mereka berjalan bak seorang sahabat, yang saling menyayangi. Wanita itu mendelik ke arah para maid yang tengah menjamu kan makan siang untuk mereka. Semua maid mengetahuinya, namun mereka semua bungkam karena ancaman dari Raymond dan kekasih gelapnya itu.
Wanita itu di bantu beberapa maid telah membatu Lidia untuk pindah ke kursi, tak lama kemudian suara seorang laki laki datang dan mengejutkan Lidia dan wanita itu.
"Loh Weni... kamu di sini?" tuan Damar menyapa istrinya yang tengah duduk di meja makan.
Ya, yang tengah berselingkuh adalah nyonya Weni. Ibu kandung dari Juwita. Sementara Reymond, tanpa mereka ketahui adalah mantan kekasih dari nyonya Weni, mereka akhirnya putus setelah nyonya Weni menikah dengan tuan Damar.
"Loh mas, kok kamu di sini?" Nyonya Weni tersenyum sumringah, mendekati suaminya.
Tuan Damar mendekat dan mengecup bibir nyonya Weni sebentar. "Ya Reymond datang ke kantor ku, dan mengajak ku untuk singgah di sini."
__ADS_1
Nyonya Weni memandang ke arah Reymond yang memandangnya dengan pandangan tidak suka. Ia tak suka jika nyonya Weni bermesraan di hadapannya dengan sahabatnya. Ia cemburu, cintanya masih membara di hatinya, terlebih mereka sudah kembali bersama saat ini meski hanya sebatas kekasih gelap.
"Ayo duduk," ujar Reymond dingin.
"Kau masih seperti dulu," tuan Damar tersenyum manis.
Sungguh sahabatnya itu tidak pernah berubah, ia masih sama dinginnya ketika pertama kali bertemu. Tuan Damar mengerti akan hal itu. Ia sudah memaklumi semuanya. Mereka mulai makan bersama dengan sesekali bercerita. Reymond tidak terlalu banyak bercerita, nyonya Weni lebih banyak bercerita, namun tak pernah menyinggung soal masa lalunya. Reymond mengulurkan kakinya yang berada di bawah meja, mengusap lembut kaki nyonya Weni dengan kakinya. Nyonya Weni melirik ke arah Reymond dan di balas dengan senyuman kecil oleh Raymond.
......................
Sementara di tempat kakek Rio. Brayen baru saja terbangun dari tidurnya, sakit tadi membuatnya tertidur di dalam pelukan kekasihnya. Brayen tersenyum memandang kekasihnya, sakitnya masih terasa. Namun sudah lebih baik saat tadi siang, Brayen tersenyum memandang Juwita yang masih terlelap, tangan gadis itu melingkar di lehernya, menyentuh wajahnya, membuat Brayen tersenyum.
^^^Ternyata ini maksud kakek, mana aku sudah sesumbar lagi akan melamarnya malam ini, tapi ternyata aku tak menyangka akan sesakit ini. Pantas saja sayang ku ini mengatakan masih sedikit lama lagi dirinya akan di pingit, rupanya begitu. Brayen.^^^
Brayen mengecup lengan Juwita yang melingkar di lehernya. Juwita tak terganggu, gadis itu justru melingkarkan tangannya semakin erat.
Brayen merasakan pergerakan tubuh bagian bawah Juwita, Brayen melirik. Melihat kaki Juwita berada di atas paha kirinya, Brayen berusaha menyingkirkan kaki juwita, namun kaki Juwita tak kunjung tersingkirkan dari atas pahanya.
"Sayang... sayang... sayang..." Brayen memanggil Juwita, namun Juwita tampaknya sudah jatuh ke alam mimpi yang sangat dalam. Brayen segera menggigit lembut lengan Juwita membuat gadis itu terkejut.
Kaki Juwita hampir mengenai dedek Bray, jika saja Brayen tidak segera memegangi kaki Juwita, agar tak mengenai dedek Bray. Juwita memandang ke arah kakinya, dan tersenyum tidak enak.
"Eh maaf aku tak sengaja," ujar Juwita tersenyum canggung. "Sebentar aku akan keluar."
Juwita beranjak dari tempat tidur, namun di tahan oleh Brayen. "Mau kemana? Aku ga marah kok sayang," ujar Brayen cemberut seperti anak kecil.
__ADS_1
"Brayen tunggu di sini dulu, aku akan mengambil sesuatu untuk mu, agar dedek Bray mu terlindungi," ujar Juwita terkekeh dan keluar dari kamar tersebut.
"Mba apa tadi ada paket yang masuk?" Juwita bertanya kepada seorang maid yang tengah bekerja.
"Oh ada non, ini," maid tersebut segera memberikan paket kepada Juwita.
"Terimakasih Mba," ujar Juwita segera masuk ke dalam kamar. Juwita melihat brayen tengah gelisah. "Kamu kenapa?"
"Aku mau pipis tapi ini bagaiman?" Brayen memandang Juwita dengan manja.
"Dasar manja, sini ayo aku bantu, nanti bersihkan sampai benar benar kering ya," Juwita memapah Brayen ke kamar mandi.
"Iya sayang tunggu di sini ya," ujar Brayen.
"Ini ada celana khusus untuk mu," ujar Juwita membuka paket khusu yang telah ia beli. "Ini pakai ini."
"Iya terimakasih sayang," Brayen menutup pintunya, kemudian membuang hajatnya.
Setelah sekitar sepuluh menit Brayen keluar dengan meringis, Juwita kembali memapahnya menuju tempat tidur. "Sayang kita ke dokter ya."
Juwita mengerutkan keningnya bingung. "Lah kenapa?" Juwita segera memegang tangan Brayen.
"Itu ku bengkak," ujar Brayen mengiba.
"Oalah, itu hal biasa, pasalnya dalam masa perbaikan, kita akan ke dokter dua hari lagi, jadi kamu jangan banyak bergerak ya," Juwita mencubit gemas hidung kekasihnya.
__ADS_1
"Memang begitu ya sayang?" Juwita memandang Juwita dengan pandahan lega. "Sayang jadi bagaiman dengan lamaran hari ini?"
"Kau sembuh dulu baru memikirkan nya," ujar Juwita tersenyum manis.