
"Sekarang jelaskan dari saat kau datang ke kantor ku, dan menjatuhkan tempat makan mu," ujar Brayen menempelkan keningnya.
Flashback.
Ting.
Pintu lift terbuka, Juwita segera berjalan menuju ruangan Brayen, Juwita tak sabar ingin menyampaikan tentang cuti yang ia dapatkan, dan ia juga sudah memesan tiket pesawat ke new Delhi, India. Namun sebuah telfon mengejutkannya. Juwita menerima telfon tersebut, seiring dengan Indri membukakan pintu ruangan Brayen untuk Juwita.
"Kak tolong kak, ke sini sekarang, Jojo mau bunuh diri," ujar Aska dari ujung sana.
Juwita yang terkejut, tanpa sengaja menjatuhkan bekalnya. Tanpa pikir panjang lagi Juwita segera berlari menuju lift. Juwita tampak sangat khawatir, ia kembali menelfon Aska, namun tampaknya Aska masih sangat sibuk. Juwita segera memesan taksi online.
Juwita berdiri di trotoar jalan, agar memudahkan taksi online menemukannya. Aska juga sudah mengirimkan alamat nya. Naas belum juga taksi datang menjemputnya, tiba tiba sebuah sepeda motor tanpa Juwita sadari mendekat, dan menarik ponsel Juwita. Juwita terkejut, hendak mengejar sepeda motor tersebut. Namun mobil yang sudah ia pesan datang.
"Mbak Juwita?" tanya supir taksi tersebut.
"Ah iya pak," ujar Juwita panik.
"Kenapa mbak?" supir taksi tersebut bertanya setelah Juwita masuk.
"Ponsel saya kecopetan," ujar Juwita memeluk erat tas tangannya.
"Mau di kejar mbak?" tawar supir taksi tersebut memandang ke arah Juwita.
"Ga usah pak, ke alamat xxx saja," tolak Juwita, segera meminta di antar kan ke alamat yang di kirim Aska. Untung saja dirinya ingat dengan alamat yang di berikan oleh Aska.
__ADS_1
"Baik mbak," ujar supir taksi tersebut segera melajukan mobilnya. Mereka menuju tepat di tempat yang di tunjukkan oleh Juwita.
Sesampainya di sana, Juwita segera membayar biaya taksi tersebut, kemudian masuk ke dalam kos Jojo. Aska tampak di sana, berusaha membujuk Jojo, untuk meletakkan kembali pisau yang ia pegang. Mereka bahkan saat ini tampak tengah saling memperebutkan pisau. Juwita melangkah diam diam ke arah belakang Jojo, dan melakukan bius total di tubuh Jojo.
"Ah, untung saja tadi aku membawa obat bius, entah aku tak tahu kenapa ingin membawanya, rupanya untuk ini to," gumam Juwita sedikit bernafas lega.
Jojo berangsur angsur melemahkan tangannya dari genggaman pisau, kemudian kesadaran pun berangsur menghilang. Setelah memastikan bahwa Jojo tak lagi sadar, kedua orang dewasa tersebut, segera membawa Jojo ke tempat tidur. Juwita menghembuskan nafas kasarnya, ada rasa khawatir sekaligus lega di dalam sana.
"Kenapa? Apa yang memicunya?" Juwita memandang ke arah Aska, yang kini duduk berselonjor di samping tempat tidur Jojo.
"Engga tahu kak, tadi ayahnya datang seperti biasa, biasanya ayahnya minta uang buat judi, atau mabuk mabukan. Ayahnya juga suka ngancam, meski tidak mau bercerita kepada siapa siapa, termasuk kakak. Tapi Aska kemarin tanpa sengaja melihatnya, dan bisanya setelah ayahnya pergi, Jojo akan terlihat tertekan, bahkan terkadang ketakutan. Namun entah kenapa hari ini dia benar benar mengamuk, Jojo menjulurkan pisau ke arah ayahnya. Aska mencoba menghentikannya, namun Jojo mengancam akan bunuh diri, karena itu Aska menelfon kakak," jelas Aska, membuat Juwita untuk sejenak berhenti bernafas.
Juwita memijit kepalanya, mereka menghubungi ibu Jojo yang ada di Jambi. Aska segera memberitahukan kepada ibu Jojo tentang kondisi putranya saat ini. Terdengar gemetar suara dari ujung sana.
Jelas ibu mana yang tak gemetar mendengar anak laki laki kebanggaannya, calon penerus keluarganya, tadi hendak bunuh diri.
"I... Iya," ujar ibu Jojo terdengar terpukul ketika mengatakannya.
Setelah telfon terputus, Aska menghembuskan nafas beratnya. Sebenarnya berat bagi Aska mengatakan hal ini kepada ibu Jojo, namun jika sudah begini Aska juga tidak punya pilihan lain selain mengatakannya.
"Heh berat, berat..." ujar Aska menggelengkan kepalanya hingga beberapa kali.
"Memang berat Aska," ujar Juwita tersenyum menggeleng.
"Kakak sering seperti ini ya?" Aska memandang Juwita dengan penuh tanya. Juwita mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
Juwita menghela nafasnya perlahan. "Kemarin pasien kakak skizofrenia, orangtuanya terlihat terpukul sekali. Terlebih mereka juga telah kehilangan kakak kembar dari pasien kakak, dan sepertinya memiliki penyakit yang sama," Juwita memandang nanar, mengingat kembali semua hal yang kemarin telah ia lalui. "Kamu tahu dia ngamuk, semua barang kakak yang di atas meja di buang nya."
"Huh, pasti capek banget ya kak. Soalnya yang harus kakak sembuhin jiwanya, bukan raganya," ujar Aska membayangkan berada di posisi Juwita.
"Setidaknya dengan begini kakak bisa bersyukur, ternyata kakak jauh lebih beruntung daripada para pasien kakak," ujar Juwita tersenyum.
Lama mereka berbincang bincang, tiba tiba Jojo kembali sadar, Aska dan Juwita segera bangkit. Juwita segera memeriksa keadaan Jojo yang tampak masih menatap kosong ke arah langit langit kamarnya.
Aska datang membawa segelas air putih untuk Jojo. "Jo minum dulu Jo," ujar Aska, menyerahkan gelas berisi air minum untuk Jojo.
Jojo hanya melirik sekilas dan kembali memandang langit-langit. Jojo mengulurkan tangannya, meraih gelas yang di berikan olah Aska.
Tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir Jojo, Aska segera membantu Jojo untuk duduk sepenuhnya. Baru sebentar Jojo bangun, Bahakan kini kembali mengamuk, dan melemparkan barang. Juwita dan Aska kewalahan menghadapi Jojo.
Hingga pagi hari, Aska dan Juwita sedikit kurang tidur karena hampir satu malam Jojo mengamuk, dan kini Jojo tengah di ikat oleh Aska dan Juwita.
Juwita segera menghubungi nomor kakek Rio, Angel dan Aliya melalui ponsel Aska. Mereka menunggu kehadiran ini Jojo. Pasalnya mereka akan membawa Jojo ke rumah sakit, hingga Juwita kembali dari masa cutinya. Dokter lain untuk sementara akan menerimanya.
Setelah menyelesaikan persoalan Jojo, Juwita segera pulang, dan bersiap mengambil kopernya, pasalnya keberangkatannya hanya berjarak satu jam lebih. Juwita yang melihat masih ada waktu, segera ke kantor Brayen. Hendak memberitahu kan keberangkatannya. Namun ternyata tempat duduk Brayen kosong. Begitupun sekertaris nya, yang saat ini mengganti Brayen rapat.
Lama Juwita menunggu akhirnya asisten Brayen datang membawakan teh, meminta Juwita menunggu. Namun waktu semakin sempit, waktu keberangkatan Juwita semakin dekat. Juwita memutuskan menulis surat untuk Brayen, Juwita meletakkan di depan figuran foto mereka berdua. Juwita memberitahukan keberangkatannya ke new Delhi, Brayen juga meminta maaf karena kemarin tak sempat makan bersama di kantor.
flashback end.
"Jadi kamu meletakkan catatan?" Brayen memandang Juwita tak percaya, kemudian mengecup kening Juwita dengan dalam. "Maaf ya sayang, seharusnya aku selalu mendampingi mu kemarin. Pasti kemarin sangat berat untuk mu."
__ADS_1
"Hm, kemarin juga aku lupa mengatakannya, di tambah ponselku yang hilang, pasti membuat mu sangat khawatir. Aku minta maaf."