
"Was temani Fani bermain dulu". Bianca mengenakan baju prakteknya ia berjalan menuju paviliun yang sekarang di sulap Gavin menjadi tempat praktek Bianca. sepasang pria dan wanita muda duduk cemas menunggu kedatangan Bianca. wanita itu nampak sedang hamil tua. Bianca meminta keduanya untuk langsung masuk ke ruangannya. pria muda itu mengenakan kemeja lusuh dan celana jeans belel. rambutnya gondrong tidak terawat. sementara si wanita terlihat sederhana, ia nampak sedang mengandung sekitar tujuh bulan. Bianca memeriksa kandungan si wanita.
"Kandungan sehat, apa kau rutin memeriksakan diri?".
"Benar dokter saya rutin periksa di pelayanan kesehatan di desa".
"Tadi malam terasa mulas dan sakit dokter".
"Tidak masalah itu kontraksi palsu".
Selesai memeriksa, Bianca memberikan vitamin untuk pasiennya. sang pria nampak cemas memegang dompetnya.
"Berapa dokter biayanya?". Tangan pria itu bergetar memegang dompetnya.
"Tidak perlu, pakai saja nanti untuk persiapan lahiran". Bianca tak sengaja melihat ketika lelaki itu membuka dompet dan tidak ada isinya. Bianca memanggil Wasti untuk mengambil beberapa buah di meja makan dan di taruh kantong plastik.
"Ini dibawa ya oleh-oleh dari dokter". Bianca menyerahkan kantong plastik berisi buah-buahan ada jeruk, apel dan satu sisir pisang. wajah pasangan muda itu tampak sumringah. keduanya pamit pada Bianca dan mengucap terimakasih.
Bianca mengamati pasangan tadi yang pergi dengan motor bututnya. wajah mereka nampak bahagia. Bianca duduk di kursi kerjanya. ada kelegaan amat sangat dalam hatinya. ia mendoakan agar si wanita lancar dalam proses melahirkan bayinya.
__ADS_1
Pasangan muda tadi adalah pasien pertama di hari Bianca membuka praktek di rumah untuk pertama kalinya. ia berniat akan bercerita pada Gavin nanti.
***
Gavin selesai dari ruang operasi bersama dokter Luna. keduanya bergegas membersihkan diri dan mengganti pakaian. Gavin mengemas peralatannya ke dalam tas kerjanya. ia berjalan keluar ruang kerjanya.
"Kau akan pulang?". Tanya Luna yang menghadang di depan pintu ruang kerja Gavin.
"Benar aku mau pulang".
"Bisakah aku minta tolong?". Tanya Luna lagi.
"Hari ini aku berulang tahun, tapi aku tidak ada teman atau kerabat bisakah kau menemaniku makan malam?". Wajah Luna terlihat memohon. Gavin melirik jam tangannya. ia sudah janji akan bermain dengan Fani karena kemarin tidak sempat.
"Ah Luna maaf aku tidak bisa. aku sudah berjanji pada Fani akan pulang lebih awal". Luna terlihat kecewa.
"Apa kau bersedia ikut ke rumah ku untuk makan malam, akan ku kenalkan dengan Bianca dan Fani".
"Tidak perlu, lain kali aku akan ikut serta dengan mu untuk bertemu anak dan istri mu".
__ADS_1
"Baiklah, Luna selamat ulangtahun untuk mu". Kata Gavin tulus dan menjabat tangan wanita cantik itu.
Gavin bergegas menuju mobilnya. ia melaju menyusuri jalanan kota tidak sabar ingin segera bertemu Fani dan Bianca. ia ingin tahu apa praktek yang di buka Bianca di rumah berjalan lancar.
Gavin memutar kemudinya dan memarkirkan mobil di halamn rumahnya yang luas. ia berhati-hati agar tidak menyenggol pot bunga mawar koleksi Bianca. ia turun dari mobil, Fani menyambut dan berhambur pada ayahnya.
"Papa". Fani berlari memeluk Gavin. Gavin mengangkat Fani dan menciumi pipinya yang gembil.
"Dimana mama?".
"Ada di dalam pa".
"Was bawa masuk". Gavin menyerahkan tas kerjanya pada Wasti. ia menemui Bianca di meja makan.
"Mandilah dulu akan kusiapkan makan malam". Kata Bianca. Gavin menurunkan Fani dari gendongannya. ia berjalan menuju kamar, melepas pakaian kerjanya dan menuju kamar mandi. Gavin mandi dengan cepat. Bianca terkadang heran apakan Gavin mandi dengan sabun atau tidak.
"Kau tak pakai sabun ya?".
"Sabunnya aku makan, enak asin rasanya". Kata Gavin menggoda Bianca. keduanya sering main sindir hanya untuk bergurau. Gavin menuju meja makan. Bianca dan Wasti sudah menyiapkan makan malam.
__ADS_1