
Gavin pulang ke rumah dengan wajah lelah. sudah larut malam ia sampai di rumah, Fani sudah tertidur sementara Bianca masih membaca makalahnya. Gavin berjalan memeluk Bianca dan mengecup kening istrinya. Bianca membatu melepas dasi dan kemeja Gavin. ia menyiapkan air hangat di bathup untuk mandi Gavin. keduanya tidak bicara. Bianca mengerti pasti ada masalah di rumah sakit. ia tidak bertanya, menunggu Gavin yang bercerita padanya.
Gavin keluar kamar mandi, ia mengenakan kaos dan celana tidurnya.
"Kau tidak mau makan malam?".
"Aku sudah makan malam sayang".
"Apa ada masalah?".
Gavin merebahkan badannya di atas kasur.
"Operasi yang gagal". Bianca langsung mengerti. ia juga sorang dokter ia paham betul rasanya seperti apa.
"Beristirahatlah". Bianca menyelimuti Gavin. ia mematikan lampu kamar dan ikut berbaring di samping Gavin.
__ADS_1
***
Luna selesai mandi, ia menikmari segelas susu hangat dan madu. tubuh lelahnya lumayan terobati. ia duduk di meja makan seorang diri di apartemnnya. ia teringat hari ini di ruang operasi tadi. wajah Gabin yang berdebat, sedih, tenang semua terekam di ingatan Luna. Gabin Hend4awan memang dokter yang hebat. ia sering mendengar reputasi Gavin dari teman-temannya sesama dokter dulu. Luna menepuk wajahnya, ia tahu terlarang untuknya mencintai seseorang yang sudah menikah. Luna menghabiakan susu madunya dan beranjak pergi tidur.
Pagi tiba, Luna memutuskan untuk berolah raga ringan di dalam apartemennya. ia menikmati jus wortel di campur susu dan sedikit madu. ia bercermin memandang wajahnya. kemudian pergi mandi.
***
Gavin terlihat malas, ia masih bermain dengan Fani yang sudah memakai seragam sekolah. Bianca juga sudah siap mengantar Fani ke sekolah.
"Berangkat agak siang sayang, pagi ini tidak ada jadwal".
Bianca membawa Fani ke dalam mobil. setelah berpamitan pada Gavin keduanya melaju menuju sekolah Fani.
Ponsel Gavin berbunyi, panggilan telepon dari dokter Smith. ia malas mengangkatnya, Gavin membiarkan ponselnya berbunyi. nanti di rumah sakit ia akan bertemu dokter Smith dan mengajaknya bicara.
__ADS_1
"Was, ambilkan air putih". Tak berapa lama Wasti datang dengan segelas air putih di tangannya. Gavin menghabiskan airnya dan beranjak pergi mandi. Bianca sudah menyiapkan baju kerjanya kemeja biru muda dan celana hitam. Gavin bergegas ke kamar mandi.
***
Luna mematut diri di depan cermin. ia mengikat rapi rambutnya. selesai menghabiskan sarapannya Luna bergegas menuju mobi dan berangkat ke rumah sakit. ia ingin tahu apa Gavin berangkat atau tidak hari ini. karena kemarin dilihatnya wajah Gavin yang tidak seperti biasanya. lelaki itu terlihat marah dan memendamnya. bahkan Gavin pulang larut malam sepertiny. karena ketika ia pulang Gavin masih berada di ruangannya.
Luna memarkirkan mobilnya dan menyambar tas kerjanya. ia berjalan menuju ruangannya. beberapa perawat menyapanya dengan ramah. ia melirikbruangan kerja Gavin yang masih kosong. Luna masuk ke ruangannya dan meletakan tasnya. ia menui asistennya dan melihat daftar pasien hari itu.
***
Gavin berangkat dengan mobilnya. di jalan ia menghentikan mobilnya karena melihat seseorang yang ia kenal baru saja keluar dari mobil. Gavin menyalakan klakson sehingga orang itu memutar badannya ke arah mobil Gavin. Gavin bergegas turun dan menghampiri orang itu.
"Indra Biantor" Gavin mengulurkan tangannya pada lelaki itu.
"Gavin Hendrawan". Keduanya berjabat tangan sembari tertawa senang. Gavin dan Indra berteman sejak kuliah. hanha mereka berbeda jurusan. Gavin mengambil kedokteran dan Indra mengambil jurusan bisnis.
__ADS_1