
"Jadi Luna sudah menikah?". Tanya Bianca, Gavin mendengar semua cerita dari Beni.
"Apa Beni melihat suami Luna?".
"Iya Beni bilang pria itu mirip mafia, bahkan Beni di pukul olehnya sampai tulang hidungnya retak".
"Hah?, astaga benarkah?, apa Luna baik-baik saja Vin?".
"Ya dia baik-baik saja. Luna bilang agar aku menemui ayahnya dan mengatakan kalau ia baik-baik saja".
"Apapun yang terjadi padanya, aku ingin sekali bertemu dengan Luna. pasti ia sedang dalam situasi yang tidak menguntungkannya sampai ia berbuat seperti ini".
"Ku rasa pria itu penyebabnya".
"Apa Luna sempat mengenalkannya pada mu?".
"Tidak sayang, bahkan kami teman-teman dekat Luna juga tidak tahu kalau dia sedang dekat dengan seorang pria sejak...pertunangannya dengan Indra batal".
Gavin menyibak selimut, ia duduk bersandar. Bianca memeluk Gavin dan merebahkan kepalanya di dada Gavin.
"Jika Luna masuk kerja, sampaikan padanya aku ingin bertemu dengannya, aku cemas". Kata Bianca. Gavin mengecup bibir Bianca dan keduanya tertidur.
***
Luna mengurut kakinya yang terasa pegal. akhir-akhir ini ia merasa lelah sekali.
Athar yang baru saja masuk ke dalam kamar memandang Luna yang melamun sembari memijat kakinya. sepertinya Luna tidak sadar ada Athar di ruangan itu.
"Hey dokter apa yang membuat mu melamun?". Athar duduk di sudut sofa. ia mengangkat kaki Luna dan meletakan di pangkuannya.
Luna menatap tajam Athar yang memijat kakinya. ia merasa risih lalu menangkat kakinya dari pangkuan Athar dan menurunkannya.
Athar tersenyum menatap Luna. cahaya perapian yang berwarna ke emasan membuat wajah Luna terlihat indah dan menawan.
Athar menyibakan helaian rambut Luna di pipinya. Luna memalingkan wajahnya.
"Aku muak pada mu!". Kata Luna kesal.
__ADS_1
"Aku juga muak dengan mu dokter, kau tak bisa menyembuhkan penghianat itu. dan kau bahkan tidak pernah bersikap manis pada suami mu". Kata Athar mendekatkan duduknya pada Luna.
Dasar gila, apa saja yang sebenarnya ada di pikiran pria ini!.
"Apa kau mau mengabari ayah mu?". Luna langsung menoleh menatap wajah Athar yang memandangnya lekat.
"Benarkah, apa aku boleh menelpon ayah?".
"Tidak!". Athar terbahak. melihat reaksi Luna yang seperti ingin mengunyahnya bulat-bulat.
"Baiklah ku izinkan kau bertemu ayah mu besok". Luna masih terdiam.
"Aku bersungguh-sungguh".
"Benarkah Athar?, ku mohon jangan mempermainkan aku".
"Aku akan ikut bersama mu bertemu ayah mu". Luna menitikan air matanya. ia ingin sekali bertemu ayahnya dan menjelaskan semua yang terjadi agar ayahnya tidak cemas memikirkannya.
"Apa kau akan memberiku imbalan untuk ini?". Tanya Athar mendekatkan wajahnya pada wajah Luna.
"Jangan bermimpi!". Luna mennyingkir dan berbaring di kasur. sementara Athar tersenyum dan berbaring di sofa. ia menatap Luna yang langsung terlelap.
sepanjang perjalanan Luna terdiam menata pikirannya. ia menyiapkan penjelasan untuk ayahnya.
Athar memarkirkan mobilnya di depan rumah besar dengan pintu gerbang yang tinggi
Seorang pria paruh baya membuka pintu gerbang. Luna langsung berlari dan memeluk ayahnya sambil menangis. sementara Athar berdiri bersandar mobilnya.
"Luna, ayah cemas. kau baik-baik saja nak?".
"Iya ayah, maafkan aku".
"Luna, banyak yang ayah ingin bicarakan dengan mu".
Ayah Luna memandang Athar yang terdiam. ia terlihat mengenakan pakaian serba hitam celana jeans hitam, kemeja hitam dan jubah panjang selutut berwarna hitam. kaca mata hitam juga bertengger di atas hidung mancungnya.
"Kemarilah".
__ADS_1
Luna mengangguk, Ayah merangkul bahu Luna dan mengajaknya masuk. Athar mengikuti keduanya berjalan memasuki rumah.
"Kau tunggu lah dan nikmati minuman mu, aku akan bicara dengan puteri ku". Kata Ayah Luna. Athar menurut dan duduk di sofa ruang tamu. rumah itu terlihat indah dan Luas.
Kau di besarkan dengan kehidupan yang mapan dokter. kau beruntung sekali. apa yang tidak kau miliki?, wajah cantik, uang, dan orang-orang yang menyayangi mu.
"Luna sekarang ayah ingin tahu, apa kau masih ingin bersamanya?". Di tengah pembicaraan ayah Luna bertanya, karena puterinya tidak mau kembali ke rumah dan memilih ikut bersama Athar.
"Iya ayah aku ingin bersamanya".
Ayah dia mengancamku, jika aku tidak ikut dengannya ia bisa berbuat apa saja pada mu ayah dan pada teman-teman ku.
"Baiklah, ayah mengerti. biar bagaimana pun kalian menikah secara syah. kau tetap istrinya dan pria itu adalah suami mu".
Ayah merangkul Luna berjalan keluar menuju ruang tamu. Athar duduk diam disana. Luna ke dapur menyiapkan makanan bersama seorang pelayan.
"Pria muda, kau lebih dari dugaan ku Kau tampan dan berkarisma. puteri ku telah memilih tinggal bersama mu".
"Kau juga terlihat cerdas, aku tidak akan bertanya apapun tentang kehidupan mu karena aku tidak memikiki hak menanyakan itu. kau menikahi puteri ku dan membawa dia dari ku dengan cara berbeda".
Athar tertunduk, ia menyadari orang tua di hadapannya sungguh bijaksana. Athar merasa kembali ke masa kecilnya dan mengingat ayahnya yang telah tiada. ayahnya yang selalu menasehati tentang yang baik-baik.
Luna mendengarkan percakapan ayah nya dengan Athar. ia bersiap membawa nampan berisi camilan. langkahnya terhenti ketika mendengar ayahnya bertanya pada Athar.
"Apa kau mencintai Luna?". Luna berdebar, entah kenapa ia juga tertarik mendengar jawaban Athar meski itu hanya sandiwara.
"Aku mencintai puteri anda, lebih dari diri ku. sejak pertama aku melihatnya". Athar mengucapkannya tanpa ragu. Luna yang menatapnya hampir tidak percaya. pria itu pandai sekali bersandiwara. Athar melirik Luna sembari tersenyum.
Kau pasti mengira aku sendang membual dan bersandiwara pada ayah mu bukan?.
"Baiklah jika kau mencintainya, aku percaya kau akan menjaga Luna dengan baik". Athar mengangguk.
Selesai makan Athar dan Luna kembali pulang ke vila Athar. Luna berpamitan pada ayahnya. ia memeluk ayahnya penuh haru. Di perjalanan pulang Luna terdiam, ia memejamkan matanya dan sama sekali tidak mengajak Athar berbicara. Luna bergegas menuju kamar begitu mereka sampai di vila Athar. Luna merebahkan dirinya di kasur dan melanjutkan tangisnya. hatinya terasa sakit mengenang pembicaraannya dengan ayahnya. tapi ia juga tidak bisa kembali. ia tahu orang seperti apa Athar. ia akan melakukan apa yang ia ucapkan.
Athar duduk di pinggiran kasur di samping Luna yang terbaring.
"Tenanglah, jangan menangis". Athar memegang bahu Luna. Luna terbangun dan menatap tajam Athar.
__ADS_1
"Kau puas sekarang!, Athar kau puas sekarang?!". Luna memukul bahu Athar karena kesal. Athar hanya terdiam membiarkan Luna melampiaskan kesalnya. Luna terisak dan kepalanya menunduk di dada Athar. Athar mengelus rambut Luna mencoba menenangkannya.