
"Ayolah Iva kita perlu bicara" Gerald terus mengejar Ivana hingga ke loby rumah sakit.
"Apa lagi Ger?" Ivana mencoba melepas pegangan tangan Gerald di lengannya.
"Sebentar saja" rengek Gerald. dan di saat yang bersamaan Alan terlihat tiba di loby rumah sakit. Ia melihat pemandangan yang membuat moodnya buruk.
Alan menatap tajam ke arah Gerald dan Ivana. bahkan Alan juga melihat Gerald sedang memegang tangan Ivana.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" Suara Alan mengejutkan Ivana terutama Gerald. ia melepas pegangan tangannya di lengan Ivana.
"Kak Alan" Gerald terlihat gugup.
"Sayang sekali kalian ketahuan oleh ku, sudah mulai berani ya bermesraan di depan umum?" Alan melirik Ivana.
Ivana hanya bisa terdiam, ia menahan tangisnya. Ivana melangkah pergi menuju ruang kerjanya. ia menangis disana, setelah ini pasti Alan akan semakin membenci dirinya.
"Dokter Ivana anda di panggil ke ruang perawatan oleh dokter Kief"
Ivana menghapus air matanya dan melangkah menuju ruang perawatan yang tunjuk oleh perawat tadi.
"Hai Ivana bisakah kau membantuku?" Di ruangan itu ada Alan yang tengah duduk dan bersiap mengganti perban untuk luka kecelakaannya kemarin.
Ivana masih terdiam, ia bahkan canggung dan tidak berani menatap Alan.
"Tolong gantikaan perban untuk dokter Alan, aku ada meeting dengaan dokter spesialis dalam"
__ADS_1
"Tapi...kenapa harus saya?" Dokter Kief sepertinya sengaja mempertemukan Alan dan Ivana.
Tidak ada pilihan ini termasuk perintah atasan. Ivana menurut saja ia mendekati Alan yang duduk diam. Alan sudah melepas kemejanya rupanya ada luka di bagian dada sebelah kanan.
"Pergilah" kata Alan dingin.
"Tapi aku harus mengganti perban di luka mu dokter"
"Aku tidak Sudi di sentuh oleh pelakor seperti dirimu!"
Ivana memandang Alan dengan tatapan tak percaya. Ia menahan tangisnya hatinya begitu sakit mendengar kemarahan Alan padanya.
Ivana meletakkan kembali perban itu dan berlari pergi meninggalkan ruang perawatan dan Alan sendiri disana.
Tapi kejadian tadi pagi di loby membuat darah Alan mendidih. Di depan mata kepalanya ia melihat Gerald sedang merayu Ivana.
Ivana telah selesai bekerja sebelum sore tiba. Jam prakteknya di rumah sakit hanya sampai jam dua siang. Ivana berjalan sembari melamunkan keinginannya. Ia bercita-cita membuka praktek sendiri suatu hari nanti jika ia telah mampu membeli rumah.
Bugh!
Ivana terkejut ia menabrak seseorang. Ia tadi memang sedang melamun saat berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju loby keluar.
Ivana mendongakkan wajahnya, Alan memandangnya dengan tatapan yang sama seperti tadi pagi.
"Maaf ..." Kata Ivana. Ia bergegas pergi tanpa melihat pria itu lagi.
__ADS_1
Entah kenapa Ivana merasa sakit hati ketika Alan menuduhnya sebagai pelakor. ia ingin meyakinkan Alan agar tidak lagi mencap dirinya sebagai wanita perebut suami orang. Tapi sepertinya Ivana tak punya kesempatan karena Alan pasti tidak akan mendengarkan penjelasan darinya.
***
Dinda menyerahkan sebuah undangan pesta pada Ivana.
"Apa ini?"
"Undangan" jawab Dinda asal.
Ivana membaca undangan itu dan menggeletakkannya di meja begitu saja. Ia menyibakkan selimut dan mulai berbaring di ranjang.
"Apa ada masalah?" Tanya Dinda cemas.
Ivana hanya terdiam, wajahnya terlihat murung.
"Kenapa? Apa Gerald mengganggu mu lagi?"
Ivana menggelengkan kepalanya, air matanya mengalir mengiringi rasa kelu di dalam hatinya.
Kenapa di benci olehnya bisa terasa menyakitkan sekali? padahal kami tidak saling mengenal, tidak juga dekat. Bukan teman apalagi sahabat. Tapi kenapa aku bisa se remuk ini melihat tatapan matanya yang terlihat begitu membenciku?
"Baiklah jika kau belum mau bercerita, aku ke kamar ku dulu" Dinda meninggalkan Ivana sendiri ia menutup pintu kamar Ivana dan berjalan menuju kamarnya.
Dinda tahu besok pasti Ivana mau bercerita jika hatinya sudah lega.
__ADS_1