
Gavin dan Fani sampai di rumah, Bianca menyambut di depan pintu.
"Mama tadi seru sekali Fani ada banyak teman" Kata Fani begitu turun dari mobil ayahnya. ia berlari menghampiri Bianca sembari menenteng mainanya.
"Fani senang ya?.
Fani mengangguk. Gavin mengecup pipi Bianca dan merangkul pinggangnya sembari berjalan masuk kedalam rumah. Wasti sudah menyiapakn air mandi Fani.
"Sekarang Fani mandi dulu ya". Bianca melepas kaos Fani. anak itu mandi dengan Wasti. sementara Bianca menyiapkan minuman untuk Gavin.
"Tadi Gio kemari".
"Mau apa dia".
"Mungkin ada urusan penting, coba kau telpon dia".
"Nanti aku akan menelponnya".
"Bagaimana tadi di yayasan?" Bianca meletakkan cangkir minuman di meja. ia duduk di samping Gavin yang sibuk memeriksa file kesehatan anak-anak yayasan.
"Ada perkembangan bagus dengan kesehatan anak-anak itu". Gavin meletakkan filenya dan meminum tehnya.
__ADS_1
"Tehnya enak sekali, rasanya tidak seperti biasanya. lebih segar".
"Itu teh herbal, aku baru membelinya".
Gavin menyesap kembali tehnya. ia melangkah menuju kamar mandi dan membersihkan diri.
Bianca menyiapkan makan malam di bantu Wasti. Fani sedang asyik dengan maianannya. di luar terdengan suara mesin mobil.
"Coba lihat siapa yang datang Was". Wasti berjalan membuka pintu. Ada Gio di luar ia baru saja keluar dari mobilnya.
"Ada tuan Gio buk".
"Kamu teruskan ya". Bianca berjalan menghampiri Gio di ruang tamu.
"Baik, kau mau bertemu kakak mu?".
"Benar, tadi siang aku kemari tapi rumah sepi".
Gavin muncul berjalan menuju ruang tamu. ia baru saja selesai mandi.
"Duduk lah". Gavin mempersilahkan Gio untuk duduk, Bianca kembali ke meja makan memeriksa makan malam dan mengambil satu piring tambahan untuk Gio.
__ADS_1
"Ada apa?".
"Aku mau meminta tanda tangan untuk berkas tanah ayah yang akan didirikan proyek baru".
"Jadi ayah membuka proyek baru?".
Gio emngangguk.
"Gi makan malam disini sekalian ya". Bianca mengajak Gavin dan Gio ke meja makan. Gio duduk dan menikmati makan malam sembari bercengkrama dengan Fani. sudah lama ia tidak makan bersama Gavin. Gio merasa senang sekarang bisa dekat dengan keluarga kakaknya. ia tidak merasa kesepian lagi.
***
Indra mengantar Adelia ke rumah. ia menggenggam tangan Adelia seolah takut kehilangan gadis itu. Adelia hanya diam mengamati Indra yang tidak seperti biasanya.
"Kau mau masuk dulu?".
"Tidak perlu sudah malam beristirahatlah".
Adelia mengangguk, ia memandang Indra yang masuk kembali ke dalam mobilnya. setelah mobil Indra tak terlihat lagi Adelia masuk ke dalam rumah.
Di perjalanan Indra lebih banyak diam. wajahnya terlihat sedih ia mengingat perkataan ayahnya. Bima juga diam ia tidak berani membuka suara. suasana hati Indra sedang kacau, ia pasti sedang terpikir pembicaraanya dengan ayahnya.
__ADS_1
Bima memarkir mobilnya di pelataran rumah Indra. ia mengikuti Indra masuk kedalam rumah dan membawakan jasnya. seorang pelayan dengan sigap menerima jas yang di berika oleh Bima. Bima berjalan menuju ruang kerja Indra meletakan laptop disana. sementara Indra sudah masuk ke kamarnya. ia merebahkan diri di atas kasurnya. teringat Adelia pernah tertidur disana saat pingsan. Indra mencari sisa aroma Adelia disana. ia mencintai gadis itu. tapi ia tidak ingin Adelia mendapat banyak masalah karenanya. Indra tahu ayahnya tidak akan membiarkan begitu saja hubungannya dengan Adelia.