
Indra menghadap ayahnya dengan wajah datar. ia tahu maksut ayahnya memanggilnya datang. ayahnya ingin Indra makan siang dengan seseorang, yang jelas adalah seorang gadis yang di pilihkan ayahnya untuk dekat dengannya. gadis itu adalah Luna. siang itu Luna terlihat cantik seperti biasanya. ia mengenakan celana kain panjang berwarna hitam dan atasan berwarna biru muda membuatnya terlihat menawan. ia mengenakan aksesoris kalung dan gelang yang mempercantik penampilannya. Indra duduk di meja makan tadi ia sempat menyapa Luna. ayahnya mengobrol dengan Luna di sela-sela makan siang. Indra hanya sibuk dengan makanannya dan tidak berniat mengikuti obrolan itu.
"Indra kamu tahu ayah Luna seorang diplomat dan ia tinggal di luar negeri".
"Bagus kalau begitu". Jawab Indra sekenanya. Luna sedikit kecewa dengan reaksi Indra barusan.
"Luna juga bekerja di rumah sakit ayah, rumah sakit kelas satu". Kata tuan Biantoro dengan bangga. karena hanya dokter yang benar-benar lulus tes yang bisa di terima disana.
"Kalau ayah bangga dengan rumah sakit kelas satu lalu untuk apa ayah membangun yang kelas dua". Indra meletakan kembali gelas minumannya. terlihat wajah ayahnya geram dengan perlakuan Indra.
"Bima siapkan mobil". Indra memberi perintah pada Bima yang sedari tadi mematung di belakang kursi Indra.
"Ayah, Luna aku sudah selesai makan siang dan ada meeting penting. jadi aku pergi dulu".
"Indra". Tuan Biantoro berdiri dari kursinya. ia melangkah mengajak indra bicara sebentar. sementara Luna di temani Mila yang muncul dari kamarnya.
__ADS_1
"Jika kau tidak mau gadis itu kesusahan berhenti mendekatinya".
Indra hanya terdiam dan melangkah pergi. Bima sudah siap dengan mobilnya. ia membuka kan pintu mobil untuk Indra dan menutup kembali. Bima terlihat duduk di belakang kemudi. sementara Indra diam seribu bahasa di kursi belakang.
Lagi-lagi tuan besar mengacaukan mood tuan muda.
Bagi Bima tidak penting siapa yang tuannya dekati, mau Adelia atau Luna kedua sama-sama dokter dan sama-sama terlihat menyenangkan. hanya saja yang membuat hati Indra selalu senang dan kekanakan hanya Adelia. Luna tidak mendapat tempat di hati Indra.
"Bim apa hari ini Adelia masuk kerja?".
"Baiklah nanti antarkan aku ke rumahnya".
"Baik tuan".
Bima membelokan mobilnya di area pakir di kantor. mobil Indra memang mendapat tempat parkir khusus karena ia pimpinan di perusahaan itu.
__ADS_1
***
Adelia bergegas pulang, ia hanya ada sedikit pasien hari itu. Adelia menuju mobilnya dan meluncur pulang ke rumahnya. ia tadi sempat mampir ke swalayan dan memebeli beberapa bahan makanan. ia terkejut sesampainya di rumah Indra sudah berdiri di halamannya.
"Bagaimana kau masuk kemari?".
"Aku melompati pagar rumah mu".
"Benarkah?". Adelia tidak habis pikir dengan lelaki itu. ia mengajak Indra masuk ke dalam rumahnya. Adelia mengeluarkan belanjaannya di dapur. sementara Indra duduk di sofa tengah. dari sana bisa terlihat semua aktivitas Adelia di dapur. Adelia membawa dua cangkir latte untuknya dan Indra.
"Ada masalah?, kenapa kau terlihat murung?"
Adelia memandang wajah tampan Indra. lelaki itu terlihat murung tidak seceria biasanya.
"Aku hanya rindu pada mu". Indra mengubah posisi duduknya yang tadi selonjoran menjadi duduk dengan sopan menghadap Adelia.
__ADS_1
"Apa boleh aku dapat pelukan persahabatan mu sekali saja". Indra memohon. Adelia terdiam ia ragu dan menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi pada Indra. Adelia berdiri dari duduknya berjalan mendekati Indra dan memeluknya.