
Alan mendapat perawatan di rumah sakit miliknya. Beberapa perban terlihat di kening, lengan dan dada luka itu timbul akibat tergores pecahan kaca mobil. Wajah tampannya terlihat lecet dan lebam.
"Kak...." Mery memeluk Alan yang terduduk di atas ranjangnya menerima perawatan dari suster.
"Kakak tidak apa-apa Mery" Alan mengusap rambut adiknya yang terlihat cemas itu.
"Sayang..." seorang wanita cantik menghampiri Alan dan Mery. Dia adalah Thea tunangan Alan.
"Sayang kamu baik-baik saja kan? nggak ada luka yang parah kan?"
Alan hanya terdiam melihat kehebohan Thea. wanita itu menggenggam tangan Alan.
Thea dan Mery ini cukup akrab, mereka satu frekuensi dan sering bergosip bersama. Thea juga pencemburu dan overprotektif seperti Mery.
Alan memandang ke arah pintu ruang perawatan yang terbuka. Ia menatap pantulan bayangan disana. Berarti ada seseorang yang berdiri di dekat pintu.
Alan mengerutkan keningnya, mencoba menebak siapa di luar sana. Tidak mungkin perawat berdiri disana selama itu.
Alan terus menatap ke arah pintu hingga seseorang melintas berjalan dengan perlahan. ya dia adalah Ivana.
Senyum mengembang di bibir Alan, ia masih tidak habis pikir baru tadi ia marah pada Ivana dan memakinya sebagai pelakor. Ivana datang ke rumah sakit malam-malam pasti karena mendengar berita kecelakaan Alan.
Ivana...Ivana...Ivana..
Alan menyebut nama Ivana dalam hatinya sembari menyunggingkan sedikit senyum.
__ADS_1
"Sayang ada apa?".Thea terlihat bingung karena Alan menatap ke arah pintu sedari tadi.
"Tidak, aku hanya ingin pulang"
"Ayo aku antar kamu pulang"
"Aku akan pulang dengan Mery, kau pulanglah duluan"
"Tapi sayang aku cemas sama keadaan kamu"
"Sudah lihat bukan aku tidak apa-apa, jadi pulanglah"
Thea cemberut dan kesal, selama ini Alan selalu bersikap kaku padanya meski mereka sudah bertunangan. Lelaki itu seperti tak bergairah padanya.
"Apa kurangnya aku coba? aku cantik, badan ku bagus, aku kaya, berpendidikan...kurang apa lagi?!" gumam Thea sembari berjalan cepat keluar rumah sakit.
"Ada apa kak? apa ada yang sakit?"
"Tidak, hanya sedikit mengantuk saja"
Mery melakukan mobilnya menuju rumah Alan. Ia memapah kakaknya begitu tiba di rumah.
"Sudah Mer, terimakasih kakak sudah baikan kamu pulang dan istirahat lah"
"Kalau ada apa-apa telepon ya" kata Mery masih terlihat cemas.
__ADS_1
"Hmm"
***
Ivana lega melihat pria galak itu tidak terluka parah. Setidaknya ia tidak merasa begitu bersalah karena pasti Alan tadi terlalu marah padanya sehingga tidak fokus mengemudi dan akhirnya kecelakaan.
Ivana berjalan menuju kamarnya, ia membersihkan diri dan langsung menjatuhkan dirinya di atas kasur. badan dan pikirannya cukup lelah padahal besok ia ada praktek.
Ponsel Ivana berdering ada panggilan telepon dan beberapa kali bunyi pesan singkat. Tapi Ivana sudah tak menggubris ponselnya, ia tidak sanggup untuk meladeni bicara siapapun yang menelponnya.
Pagi harinya Ivana terbangun ia terkejut dan langsung melihat jam di atas meja di samping tempat tidurnya.
"Aku kesiangan!" Ivana bergegas ke kamar mandi. Selesai mandi ia menyambar stelan yang akan ia pakai bekerja. Kemeja biru muda dan celana panjang berwarna putih.
Ivana mengikat rambut panjangnya yang bergelombang. Ia lalu memasukan ponselnya ke dalam tas.
Dinda rupanya juga sudah berangkat, Ivana memutuskan sarapan nanti saja lebih baik berangkat ke rumah sakit dulu.
Ia memesan taxi online tapi belum juga tiba. Akhirnya Ivana memilih berjalan kaki ke halte bus.
Sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti di depan halte. Seseorang membuka kaca mobil dan Ivana tahu siapa pengemudinya.
"Iva ayo masuk"
Dengan canggung Ivana menolak, ia lebih baik naik bus daripada satu mobil dengan Gerald dan menimbulkan fitnah lagi.
__ADS_1
"