
Helena bangun pagi seperti biasanya. Sebelum matahari terbit ia sudah siap dengan kostum larinya. Tak lupa topi Nike berwarna hitam menghias di kepalanya.
Helena mengenakan jam tangan, celana pendek dan tangtop hitam. Ia bergegas menyusuri jalanan yang sudah ia hafal di luar kepala karena setiap pagi ia lalui untuk joging.
Setelah cukup jauh berlari, Helena kembali ke rumah dinasnya. Ia menuju dapur dan meraih ketel untuk menyeduh kopi latte kesukaannya.
Helena mencoba beberapa kali memutar kran air tapi tidak ada setetes pun air keluar dari pipa itu.
"Bagaimana ini, oh apa aku telepon tuan Felix saja"
Helena meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja makan. Ia segera menekan nomor ponsel tuan Felix.
"Halo tuan Felix, apa aku mengganggumu?"
"Tidak dokter cantik ada apa kau menelpon sepagi ini?"
"Tuan, pipa air di rumahku sepertinya bermasalah. Air tidak bisa mengalir sama sekali. Aku membutuhkan bantuanmu tuan Felix"
"Malang sekali, baiklah kau tunggu sebentar akan ku kirim seseorang kesana karena kalau soal pipa aku kurang paham"
"Baiklah terimakasih tuan Felix, jaga kesehatanmu ya"
"Baik dokter, nanti kabari aku jika sudah beres semua"
"Baiklah"
Helena duduk di ruang tamu menunggu tukang ledeng yang akan dikirim tuan Felix untuknya. Bel pintu berbunyi, Helena bergegas membuka pintu dan ia terkejut.
Adam berdiri di depan pintu rumah Helena dengan senyum menawannya. Pria itu mengenakan celana jens belel dan kaos berwarna hitam.
"Kau...?"
"Iya aku" balas Adam menggoda Helena sembari memasang senyum hensemnya.
__ADS_1
"Mau apa kau disini?"
"Ahaa tuan Felix meminta bantuanku untuk membenarkan pipa air yang bermasalah di rumahmu Helen"
"Apa Helen? sejak kapan aku mengizinkanmu memanggilku seperti itu?"
"Sejak barusan" Adam tertawa melihat ekspresi wajah Helena yang kesal.
Helena akhirnya mempersilahkan Adam masuk ke dalam rumah untuk memeriksa pipa air yang macet. Adam terlihat lihai mengutak Atik pipa air itu.
Helena berdiri bersandar tembok sambil menatap Adam yang sibuk bekerja.
"Coba putar kran airnya"
Helena melangkah memutar kran air di atas wastafel. Dan fuiiillaa...air mengalir dengan lancarnya.
"Bagaimana, apa aku boleh ikut Sarpan disini?"
"Akan ku anggap itu sebagai tanda terimakasih darimu"
Dasar pria ini, tidak tahu malu!
"Baiklah mungkin kau akan kapok sarapan disini" kata Helena dengan malas.
"Tidak masalah, biar aku yang memasak untukmu"
"Kau bisa masak?"
"Hei aku pria mandiri dan modern aku bisa melakukan semua hal sendiri"
Adam membuka lemari es di dapur dan ia terbelalak. Lemari es itu hampir tidak ada isinya hanya dua butir apel, susu diet dan satu bungkus mie instan pedas.
"Hei kau makan ini?" tanya Adam memandang Helena tidak percaya. Helena terdiam mencoba menghindari pandangan Adam yang seolah mengkritik dan menelanjangi pola makannya yang tidak sehat.
__ADS_1
"Kau seorang dokter kenapa kau bisa memakan makanan seperti ini? kau bekerja keras untuk pasienmu tapi kau sendiri......lihatlah"
"Kau makan saja diluar aku sudah bilang bahwa kau akan kapok sarapan denganku"
"Baik, tunggulah sebentar aku akan kembali"
Adam melangkah pergi dengan mobilnya entah kemana. Helena tidak menghiraukannya. Ia memanaskan air di ketel.
Tidak berapa lama Adam kembali ke rumah Helena dengan kantung belanjaan. Ia membeli papikra, tomat segar, bahan setengah jadi pizza dan daun basil. Adam juga membeli wortel, lobak dan kacang polong.
Adam memberi topping pada pizza dan memanggangnya. Ia lalu memotong sayuran dengan gerakan cepat dan terlihat ahli, lalu ia membuat sup hangat dari sayuran tadi.
Sementara Helena takjub melihat gerakan gesit Adam di dapur. Pria itu memang terlihat memiliki keahlian.
"Ayo kita makan" Adam meraih lengan Helena dan mempersilahkannya duduk. Keduanya menikmati Sarpan di meja makan.
Helena terkesima karena masakan Adam sungguh enak. Sejak pindah ke kota kecil itu baru pagi ini Helena merasakan masakan yang sungguh enak.
Sebelum pulang Adam menasehati Helena agar memperhatikan pola makannya.
"Dengar Helen kau seorang dokter jadi kau harus memperhatikan dirimu, juga semua pasien-pasienmu"
"Apa aku harus mendengar mu?"
"Tentu saja Helen, kenapa tidak?"
"Kau bukan dokter"
"Oh jadi kau hanya mau mendengarkan ku jika aku seorang dokter sepertimu?"
Helena terdiam, ia kesal dengan pria sok tahu di hadapannya itu.
"Baiklah Helen, aku pergi dulu"
__ADS_1