
Gavin menyempatkan bermain dengan Fani sebelum berangkat kerja. ia melihat Bianca sibuk di dapur bersama Wasti.
"Papa tuan beruang sakit". Kata Fani sambil menunjukan boneka beruang mainannya yang robek di bagian telinga.
"Coba sini papa periksa dulu". Gavin pura-pura memeriksa boneka beruang milik Fani.
"Tuan beruang harus di periksa oleh mama Bianca jadi Fani bawa ke mama nanti ya".
"Iya pa".
Bianca datang membawa baju Gavin yang baru selesai di setrika.
"Mama tuan beruang sakit". Fani memberikan bonekanya pada Bianca untuk di periksa.
"Mana coba mama periksa, oh ini harus di jahit lukanya". Bianca membawa boneka beruang itu ke kamar dan menjahitnya. setelah selesai ia berikan kembali pada Fani.
"Fani tuan beruang sudah sembuh jadi bisa bermain lagi".
"Makasih mama". Kata Fani sambil membawa lagi boneka beruangnya.
Sementara Gavin di kamar sedang mengganti bajunya. Gavin tengah siap-siap untuk berangkat kerja.
***
Adelia mencari Indra di rumahnya pagi-pagi sebelum Indra berangkat bekerja. ia menemui Bima di pelataran rumah.
"Tuan Bima ada yang mau aku tanyakan".
__ADS_1
"Silahkan nona".
"Apa Indra, maksutku tuan indra adalah anak dari ketua yayasan dimana aku bekerja?".
Bima sedikit mengerutkan keningnya. ia cukup terheran kenapa Adelia menanyakan itu.
"Benar nona".
Adelia terlihat diam. ia harus menuruti perkataan dokter Smith yang menyuruhnya jangan terlalu dekat dengan Indra apalagi berani menariknya kedalam masalah seperti kemarin.
"Ya sudah aku hanya ingin tahu soal itu, aku permisi pulanh dulu".
"Tunggu nona, apa anda tidak menemui tuan indra".
"Tidak perlu aku hanya mau bertanya hal tadi".
"Kau datanh kemari untuk menemui Bima?".
Adelia terlihat bingung. ia hanya tersenyum dan otu malah semakin membuat Indra gemas. Indra menarik lengan Adelia.
"Ikut dengan ku, kita makan pagi bersama".
"Tapi tuan indra saya harus pergi bekerja".
"Sebentar saja, lagi pula kau kan ada jadwal siang. aku sudah hafal dengan jam kerja mu". Kata Indra menyeringai. tak ada pilihan, Adelia mengikuti kemauan Indra. ia berjalan masuk ke dalam rah dan menuju meja makan.
***
__ADS_1
Bianca sampai di ruang kerjanya. hari ini ia masuk pagi di rumah sakit yang sama tempat Adelia bekerja. Bianca memeriksa pasiennya, hari itu cukup padat antrian pasien cukup panjang. Bianca melirik jam tangannya, ia menelpon ke ruang kerja Adelia ternyata ia belum berangkat.
***
Indra mengantar Adelia ke tempat kerjanya. Adelia duduk di kursi belakang bersama Indra. ia terlihat canggung begitu tahu siapa Indra.
"Kenapa kau terlihat tak nyaman?". Indra tersenyum memandang Adelia.
"Tuan aku tidak jadi berteman dengan mu, maaf ya".
Indra nampak terkejut begitu juga Bima yang duduk di depan sedang mengemudi. ia melirik Adelia melalui kaca spion.
"Kenapa begitu?".
"Aku tidak ingin melibatkan mu dalam banyak masalah, kau adalah anak dari pemilik yayasan di mana aku bekerja. aku tidak mau kau terkena masalah karena dejat dengan orang seperti ku". Adelia menundukan pandangannya.
"Orang seperti mu?". Indra terdiam, lalu ia tertawa dan mengelus rambut Adelia. Adelia cukup kaget dengan hal itu. Bima sudah mulai terbiasa dengan tingkah mengejutan yang di berikan Indra.
"Aku mau kita tetap berteman, sudahlah jangan perdulikan apapun".
Adelia terdiam. ia bingung harus bagaimana menjelaskan pada Indra.
"Kalau kau berbicara soal masalah dan bahaya, aku dan Bima sudah bersahabat dengan kedua hal itu sebelum aku mengenal mu. bukankah begitu Bim?'.
"Benar tuan".
Adelia nampak lega. setidaknya kedua orang itu memang tulus padanya. sejujurnya selain Gavin dan Bianca ia tak memiliki teman akrab yang seperti saudara. Adelia memandang Indra dan mengangguk yakin. Indra memegang bahu Adelia seperti sedang memberikan semangat pada gadis itu.
__ADS_1
"Nanti siang Bima akan menjemput mu. aku ingin makan siang bersama mu". Indra mengatakan sebelum Adelia turun dari mobilnya. gadis itu mengangguk dan tersenyum . setelah menurunkan Adelia, Bima meneruskan laju mobilnya menuju kantor Indra.