
Luna terbaring di ranjang rumah sakit. Bianca sedang memeriksa keadaan Luna dan janinnya.
"Kenapa ini bisa terjadi?, ini berbahaya Athar".
"Apa terjadi sesuatu padanya?".
"Untung sekali tidak sampai fatal. karena kau segera membawanya ke mari jadi Luna dan janinnya baik-baik saja".
"Aku akan memberikannya vitamin dan penguat kandungan". Bianca menepuk bahu Athar dan berjalan keluar kamar perawatan Luna.
Athar duduk di samping ranjang tempat Luna terbaring. ia menggenggam tangan Luna.
Athar membawa Luna pulang di perjalanan Luna tertidur karena merasa lelah.
Sesampainya di rumah, Athar segera menarik Yaslin ke ruang kerjanya.
"Kakak maaf". Kata Yaslin sambil menangis.
"Kau tahu dia sedang hamil kenapa kau tega melakukan itu padanya Yaslin?!, jika terjadi sesuatu pada Luna atau bayinya kupastikan kau akan menyesal!".
"Kakak maafkan aku". Yaslin menangis memegang kaki kanan Athar.
Athar sebenarnya tidak tega pada Yaslin tapi kali ini ia sudah keterlaluan karena membahayakan Luna.
Athar kembali ke kamarnya ia memeluk Luna yang duduk bersandar di sofa.
"Kau marah pada Yaslin?". Tanya Luna mendongakkan wajahnya menatap Athar. Luna menyentuh lembut wajah Athar.
"Dia sudah keterlaluan pada mu". Kata Athar marah.
__ADS_1
"Ku rasa aku hanya perlu sedikit bicara dengannya".
Athar terdiam, ia lalu mengangkat tubuh Luna dan memindahkannya ke atas kasur.
"Beristirahatlah dokter".
"Apa kau mau pergi lagi?".
Athar mengenakan jaketnya dan memeriksa ponselnya.
"Aku ada urusan sebentar, kau tidur lah duluan aku akan cepat kembali". Athar mengecup bibir Luna lalu beranjak pergi.
Josh dan Tom sudah menunggu Athar di kediaman Josh. mereka merencanakan sesuatu. Athar memejamkan matanya, wajahnya terlihat bimbang.
"Aku sudah tidak bisa ikut dengan mu". Kata Athar. Josh dan Tom terkejut mendengarnya.
"Aoa sejauh ini dokter itu mempengaruhi hidup mu?!". Tanya Josh marah.
Athar menyerahkan sebuah senapan yang biasa ia bawa kepada Josh. Tom berusaha menghalangi Athar untuk pergi tapi Josh melarangnya.
"Jika menghadapinya kau harus pakai cara cerdas". Kata Josh sambil tersenyum licik.
Athar sampai di rumah ia melihat Luna dan Yaslin sedang berdua di ruang tengah. ia mendengarkan percakapan Luna dengan yaslin.
"Aku minta maaf pada mu dokter". Kata Yaslin.
"Tidak apa Yaslin, aku memahami sikap mu".
Athar berjalan menuju kamarnya, ia duduk di sofa sembari memainkan ponselnya. Luna menyusul masuk.
__ADS_1
"Sayang aku sudah bicara pada Yaslin".
"Aku tahu". Kata Athar memeluk Luna yang merebahkan kepala di bahunya.
"Kau sudah makan?". Tanya Athar
"Belum".
"Kau ingin makan sesuatu?".
"Aku mau omlet daging dan sedikit sayur".
"Baiklah ayo kita buat".
Athar dan Luna berada di dapur. Athar sedang mencincang daging dan sayuran sementara Luna membuat saus nya. Athar cukup pandai memasak. meski ia terlihat kaku dan kasar tapi sebenarnya ia memiliki hangat dan penyayang.
Masakan sudah matang Athar dan Luna menikmati makanannya di dapur sambil minum teh camomile.
"Besok aku ingin mampir ke rumah ayah". Kata Luna.
"Tentu, aku akan mengantar mu".
"Kau bilang ada pekerjaan dengan Amar?".
"Aku bisa memintanya menunggu".
"Tidak, kau pergi dengan Amar dan aku akan ke rumah ayah".
"Baiklah dokter".
__ADS_1
Luna menecup bibir Athar gemas. ia mengacak rambut suaminya yang selalu tertata rapi itu. ia tidak tahu kapan suaminya itu terlihat jelek.