
Gavin mengambil Fani dari rumah Bianca. ia menggendong Fani yang sudah tertidur untuk masuk ke dalam mobinya.
"Minggu depan ada syukuran, datanglah dan bawa Fani kemari". Gavin tahu syukuran itu karena kelulusan Bianca dan ia menerima beasiswa ke Paris.
"Aku tidak janji". Gavin memasuki mobilnya dan bergegas pergi. Bianca mengamati mobil itu sampai menghilang di telan jalan.
Hari yang di nanti Bianca tiba. di rumahnya sudah ramai teman-temannya yang akan melepas kepergiannya ke Paris. Bianca menyuap beberapa sendok makanan. dari pagi ia belum makan. Bianca kembali berguarau dengan teman-temannya.
"Bian ada telpon". Suara ibu membuyarkan obrolannya.
"Halo,".
"Fani sakit". Suara Gavin terdengar sedih di telpon.
"Sakit apa?".
"Demam dan alergi, ia ingin bertemu dengan mu Bian".
"Tapi besok aku akan pergi pagi-pagi sekali
__ADS_1
pesawat ku akan terbang jam enam pagi".
"Ayolah Bian, Fani sakit".
"Baiklah aku akan datang sekarang".
Bianca meninggalkan pesata syukurannya dan bergegas ke rumah Gavin. sampai disana Fani tertidur di kamar anak itu mengigau memanggil mamanya.
"mama...mama....".
"Iya Fani ini mama". Bianca memegangi tangan Fani berjam-jam. Gavin menyuruhnya istirahat di kamar. Bianca berjalan lelah memasuki kamar Gavin. saat membuka pintu, ia terkejut melihat lukisan dirinya terpampang di dinding kamar Gavin. di bawah lukisan wajah itu tertulis sebuah kata yang menyayat hati Bianca.
Bianca meneteskan air matanya. ia tahu itu hasil lukisan Gavin. Gavin memang pandai melukis.
"Maaf jika hasil lukisan tak sebagus aslinya". Gavin berdiri di belakang Bianca.
"Vin kenapa kau melakukan ini pada ku?". Bianca bimbang atas perasaabnya sendiri. esok hari ia akan pergi ke Paris bertemu Nico kekasihnya dulu. tapi disini ada seorang lelaki yang mencintainya dan seorang anak yang mengharap keberadaannya. Bianca menangis memeluk Gavin.
"Istirahatlah kau lelah". Kata Gavin pelan. menuntun Bianca ke atas tempat tidur.
__ADS_1
"Aku akan menjaga Fani". Gavin berjalan menuju kamsr Fani.
Pagi tiba. Fani sudah turun demamnya. ia mencari Bianca di kamar papanya.
"Mama!". Fani kegirangan dan memeluk ibunya. Bianca terbangun dan mencium Fani.
"Mama jangan pergi ma, mama tinggal sama kita". Fani merengek agar ibunya tidak pergi.
"Benar Bian. tinggalah bersama kami. kami tak bisa tanpa mu". Mata Gavin memereh. ia membayangkan Bianca meninggalkan dirinya dan Fani. meski pernikahan mereka tak sewajar pernikahan lainya tapi ia sangat mencintai Bianca.
"Ku mohon Bianca, tinggalah bersama kami. kita mulai hidup yang baru". Kata Gavin.
Bianca terdiam. untuk kedua kalinya ia akan mengecewakan Nicolas yang juga mencintainya. tapi ia juga tak bisa meninggalkan Gavin dan Fani. kalau ia nekat pergi belum tentu ia akan tenang dan tidak memikirkan Gavin dan Fani.
"Baiklah mama aka tinggal bersama kalian". Gavin segera memeluk Bianca. ia mengecup kening Bianca. ketiga nya berpelukan terlihat kebahagaiaan diantata mereka.
***
Bianca mulai tinggal bersama Gavin dan Fani di rumah yang di beli Gavin. rumah yang luas dan besar. Bianca tidak tahu berapa yang Gavin alokasikan untuk rumah itu. Bianca mulai menata ulang interiornya. menambahkan beberapa hiasan dan mengganti sofa lama dengan yang baru. rumah besar itu kini terlihat terawa. ada dua pelayan dan dua supir di rumah. di halaman depan yang luas Gavin berencana membuat ruang praktik untuk Bianca. sementara dirinya sudah sibuk di rumah sakit dan tidak membuka praktik di rumah. Bianca memulai hidup nya dengan suami dan ananknya. ia lupa dengan Nicolas di belahan dunia sana.
__ADS_1