Cinta Dokter

Cinta Dokter
Part 80 Kebencian


__ADS_3

"Namanya Ivana tuan, dia dokter di rumah sakit milik anda" kata Yoan seraya menyerahkan ponselnya pada Alan.


Alan mengamati layar ponsel Yoan, wajah seorang wanita nampak menghiasi layar itu.


sorot mata Alan terlihat benci dengan sosok wanita pelakor adik iparnya itu.


"Berani sekali dia membuat adik kesayangan ku gundah dan bersedih" gumam Alan.


"Yoan kau boleh pergi"


"Baik tuan"


Sementara di rumah kontrakan Ivana dan Dinda sedang sibuk bersiap ke undangan pernikahan teman mereka. Ivana mengenakan kebaya tradisional berwarna merah menyala di padukan dengan sepatu slop berwarna merah dan ada hiasan bordir di sepatunya. Sementara Dinda mengenakan kebaya kuning gading di paduka sepatu warna senada.


Pesta pernikahan itu di gelar cukup mewah karena suami mempelai wanita adalah seorang pengusaha kaya.


Beberapa tamu yang hadir juga dari kalangan pengusaha. Seperti pria di sudut ruangan yang kini berdiri mematung menatap seseorang. Pria itu adalah Alan ia juga merupakan tamu undangan dari pihak pengantin pria.


Ia mengamati seorang wanita dengan kebaya merah menyala. Wanita itu terlihat cuek menikmati cake cokelat. Wajah cantik nya terlihat berbinar di balik kaca mata minus yang ia kenakan. Sorot mata wanita itu tegas dan tajam menandakan ia pribadi yang keras dan tangguh.

__ADS_1


Alan ingin sekali menemuinya dan melabrak wanita pelakor itu. Tapi itu bukan tindakan yang berkelas jadi ia putuskan untuk mengamati terlebih dulu sembari menyusun rencana untuk membuat pelakor itu menyesali perbuatannya.


Keesokan paginya di rumah sakit Alan memanggil dokter Kief ia bertanya soal dokter baru yang di rekrut oleh dokter Kief.


"Pecat dia!" kata Alan tegas.


"Memecat Ivana? kenapa? apa alasannya Alan?"


"Aku tidak ingin di rumah sakit ku ada pelakor berkeliaran"


"Pelakor? apa maksud mu Alan?"


"Oh tunggu dulu Alan, apa tidak sebaiknya kau selidiki benar-benar persoalan itu. Aku juga mengenal adik mu Mery dan beberapa kali rumah tangganya tergoncang. Aku rasa ia juga memerlukan instrospeksi diri. Untuk urusan Ivana jika terbukti memang dia bersalah maka aku akan memecatnya tapi jika tidak aku akan mempertahankan ya"


Dokter Kief pergi dari ruang kerja dokter Alan. Alan gemas bisa-bisanya dokter Kief membela si pelakor sialan itu, batin Alan.


Ia berjalan keluar ruang kerjanya dan tidak sengaja berpapasan dengan Ivana. wanita itu segera menyapanya dengan ramah.


Cih, muak sekali aku melihat senyum sok ramah pelakor ini! lihat saja aku akan mendepak mu keluar dari sini.

__ADS_1


Alan tidak menggubris sapaan Ivana ia berlalu pergi dengan wajah sinisnya. Ivana sedikit heran tapi ia mengira memang seperti itu sikap dokter Alan. Tidak ramah dan galak.


Ivana kembali ke rung prakteknya di temani suster Lily. Ia melihat daftar pasiennya siang itu. Cukup padat antreannya naanti. Ivana mengenakan jas putihnya dan bersiap dengan tugasnya.


Suster Lily membawa daftar pasien lalu memanggil satu persatu untuk dilakukan pemeriksaan.


Sebagai dokter anak Ivana di tuntut selalu riang dan ramah dengan anak-anak. Terlebih jik mereka tantrum dan sulit di periksa ia harus ekstra sabar dan pintar-pintar memeriksa sang anak.


"Dokter bagaimana keadaan Beben?" tanya seorang ibu dengan wajah kusut. Ia nampak kelelahan karena anaknya sedang sakit.


"Diare dan muntah Bu, saya akan meresepkan obat untuk Beben"


"Dokter maaf apakah harga obatnya mahal?"


Ivana terdiam sejenak, ia mengamati ibu yang terlihat cemas itu.


"Ibu tenang saja, silahkan tebus obat ini geratis" kata Ivana sembari memberikan selembar resep yang sudah ia tulis dengan tulisan tangannya.


"Gratis dok? terimakasih banyak dokter" ibu itu kini terlihat lega. Ivana meminta suster Lily mengurus administrasi obat Beben dengan uang yang Ivana berikan.

__ADS_1


Ivana tidak akaan tanggung ketika menolong pasiennya. Jika ia bisa berbuat lebih maka akan ia lakukan asalkan si pasien sembuh dan keluarganya tidak terbebani.


__ADS_2