Cinta Dokter

Cinta Dokter
Cemas


__ADS_3

Beberapa kali Adelia melihat ponselnya. ia sudah satu minggu tidak bertemu dengan Indra. Adelia cemas dan gelisah. ia menghubungi Bima tapi juga tidak bisa. ponsel Indra juga mati. Adelia belum sempat berkunjung ke rumah Indra lagi. ia sempat mencari Indra ke rumah tapi Indra tidak di rumah.


Adelia duduk di ruang tamu. menikmati secangkir teh dan biskuit. pintu rumahnya di ketuk. Adelia bergegas membukanya. Bima berdiri di depan pintu.


"Tuan bima!, aku menelpon ponsel mu tak tidak pernah bisa". Adelia senang melihat Bima berdiri di hadapannya dan tidak terjadi apa-apa.


"Nona bisakah ikut dengan saya?".


"Apa terjadi sesuatu?".


Bima hanya terdiam dan Adelia mulai merasa takut. pasti terjadi sesuatu pada Indra. Adelia mengambil tasnya dan bergegas mengikuti Bima menuju mobil. di perjalanan Adelia tidak bertanya lagi pada Bima. karena menurutnya percuma saja bertanya pada Bima yang lebih mirip robot itu. lelaki itu akan semakin membautnya cemas dengan jawaban yang pendek dan tidak jelas.


Bima memarkirkan mobilnya dan membuka pintu untuk Adelia.


"Silahkan nona, tuan Indra ada di dalam".


Adelia bersiap untuk marah karena Indra tidak mengabarinya selama seminggu. ia sudah menyiapkan omelan untuk lelaki itu. di rumah terlihat sepi. Bima mengajak Adelia menuju kamar Indra. Bima membuka pintu kamar dan mempersilahkan Adelia masuk. Indra sedang terbaring dengan infus menancap di tangannya. telapak kaki Indra di perban, Adelia menyentuh kening Indra memastikan suhu tubuhnya tidak tinggi. bisa jadi luka itu infeksi. Indra terlihat lemas.


"Tuan muda tidak mau makan nona, beberapa hari ini ia mengurung diri di kamar".

__ADS_1


"Apa maksutnya?, kenapa ia mogok makan?".


"Ini ada hubungannya dengan tuan besar. saya tidak bisa menjawab nona".


"Baiklah kau tidak perlu menjawab, aku tidak akan bertanya lagi".


Adelia sedikit tahu jika ayah Indra pasti melarang anaknya dekat-dekat dengan dirinya.


Adelia duduk di tepi ranjang memandangi wajah Indra yang pucat. Adelia menggenggam tamgan Indra. Indra membuka matanya, ia lega melihat Adelia di hadapannya. Indra memaksakan untuk duduk, Adelia membantunya.


"Apa yang terjadi?, kenapa kau tidak mau makan?".


Indra terdiam ia menggenggam tangan Adelia.


"Tentu aku baik, lihatlah aku duduk di depan mu dengan senyum 100 watt. Indra tertawa, ia mengelus wajah Adelia. Bima yang melihat ikut senang akhirnya Indra bisa terhibur.


"Ayolah kau harus sehat nanti akan ku traktir somai di perempatan". Indra kembali tertawa. ia memegang perutnya. Adelia memeriksa perut Indra. ia membuka kemeja Indra, di pinggang sebelah kiri terdapat luka bekas terbakar. Adelia memegang bekas luka itu. Indra bergegas menutup kemejanya.


"Aku tidak apa-apa jangan cemas".

__ADS_1


Adelia tidak bertanya soal luka itu karena Indra terlihat tidak nyaman. Adelia menyuapi Indra makan bubur yang masih hangat.


"Kenapa kau bisa kemari?".


"Tuan Bima yang menjemput ku". Indra melirik ke arah Bima. Bima mengalihkan pandangannya.


"Nanti ketika kau sudah sehat bisakah bercerita apa yang terjadi sebenarnya dengan mu?". Adelia menatap Indra. ia cemas dengan keadaan Indra.


"Tentu saja". Indra kembali menggenggam tangan Adelia. ia takut gadis itu akan pergi meninggalkannya.


Adelia pergi dari kamar Indra begitu Indra tertidur. ia sebenarnya gemas ingin bertanya pada Bima. Adelia menarik jaket Bima, lelaki itu menoleh.


"Iya nona ada apa?".


"Tolong ceritakan pada ku ada masalah apa?, atau aku tidak akan pernah muncul di hadapan Indra lagi".


Oh sekarang kau pandai mengancam ya nona, baiklah kalau begitu.


***

__ADS_1


Epilog


tuan Biantoro bersikeras Indra harus bertunangan dengan Luna. Indra tidak mau, beberapa pengawal menahan tubuh Indra yang hendak pergi meninggalkan rumah keluarganya. termasuk Bima yang di perintah ikut menahan Indra. mereka memasukan Indra ke kamar dan mengunci dari luar. di kamar Indra mengamuk dan memecahkan barang-barang termasuk cermin yang ia pecah dan tak sengaja terinjak oleh kakinya. ia bahkan tidak makan dan minum selama dua hari. Bima memohon pada ayah Indra untuk membawa Indra pulang ke rumahnya. Bima tidak tahan melihat kondisi tuannya. akhirnya ia mendatangi Adelia untuk menemui Indra. gadis itu bisa jadi obat untuk Indra.


__ADS_2