
Pagi itu Bianca sudah terlihat bersiap. ia mengajak Fani pergi bertemu kakeknya. Gavin akan mengantar Fani dan Bianca lalu meninggalkan mereka di rumah ayahnya. Gavin harus masuk kerja ia sudah di tunggu pasiennya. Bianca membawa buah tangan untuk mertuanya.
"Mama kita akan kemana?". Tanya Fani yang bingung karena ibunya tidak seperti biasanya.
"Kita akan bertemu kakek".
Fani mengangguk entah mengerti atau tidak. tapi ia terlihat senang. Gavin memutar kemudinya memasuki perumahan elit. seorang satpam membuka pintu gerbang untuk Gavin. satpam itu terlihat kaget karena sudah lama Gavin tidak pulang. mobil sampai di sebuah pelataran rumah yang asri dan terawat. Gavin mengajak Bianca dan Fani turun dari mobil. seorang wanita terlihat terkejut dan berlari-lari kecil masuk kedalam rumah.
"Siapa dia Vin?". Tanya Bianca.
"Itu Tika pelayan di rumah ayah".
Tak berapa lama keluarlah tuan Daud Hendrawan. usianya sudah di atas 60 tahun. tapi masih terlihat gagah dan berwibawa. ia memandang haru pada kedatangan Gavin beserta istri dan anaknya. Gavin terdiam di hadapan ayahnya sementara Bianca memberi salam dan menyerahkan bingkisan yang ia bawa pada Tika. Fani terlihat gembira, tuan Daud menggendong Fani dan tertawa-tawa. wajah tuanya terlihat senang. ia mengajak ketiganya masuk kedalam rumah. Gavin melihat-lihat isi rumah yang tak berubah. ia lalu pamit pergi bekerja. tinggalah Bianca dan Fani yang bersendau gurau dengan tuan Daud. Tika menyiapkan hidangan dan minuman untuk ketiganya. Tika ikut terharu menatap Bianca.
"Saya senang anda mau kemari nona".
__ADS_1
"Kau sudah lama ikut tuan Daud?".
"Sudah nona, dari waktu tuan Gavin masih bekerja di pedalaman". Bianca tersenyum itulah saat pertama kali ia dan Gavin bertemu. Bianca membantu Tika menyiapkan makanan dan kue yang tadi ia bawa. Fani terlihat senang bermain dengan kakeknya.
"Ada berapa orang di rumah ini Tik?".
"Ada Tuan besar dan tuan Gio, ada pak Pri sopir tuan besar dan saya".
"Gio?". Bianca tak pernah mendengar Gavin bercerita tentang Gio.
"Iya nona, adik tiri tuan Gavin". Bianca penasaran seperti apa Gio sampai Gavin tak bercerita tentangnya.
"Sedang bekerja nona, tuan Gio yang menggantikan tuan besar untuk pegang perusahaannya karena tuan Gavin tidak bersedia". Bianca mengangguk paham.
Fani terlihat asyik dengan kakeknya yang mendongeng untuknya. Bianca melihat-lihat tanaman di belakang bersama Tika. tak berapa lama mobil Gio datang ia di telpon ayahnya agar pulang sebentar. Gio menggendong dan memeluk Fani. ia mengangkat Fani tinggi-tinggi ke udara hingga Fani tertawa riang. Bianca menghampiri Gio.
__ADS_1
"Rupanya kakak ipar ku sangat cantik, pantas Gavin ......". Gio tak melanjutkan ucapannya. Bianca tersenyum. ia tahu yang akan Gio katakan.
"Hai Gio".
"Oh ya dimana kakak ku?".
"Gavin pergi bekerja".
Gio terlihat mencicipi kue dan makanan di meja makan. ia pribadi yang menyenangkan sama seperti Gavin. wajah mereka tidak begitu mirip mungkin karena adik sambung. tapi Gio juga tampan dan tinggi.
"Kakak kau tahu badan amal yang di kelola Gavin?".
"Badan amal?".
"Jangan bilang kau tidak tahu apa-apa?". Gio menebak Bianca memang tidak tahu.
__ADS_1
"Kakak ku menggelontorkan dana cukup besar di dua badan amal berbeda. dana itu dari perusahaan ayah yang memang di berikan padanya".
Bianca terdiam. ia tidak tahu kalau Gavin semulia itu hatinya. setahunya Gavin sedikit cuek orangnya. Bianca salut dan semakin sayang pada suaminya itu. nanti ia berniat bertanya pada Gavin soal itu. Bianca dan Gio lanjut mengobrol sementara tuan Daud masih bermain dengan Fani. ia melepas rindu pada cucunya yang baru ia lihat itu.