
Fani demam jadi hari ini ia tidak pergi ke sekolah. Bianca menemani Fani di rumah. ia tidak pergi ke rumah sakit. Bianca selain membuka praktek di rumah ia juga bekerja di rumah sakit yang sama dengan Adelia.
Gavin terlihat sudah siap dengan pakaian kerjanya. dilihatnya Bianca di depan cermin sedang menyisir rambutnya.
"Sayang aku berangkat dulu". Bianca mengantar Gavin sampai depan pintu.
"Kabari nanti soal Fani". Bianca mengangguk. Gavin menuju mobil dan melaju meninggalkan halaman rumah. Bianca ke kamar Fani, dilihatnya anak itu masih tertidur dengan kompres di keningnya. Bianca sudah memberinya obat penurun panas. Wasti mengantarkan segelas teh hangat untuk Bianca.
"Pepayanya sudah saya kupas bu".
"Biarkan dulu Was, nanti aku makan simpan di kulkas saja".
"Baik bu".
Bianca selaku makan pepaya dingin. Gavin kurang suka dengan pepaya. ia lebih menggemari jeruk dan jus jambu biji. sementara Fani baru mau makan pisang untuk buah yang lain anak itu belum mau.
***
Gavin sampai di rumah sakit ia bergegas menuju ruang kerjanya. ia melirik sekilas Luna yang sedang berbicara dengan dokter Smith. Gavin memeriksa daftar pasiennya. cukup banyak untuk hari ini. kebanyakan dari mereka memang sudah berusia agak lanjut. Gavin berjalan di temani dua orang suster menuju ruang perawatan.
sementara di tempat lain Adelia sedang tidak ada jadwal untuk hari itu. ia memilih berolahraga pagi dan berbelanja ke swalayan. ponselnya berbunyi pesan dari Indra. lelaki itu mengajaknya bertemu nanti malam. Adelia menyetujui toh ia tidak ada cara nanti malam.
Adelia menyiapkan baju terusan dengan motif bunga-bunga kecil. sederhana dan nampak anggun di pakai Adelia. ia memakai riasan yang natural, rambut ikalnya ia tata setengah tergerai. tas kecil berwarna coklat muda membuat penampilannya lebih sempurna. mobil Indra masuk ke pelataran rumah Adelia yang tidak begitu luas. Adelia terkejut ketika yang keluar dari mobil bukan Indra melainkan lelaki lain. lelaki jangkung berkacamata minus dengan stelan jas rapi terlihat melangkah menghampiri Adelia.
"Selamat malam nona, tuan Indra sudah menunggu nona".
Adelia semakin aneh dengan lelaki yang terlihat sangat formal itu.
__ADS_1
"Maaf kau siapa?".
"Saya Bima sekretaris pribadi tuan Indra". Adelia hampir menepuk keningnya. ia tidak heran jika Indra memiliki seorang sekretaris pribadi macam Bima ini.
"Baiklah ayo kita pergi". Adelia berjalan menuju mobil. Bima membukakan pintu mobil untuknya. mereka menuju restoran Itali yang sudah di booking Bima dari dua hari yang lalu.
"Tuan Bima kau sudah lama bekerja pada tuan Indra?".
"Saya sedari remaja bekerja untuk keluarga tuan Indra nona".
Adelia mengangguk. ia tak bertanya lagi. lelaki yang duduk di belakang kemudi itu seperti robot amat kaku dan tidak bisa di ajak bicara banyak. Bima memarkirkan mobilnya di pelataran restoran mewah bergaya barat. Adelia menyadari sepertinya ia salah kostum, pakaiannya terlalu sederhana kalau harus mendatangi tempat mewah itu.
"Apa tuan Indra selalu makan di tempat seperti ini?".
"Tidak juga nona".
"Aku salah kostum, seharusnya kau memberitahu ku kalau kau akan mengajakku ke tempat semewah ini". Adelia tampak ingin tertawa melihat semua keanehan yang di alaminya. Bima memundurkan sedikit kursi dan mempersilahkan Adelia untuk duduk.Indra sudah memesan menu utama untuk mereka. sementara Bima bediri tak jauh dari Indra duduk. Adelia mengerutkan keningnya memandang keberadaan Bima.
"Bima?, sudah jangan hiraukan dia". Kata Indra ringan seolah tidak terganggu dengan keberadaan orang lain di sana.
"Apa hari ini kau tidak masuk kerja?". Indra mulai mengajak Adelia mengobrol.
"Aku libur hari ini".
"Apa lain kali aku boleh mampir ke tempat mu?". Bima yang mendengar Indra bertanya pada Adelia rasanya ingin tersedak untung ia tidak sedang makan sesuatu. tidak pernah tuannya bertindak seaneh ini. gadis ini benar-benar istimewa pikir Bima.
"Tentu, tapi tidak akan ada jamuan mewah mungki hanya min instan rebus yang akan kau temui di rumah ku". Adelia tertawa. terlihat riang dan manis sekali. Indra sempat terpana memandang tawanya sementara Bima rasanya ingin segera pergi dari tempat itu. ia ingin memeriksa apakan bosnya baik-baik saja.
__ADS_1
"Kenapa kau menjadi dokter anak?". Tanya Indra lagi. ia tidak makan hanya sibuk memandangi Adelia yang sedang menikmati makanannya.
"Karena aku suka dengan anak-anak". Indra mengangguk takjub seolah jawaban itu adalah sesuatu hal terindah yang di dengarnya. sekali lagi Bima hanya jengah menyaksikan ekspresi Indra yang terlihat bodoh.
Selamat nona ku memenangkan hati beku tuan Indra.
***
Luna terlihat menghubungi nomor ponsel seseorang tapi tak diangkat. ia menyimpan kembali poselnya di saku baju kerjanya. ia menghampiri Gavin di ruang kerjanya.
"Gav apa kau sudah makan malam?".
Gavin menggeleng, ia sedang menunggu kabar Fani dari Bianca.
"Aku harus pulang awal Fani sedang tidak enak badan, Bian sedang membuka praktek di rumah dan sedang banyak pasien".
Luna tampak kecewa kali ini ia makan malam sendiri.
"Baiklah semoga Fani lekas sembuh dan sampaikan salamku untuk dokter Bianca".
Gavin mengangguk membenahi meja kerjanya dan melepas jas putihnya. ia beranjak keluar dari ruang kerjanya di ikuti Luna yang juga memutuskan untuk pulang saja. ia akan makan malam di aparten saja.
Keduanya berpisah di parkiran mobil. mereka mengedarai mobil masing-masing. Gavin dan Luna berseberangan arah pulang. Gavin merasa kasihan juga pada Luna karena ia selalu menolak undangan Luna. ia berniat mendekatkan Luna dengan sahabatnya Indra. Indra dan Luna akan terlihat serasi. yang satu tampan dan kaya yang satu cantik dan berkelas pikir Gavin. ia melaju menyusuri jalannan kota. menambah sedikit kecepatan mobilnya agar segera sampai di rumah. sesampainya di rumah Gavin melihat ke tempat praktek istrinya masih ada beberapa pasien. Gavin memutuskan masuk ke dalam rumah dan melihat Fani yang sudah terbangun dan bermain dengan Wasti di kamar.
"Was tolong bikinkan teh hangat".
"Baik pak". Wasti beranjak ke dapur membuat secangkir teh hangat. sementara Gavin menemani Fani bermain sembari menunggu Bianca selesai dengan pekerjaannya.
__ADS_1