
Alan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata. ia mulai ragu benarkah wanita seperti Ivana adalah pelakor?
Alan mengehentikan mobilnya di penampungan sampah tadi, ia terbelalak melihat Ivana masih disana duduk di pinggiran sampah dan menggenggam sesuatu di tangannya.
"Berhentilah bertindak bodoh" suara Alan mengejutkan Ivana. ia menoleh ke arah Alan dan tersenyum senang. Wajahnya terlihat sangat kelelahan.
"Lihatlah dokter Alan, aku menemukannya !" Ivana memperlihatkan bungkusan obat di polybag bening. Isinya ada beberapa butir pil dan satu botol Syrup.
"Kau hebat" kata Alan, kali ini pujian itu terasa tulus dan jujur mengalir dari hati Alan.
"Lihat dirimu kau kotor dan bau"
"Maaf dokter, aku akan segera pulang dan mandi lalu ke rumah sakit untuk melihat kondisi Beben"
"Masuklah" Alan meminta Ivana masuk ke dalam mobil mewahnya.
"Aku kotor dan bau sampah dokter, jadi aku naik ojek online saja"
"Masuklah!" Alan mengulangi perintahnya. Ivana dengan ragu memasuki mobil mewah itu. Ia merasa tidak enak.
"Di dashboard ada sebuah kemeja, pakailah dan ganti baju mu. Aku akan menunggu di luar Jiaka kau sudah selesai kau bisa memberitahuku"
Ivana menurut saja, ia melepas kemeja satin yang ia kenakan tadi dan menggantinya dengan kemeja putih berukuran L milik Alan. Ivana merapikan rambutnya dan mengikatnya dalam bentuk Cepol. Ia menyisakan helaian kecil di dekat telinganya.
__ADS_1
"Dokter....dokter Alan!" suara Ivana membuyarkan angan Alan tentang kecantikan Ivana.
"Maaf saya merepotkan Anda, besok akan saya cuci bersih kemeja ini dan saya kembalikan pada anda"
"Aku antarkan kau pulang"
Mobil milik Alan sampai di pelataran rumah kontrakan Ivana dan Dinda.
Dinda memandang Ivana yang bau dan kotor. ia lalu beralih memandang si pria tampan yang berdiri bersandar mobilnya.
"Siapa dia?" tanya Dinda
"Pimpinan kerja ku"
"Jangan ngelantur, mana mau dia dengan ku. Sudahlah ceritanya panjang nanti malam akan ku ceritakan padamu. Sekarang aku harus bersiap kembali ke rumah sakit"
Ivana menuju kamar mandi dan bergegas membersihkan tubuhnya. Ia menyambar pakaian dari dalam lemarinya.
"Din bantu aku tolong keringkan rambutku sementara aku merias wajah.
Dinda mengeringkan rambut Ivana dengan hairdryer sementara Ivana memulas makeup tipis di wajahnya.
Setelah kembali bersih dan cantik ia menghampiri Alan yang masih menunggunya di depan rumah.
__ADS_1
"Masuklah" Alan membuka pintu mobil dan memandang penampilan Ivana. Ia mencoba mengabaikan perasaannya. didalam pikirannya ia mensugesti jika Ivana adalah pelakor..
"Bagaimana keadaan Beben dokter?" tanya Ivana..
"Nanti kau bisa lihat sendiri" Alan berkonsentrasi mengemudi tanpa mencoba menoleh ke sampingnya atau sugestinya bisa goyah. Ia tetap pada pendiriannya jika Ivana adalah pelakor yang menghancurkan rumah tangga Mery.
Sesampainya di rumah sakit Ivana bergegas ke bangsal anak tempat Beben di rawat. Ibu Beben menangis ketakutan sementara suaminya tidak bisa di hubungi sejak tadi.
Ivana memeriksa laporan kesehatan Beben. Setelah di rawat hampir sehari Beben sudah membaik, bahkan besok sudah bisa pulang ke rumahnya.
Ivana bernapas lega. Ia menghampiri Beben dan memegang tangan anak itu. Alan mengamatinya dari balik jendela kaca bangsal anak. Dengan wajah datar ia melihat Ivana yang begitu hangatnya bersikap pada pasiennya yang jelas-jelas sudah memfitnah dirinya.
"Apa anda akan melaporkan kami pada polisi dokter?" kata ibu Beben gemetar.
"Tentu tidak nyonya tenanglah" Ivana menggenggam tangan ibu Beben dan menenangkan wanita yang terlihat pucat ketakutan itu.
"Lalu bagaimana dengan ayah Beben?"
"Sudahlah, aku sudah memaafkan kalian, ini juga suatu teguran agar aku lebih berhati-hati dan teliti lagi dalam bekerja" Ivana tersenyum menepuk pelan bahu ibu Beben lalu berjalan pergi keluar dari bangsal anak.
Alan terus memperhatikan gadis itu yang berjalan menjauh.
Aku ingin percaya jika dirimu adalah seorang pelakor tapi hati kecil ku tidak membenarkan hal itu Ivana.....
__ADS_1
Alan melangkah pergi dan bergegas pulang ke rumah. sebelum itu ia ingin menemui Mery terlebih dulu dan memberi adiknya sedikit pelajaran.