
Alan selesai berganti pakaian ia duduki di kursi kerjanya seraya memandang kemeja yang berada di depannya. Ia teringat wajah Ivana yang begitu ketakutan saat insiden lift tadi.
Ada apa dengannya? kenapa ia bisa fobia separah itu? apakah dia pernah mengalami kejadian yang menakutkan?
Bayangan wajah Ivana yang ketakutan sembari meminta perlindungan Alan kembali terbayang di benak Alan.
Ivana aku bisa gila karena mu! kau pelakor tapi wajahmu sungguh bak malaikat.
Alan gusar dan berdiri dari duduknya, ia berjalan keluar dari ruang kerjanya. Langkahnya tiba di depan ruang praktek dokter anak yaitu ruangan dokter Ivana.
Wanita itu sedang terlihat memeriksa pasiennya. Alan memandangnya dari kejauhan. Entah kenapa ia merasa lega setelah memastikan Ivana baik-baik saja.
***
Ivana berjalan menyusuri lorong rumah sakit. tanpa sengaja ia bertemu Alan yang berdiri sembari berbicara dengan dokter Kief.
"Ivana" dokter Kief memanggil Ivana.
Melihat disana ada Alan, ia jadi ragu untuk mendekat ke arah dokter Kief.
"Kau mau pulang?"
"Benar dokter"
Alan terlihat seperti biasa, ia nampak acuh saja pada Ivana.
Insiden tadi di lift membuat Ivana malu. Ia ingat jika tadi tanpa sengaja memeluk dokter Alan dan bahkan ia mencengkeram bahu pria itu dengan kuat.
"Maaf dokter saya duluan" Ivana bergegas pergi sebelum ia semakin malu pada Alan.
Taxi online yang di pesan Ivana tiba tepat waktu. ia bergegas masuk ke dalam mobil itu dan meluncur menuju 'pusat ramen'. Tak jauh dari rumah sakit tempat Ivana bekerja ada sebuah kedai besar bernama pusat ramen. Disan tersedia berbagai mie instan dari berbagai Negara.
Ivana berdiri di depan rak mie ramen pedas. Ia mengambil dua bungkus ramen pedas lalu mengambil dua bungkus sosis, Enoki, dan telur. Ia membawanya ke kasir.
Selesai membayar Kasir memberikan sebuah mangkuk besar sekali pakai lengkap dengan sumpit. Ivana merobek bungkus rame. Dan menuju mesin penyeduh. ia memasukan berbagai toping tadi dan memasak di mesin otomatis.
Tidak butuh waktu lama mie nya sudah matang. ia bergegas menyantapnya sebelum dingin.
Mungkin aku harus berterimakasih pada dokter Alan, lain kali akan ku traktir dia kemari. Dia sudah sering membantuku. Meski terlihat galak tapi dia baik.
***
Mery sedang bertengkar dengan Gerald suaminya. Kecemburuan Mery membuat Gerald jenuh dan merasa tidak di percaya sebagai pria.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengaan pelakor satu itu?!"
"Pelakor apa lagi Mery?!" Gerald tak kalah meradang. Moodnya sedang buruk sekarang.
"Jangan pura-pura bodoh Gerald, memangnya siapa lagi wanita yang memanggil mu dengan sebutan Gary?"
"Mery aku dan dia tidak ada hubungan apapun! Setidaknya dia memang lebih baik dari mu!"
"Apa maksud mu? Pelakor ****** itu lebih baik dari ku? Oh apa kalian sudah tidur bersama?"
Gerald menggelengkan kepalanya, ia memilih pergi meninggalkan rumah untuk beberapa saat.
Mery bisa membuatnya gila dengan tuduhan-tuduhan tidak masuk akalnya itu.
Gerald sedang berpikir bagaimana ia meyakinkan Ivana agar mau menerimanya lalu ia akan meninggalkan si cerewet Mery.
Gerald menekan tombol ponselnya dan mencoba menelpon Ivana tapi tidak di angkat.
Sementara di rumah sakit Ivana dengan ragu-ragu berdiri di depan ruang kerja dokter Alan.
"Kenapa anda berdiri di sini dokter? Apa ingin bertemu dengan dokter Alan?" Seorang perawat terlihat menegurnya karena Ivan mematung di depan ruang kerja Alan mungkin sudah dari setengah jam yang lalu.
"Oh tidak...emmm apa dokter Alan sibuk?"
"Oh begitu ya, lain kali saja aku bicara"
Baru akan melangkah pergi tiba-tiba suara Alan meenghentikan langkah Ivana.
"Ada apa...Ivana?" Wajah dokter Alan selalu terlihat jengah dan benci dengan Ivana.
"Maaf dokter aku mengganggu, apa kau ada waktu luang?"
"Waktu luang?" Alan menukikkan alis nya.
"Maksud ku, apa kau ...." Ivana terlihat gugup.
"Ada apa cepat katakan?"
"Aku ingin mengajak mu makan ramen dekat sini" akhirnya dengan intonasi yang cepat Ivana bisa mengatakan maksudnya.
"Ramen? Makanan apa itu?"
"Sejenis mie instan dokter" kata perawat menyahut.
__ADS_1
"Mie instan? Ivana kau makan mie instan?!"
"Maaf dokter jika kau tidak bisa aku mengerti" Ivana bergegas pergi tapi Alan mencekal lengannya.
"Dimana itu tempat penjual...ramen?"
Ivana tersenyum lebar, matanya berbinar seolah ia mendapat kotak Hadiah. dan detik itu Alan tidak percaya bisa menatap senyum setulus itu dari seorang pelakor.
Ivana menyeduh ramen untuk Alan yang sedang duduk di spot di ujung ruangan. Pria itu memandang Ivana dari kejauhan.
"Taraaaa....sudah jadi" Sekali lagi wajah Ivana terlihat gembira menyuguhkan dua mangkuk ramen untuk dirinya dan Alan.
"Kau ini seorang dokter seharusnya kau tahu makanan apa yang sebaiknya kau konsumsi" Alan melirik Ivana yang mengulurkan sumpit padanya.
"Aku mengerti dokter Alan, tapi sekali ini saja cobalah ini enak"
Aroma mie kuah di hadapannya memang harum dan menggoda selera. Lengkap dengan toping sayur dan telur serta sosis.
Alan menyuapkan mie yang sudah ia tiup ke mulutnya. Rasanya luar biasa enak.
"Dengan dokter Ivana jangan sering makan seperti ini kau makan makanan yang sehat dan satu lagi hindari makanan yang panas"
"Baik dokter" Ivana tersenyum senang karena Alan terlihat menikmati makanannya.
"Setelah ini aku akan mengajak mu menonton film"
"Film?"
"Iya kenapa?"
"Kau takut tempat gelap?"
"Iya dokter"
"Kenapa kau fobia gelap?"
"Entahlah dokter aku hanya takut ketika berada di tempat gelap, napasku terasa sesak"
"Apa hanya itu penyebab nya?" Alan tidak percaya dengan penjelasan Ivana karena fobia gadis itu sudah tergolong parah dan harus di terapi.
"Iya" Ivana tertunduk.
"Baiklah kalau begitu kita tidak perlu ke bioskop. Kau temani saja aku ke suatu tempat, ada yang ingin aku bicarakan pada mu"
__ADS_1
Ivana mengangguk ragu. Tapi ia mengiyakan ajakan Alan untuk bicara. Meski ia tidak tahu apa yang akan di katakan pria itu karena mendadak wajah tampan Alan berubah dingin dan benci.