
Alan tergesa menuju rumah sakit. Ada pasien dalam kondisi urgent yang harus segera ia tangani. Alan melangkah setengah berlari ke ruang kerjanya. Berganti pakaian dan membasuh tangannya sampai bersih.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Alan pada seorang perawat.
"Dokter anastesi sedang menanganinya, sebentar lagi akan masuk prosedur untuk operasi dok"
"Baiklah siapkan semua" Alan bergegas menuju ruang operasi di ikuti perawat yang berlari mengejar langkahnya.
Di dalam ruangan itu sudah ada spesialis anastesi, dokter bedah, dokter spesialis dalam dan Alan dokter spesialis cardio toraks.
Situasi teramat genting apa lagi yang sedang di tangani adalah seorang pejabat penting. Ia tokoh yang begitu di cintai publik karena kebaikan hatinya dan tulus membantu rakyat.
Selama enam jam lebih dokter Alan dan dokter lainnya berada di ruang bedah.
Dokter Alan keluar dari ruang bedah dengan wajah lelah tapi ia terlihat lega. sepertinya operasi berjalan lancar.
"Dokter..." sebuah suara lembut menghentikan langkah Alan. Ia menoleh ke belakang disana berdiri dokter Ivana yang memegang kemeja.
Sepertinya itu adalah kemeja Alan yang ia kenakan kemarin.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Alan dingin.
"Saya mau mengembalikan kemeja milik dokter. Sudah saya cuci bersih dok"
"Letakkan saja di meja kerja saya" Alan kembali melangkah, Ivana mengejar dari belakang. Sampai pintu lift terbuka. Keduanya berada di dalam satu lift dengan suasana canggung dan kikuk.
Ivana sendiri bingung terkadang dokter Alan terlihat sedikit baik padanya tapi seringnya juga terlihat dingin dan seperti benci pada Ivana.
Alan menatap lurus ke arah pintu lift yang akan turun ke lantai delapan. Ivana juga terdiam masih memegang kemeja yang di lipat rapi.
Tiba-tiba lift berguncang dan lampu lift seketika mati. Ivana menjatuhkan kemeja yang ia jaga sedari tadi agar tidak lusuh karena sudah di setrika rapi. Kemeja itu terhempas di lantai, Ivana segera mencari pegangan di pinggiran lift. Ia gemetar hebat dan terduduk ketakutan.
"Ivana?" Alan mengguncang bahu Ivana, tanpa di duga Ivana berhambur ke pelukan Alan dengan badan gemetar, suaranya gagu dan napasnya tiba-tiba sesak.
"Ivana apa yang terjadi?!"
Apa dia fobia gelap? kenapa bisa separah ini?...
Ivana terus menggelengkan kepalanya karena ia sulit bicara. Keringat dingin mengalir di dahinya.
__ADS_1
Alan menepuk pelan bahu Ivana yang masih berada di pelukannya.
"Tenanglah, tidak apa-apa, ini hanya lift yang sedang eror. Kita akan selamat ku jangan cemas. Jangan takut Ivana" begitu kata Alan. Pria itu sekarang terlihat manusiawi dan penuh kasih menenangkan Ivana yang begitu ketakutan.
"Tenanglah, jika kau takut gelap maka. coba ambil napas dan hembuskan perlahan"
Ivana tanpa banyak bicara segera menuruti perintah Alan. Setelahnya ia merasa sedikit tenang. tidak berapa lama lampu lift menyala dan lift kembali bergerak perlahan.
Wajah Ivana terlihat sedikit lega, kedua tangannya masih mencengkram bahu Alan.
"Baiklah, bisakah kau lepaskan cengkraman mu?" suara Alan mengejutkan Ivana yang Baru saja merasa lega.
"Ah maaf dokter" Ivana buru-buru melepas cengkraman nya dan ia segera meraih kemeja yang teronggok di lantai.
"Maaf dokter" Kata Ivana lirih sembari memandang kemeja yang sekarang terlihat lusuh dan berantakan itu.
"Sudahlah" Alan menyambar kemejanya dengan kasar.
"Jika kau naik ke lantai atas pastikan kau tidak sendiri di dalam lift. Atau kau bisa ...." Alan tidak meneruskan perkataannya. Ia tidak tega melihat wajah Ivana yang masih pucat.
__ADS_1
Alan menggelengkan kepalanya seraya berjalan cepat begitu pintu lift terbuka. Ia menuju ruang kerjanya untuk berganti pakaian.