Cinta Dokter

Cinta Dokter
Part 91 Cuti


__ADS_3

Ivana terdiam ia seperti orang kehilangan suaranya. tatapan matanya kosong. Dinda begitu prihatin melihat sahabatnya.


"Ivana apa yang sebenarnya terjadi? kau kenapa?" Dinda menggoncang pelan bahu Ivana.


Ivana hanya menangis tertahan dan diam seribu bahasa. ia lalu berbaring dan kembali tertidur akibat suntikan obat penenang yang di berikan Alan.


Dinda berjalan menuju ruang kerja Alan. ia ingin bertanya sebenarnya apa yang terjadi antara Alan dan Ivana. kenapa Ivana seperti orang trauma berat.


"Dokter aku ingin bicara sebentar" kata Dinda setelah seorang perawat mengantarkannya ke hadapan dokter Alan.


"Sebenarnya apa yang terjadi? kenapa Ivana jadi seperti itu?"


Wajah tampan di hadapannya terlihat begitu gelisah dan sedih. bola mata Alan yang berwarna abu-abu menyiratkan gurat penyesalan.


Rupanya Ivana tidak bercerita apapun pada Dinda.


"Maaf aku ada pasien, nanti saja akan ku jelaskan" Alan seperti seorang pengecut ia malah kabur dari Dinda.


Dinda melirik jam tangannya, ia juga ada pekerjaan penting yang harus di selesaikan. Dinda bergegas pergi meninggalkan rumah sakit.


Sementara Akan menuju ruang rawat Ivana. Ia berdiri termenung memandang wajah Ivana yang tertidur. Bayangan kejadian kemarin malam berkelebat di benak Alan.


Alan mendekat dan duduk di dekat ranjang Ivana. ia sengaja menunggu gadis itu terbangun.


"Ivana..." Alan menyebut nama Ivana saat wanita di hadapannya membuka mata. Ivana hampir histeris melihat Alan di hadapannya. ia jelas masih mengingat perbuatan pria itu padanya.

__ADS_1


"Ivana kau jangan cemas aku akan menikahi mu jika kau mengandung anak ku"


Ivana menangis air matanya membanjiri wajahnya. ia tidak peduli pria itu akan menikahinya atau tidak. yang jelas masa depannya telah hancur.


"Jangan melakukan tuntutan apapun, aku akan bertanggung jawab jika kau ...hamil"


Alan meraih kepala Ivana dengan lembut dan menyandarkannya di bahunya. tangis Ivana semakin menjadi di pelukan Alan.


***


Satu bulan kejadian itu telah berlalu. dan kedua orang itu sama sekali tidak bertegur sapa.


Seperti biasa Ivana masih bekerja di rumah sakit milik Alan sebagai dokter anak. Sementara Alan tetap menjalankan profesinya sebagai dokter dan menjalankan bisnisnya.


Alan diam-diam selalu memantau perubahan fisik Ivana. Ia memberi pesan pada spesialis kandungan agar segera menghubungi dirinya jika Ivana melakukan pemeriksaan.


Gerald bersikeras ingin berpisah dari Mery sementara Mery ia tidak mau kehilangan Gerald karena masih mencintainya.


Alan di buat semakin pusing dengan aduan Mery yang hampir setiap hari menangis mengadu soal permasalahan dengan Gerald.


Pagi itu Alan menerima pengajuan surat cuti dari Ivana. Ia mengerutkan alisnya.


Cuti? memangnya mau kemana dia?


Alan meraih gagang telepon dan menelpon ke ruang praktek Ivana.

__ADS_1


"Dokter Ivana bisa keruangan ku?"


Tanpa menunggu jawaban Ivana, ia langsung menutup telepon.


tuk tuk tuk....


"Masuk"


Terlihat dokter Ivana ragu untuk masuk ke ruangan kerja dokter Alan.


Wajah cantik Ivana terlihat lesu dan tak bergairah. Alan jadi merasa bersalah, ia semakin gelisah melihat Ivana terlihat pucat dan lebih pendiam dari biasanya.


"Kenapa meminta cuti?" suara berat Alan terdengar sedikit lembut. Ivana diam tidak menjawab. Ia hanya menunduk karena belum siap menatap wajah pria yang sudah berani melecehkannya dan menuduhnya sebagai pelakor.


"Saya baru terkena tindak kriminal, jadi saya butuh menenangkan diri"


Alan menelan ludah, ia mengendurkan Dasinya. sejenak Alan membuang pandangannya dari wajah Ivana.


"Mau pergi kemana?"


"Untuk apa anda tahu? saya hanya ingin cuti tiga hari jika boleh, jika tidak juga tak masalah"


Sepertinya tidak akan ada ujungnya kalau Alan berdebat dengaan Ivana. lagi pula ia masih di hantui rasa bersalah pada wanita di hadapannya.


Dengan sengaja ia menodai Ivana hanya karena geram pada wanita pelakor itu.

__ADS_1


"Baiklah, kembali setelah tiga hari" kata Alan sembari membubuhkan tanda tangan di atas surat cuti Ivana.


__ADS_2