
Helena sudah tiba di pedesaan dan ia mulai menjalankan rutinitasnya sebagai dokter di desa itu. Berkunjung ke rumah pasien dan sesekali mengajak mereka mengobrol mulai dokter Helena lakukan kembali.
Tapi tidak bisa di pungkiri ia menunggu kedatangan Adam. Helena terlihat sedikit gelisah karena Adam belum juga kembali ke desa. Setiap malam mereka bertukar pesan atau menelpon sebentar sebelum tidur. tapi itu tidak cukup bagi Helena. Ia ingin sekali melihat wajah jahil Adam di hadapannya.
Sementara Adam yang berada di kota bergegas menyelesaikan semua urusannya agar bisa kembali berlibur di desa. Yang terpenting baginya saat ini adalah bertemu pujaan hatinya yaitu Helena. Wanita galak dan selalu ketus padanya tapi diam-diam memiliki kelembutan hati yang mampu membius Adam.
Setelah dari kantor pusat Adam kembali ke rumah mewahnya di tengah kota. Ia memasukan beberapa stelan pakaian dan mengganti jasnya dengan jaket berwarna hitam. Ia memeriksa ponselnya, tidak ada pesan dari Helena. Gadis itu terlalu angkuh untuk mengirim pesan lebih dulu pada Adam.
Adam bergegas pergi ke stasiun dengan menumpang taxi agar ia tidak kerepotan jika harus meninggalkan mobilnya di parkiran stasiun.
Saat menuju stasiun Taxi yang di tumpangi Adam mengalami kecelakaan dan membentur bagian belakang sebuah mobil. Adam terpental ke bagian depan dan membentur kaca mobil hingga ia mengalami luka akibat benturan itu.
Helena merasa cemas dan semakin gelisah. Entah kenapa ponsel Adam tidak bisa di hubungi. Ia resah jangan-jangan pria itu melarikan diri setelah apa yang terjadi pada keduanya.
Helena pergi ke rumah Felix sembari mencari tahu apa tuan Felix tahu dimana keberadaan Adam.
__ADS_1
"Sayang sekali dokter, ia bahkan tidak memberiku kabar sama sekali" kata tuan Felix.
Helena terlihat sedikit kecewa dan memutuskan pulang ke rumah dinasnya. Ia menuju dapur dan berniat membuat secangkir latte. Ia kembali teringat Adam yang sering menjahilinya ketika berada di dapur.
Helena mulai merindukan pria itu. "Kemana si bodoh itu?!" gumam Helena sembari menuang air panas kedalam cangkirnya.
***
Adam membuka matanya dan mengedarkan pandangannya. Kepalanya terasa berat dan sakit. Ia juga merasa perih di wajah dan sekujur tubuhnya.
Perawat yang baru saja tiba dan akan memeriksa kondisi Adam segera melapor pada dokter yang menangani Adam.
"Dokter pasien di kamar VVIP itu telah sadar"
Dokter bergegas menuju ruang rawat Adam dan memeriksa kondisinya.
__ADS_1
"Kau mengalami kecelakaan dan sekarang berada di rumah sakit. Oh ya aku telah mengabari ayahmu"
"Ayahku?" Adam terlihat bingung dan
linglung. "Siapa aku?" ia kembali bertanya pada sang dokter yang merawatnya. Dokter itu mengerutkan keningnya dan menatap perawat yang berdiri di samping ranjang Adam.
"Sepertinya benturan keras di kepalamu membuatmu lupa ingatan"
Adam memegangi pelipisnya yang masih di perban.
"Kau tidak ingat siapa nama mu? dan kau juga tidak tahu siapa dirimu?" tanya sang dokter. Adam menggeleng sambil meringis menahan sakit.
"Baiklah kalau begitu, kami harus melakukan pemeriksaan lanjutan terhadapmu. Aku kan bicara terlebih dulu dengan ayahmu, dokter Adam"
Dokter Adam? apa yang dia maksud adalah aku? apakah aku seorang dokter? jadi namaku Adam.
__ADS_1
Adam berteriak histeris ia bahkan tidak mau minum sedikitpun. Ia frustasi karena tidak bisa mengingat apapun. Namanya sendiri saja ia tidak tahu. Perawat memberikan suntikan obat penenang hingga Adam tertidur di ruang perawatannya.