Cinta Dokter

Cinta Dokter
Kerumitan Cinta Segitiga


__ADS_3

Indra siap dengan jas pertunangannya yang sengaja di lesan khusus. Luna juga nampak cantik dengan gaunnya. wajah Luna mempesona dengan makeup sempurna. keduanya akan menjalani sesi pemotretan . acara pertunangannya akan menghiasi harian surat kabar ternama yang di kelola perusaan keluarga Indra. Indra nampak kaku dan tidak bicara sepatah kata pun.Luna tidak ambil pusing dengan sikap Indra yang sudah biasa ia terima.


Adelia memungut surat kabar pagi yang di lempar di depn gerbang rumahnya. foto Indra dan Luna terpampang menghiasi sampul surat kabar itu. Adelia tersenyum getir tapi ia sudah mencoba ikhlas jika ia dan Indra tidak bisa bersama.


Siang itu Adelia berkunjung ke rumah Bianca. keduanya mengobrol banyak. Bianca bisa mengerti perasaan Adelia sekarang. ia mengajak Adelia membahas tentang kesehatan anak di kota terpencil. Adelia nampak antusias dengan topik itu. Adelia pernah berniat pergi ke tempat terpencil dan mengabdi disana seperti yang di lakukan Bianca dahulu. di pengabdiannya itu Bianca bertemu Gavin yang sekarang menjadi suaminya.


"Oh ya kau sudah bertemu Gio?". Tanya Bianca.


"Siapa Gio?, apa ia dokter bari di rumah sakit kita?".


"Bukan, ia adik Gavin. seorang pengusaha dan ia lajang. mungki kau bisa berteman dengannya".


Adelua tersenyum. ia mengingat Indra yang juga pengusaha. ia sedang berfikir mungkin acara pertunangan itu sudah di gelar sekarang.

__ADS_1


"Lupakan Indra, kau berhak bahagia". Kata Bianca menambahkan. Adelia tersenyum dan menghidari tatapan Bianca.


***


Pesta pertunangan di gelar meriah. diadakan di sbuah gedung mewah. Gavin dan Bianca juga di undang untuk hadir. terlihat Luna dan Indra yang berdiri berdampingan, nampak serasi. tidak ada senyum di wajah Indra, sementara Luna sunringah menyambut para tamu undangan. Gavin dan Bianca mendekat memberikan selamat. Indra mendekat pada Bianca ketika Gavin berbicara dengan Luna.


"Apa ia baik-baik saja?". Tanya Indra. ia menanyakan Adelia. Bianca adalah sabat gadis itu pasti Bianca tahu semua apa yang terjadi dengan mereka.


aindra tersenyum mengingat Adelia yang memang selalu sok tegar dan kuat.


"Tenang lah ia akan baik-baik saja. ia hanya butuh waktu untuk....melupakan mu".


wajah Indra berubah semakin sedih. ia tidak rela jika Adelia melupakannya.

__ADS_1


"Ku rasa jika kau mau memperjuangkannya tanpa takut apapun sekarang adalah waktu yang tepat dan belum terlambat. tapi jika kau tidak bisa melakukan apapun ku rasa ia berhak bahagian dengan orang lain. maaf aku harus mengatakan itu Indra. aku sahabatnya, aku tidak rela jika ia selalu bersedih karena mu".


Indra terdiam dan mengangguk. ia mengerti perkataan Bianca padanya. ia juga tidak bisa egois dengan menahan dua wanita disisinya. saat ini ia akan bertunangan dengan Luna gadia pilihan ayahnya. Indra tidak bisa berbuat banyak.


Di kejauhan Bima memandangi tuanbya yang terlihat frustasi. Bima mendekat pada Indra.


"Tuan apa yang bisa saya lakukan untuk mu?"


Bima memberanikan diri membantu Indra meski ia tahu resikonya ketika melawan tuan Biantoro. Indra menepuk bahu Bima.


"Aku butuh bantuan mu". Kata Indra berbisik pada Bima. Indra menghanpiri ayahnya.


"Maaf ayah aku tidak bisa menuruti keinginan ayah. aku tidak bisa menghianati hatiku sendiri. aku tidak memerlukan harta dan kedudukan dari ayah". Indra menyerahkan cincin pertunangannya pada ayahnya. ia berjalan menghampiri Luna dan meminta maaf karena tidak bisa melanjutkan hubungan mereka.

__ADS_1


__ADS_2