Cinta Dokter

Cinta Dokter
Rumah Sakit


__ADS_3

Sopir ayah membantu mengangkat tubuh Athar kedalam mobil dan mengantar ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit petugas medis langsung menghampiri dan sigap memeriksa kondisi Athar.


"Luna?!". Luna membalikan badannya tangannya menengadah penuh darah Athar.


"Gavin!". Luna dan Gavin saling berpelukan.


"Luna kemana saja kau?, kami mencemaskan mu". Luna hanya menangis tidak bisa menjawab pertanyaan Gavin. Gavin memandang Luna yang terkena noda darah. jas putih Gavin ikut kotor.


"Luna ada apa ini?". Tanya Gavin sambil menatap Luna penuh simpati.


"Athar...". Luna menunjuk Athar yang sedang di tangani dan bersiap menuju ruang operasi.


Gavin mengerti pria yang terluka parah itu adalah suami Luna yang tempo hari di ceritakan oleh Beni.


"Bersiaplah, kita ikut ke ruang operasi". Kata Gavin. Luna segera menuju ruang kerjanya dulu ruangan itu masih sama barang-barang tidak ada yang berubah. Luna membersihkan diri dan mengenakan baju untuk ke ruangan operasi.


Di dalam ruangan sudah ada tiga orang dokter Luna, Gavin dan dokter Smith. dokter Smith mengeluarkan peluru di telapak kaki Athar. selama operasi Luna terlihat tidak tenang. Gavin mencoba menenangkan. setelah empat jam berada di ruangan operasi akhirnya Athar di pindahkan ke ruang icu.


"Luna".


"Ibu?". Ibu Athar tiba dengan Amar. keduanya terlihat panik.

__ADS_1


"Bagaimana kondisi Athar?".


"Operasi berjalan lancar tinggal menunggu pemulihan". Kata Gavin, Gavin mengajak Amar untuk menerangkan kondisi Athar. sementara Luna duduk dengan ibu.


"Luna, dokter Hendrawan ingin bicara dengan mu". Kata Amar.


Luna melangkah menuju ruang kerja Gavin.


"Luna kenapa dia bisa terluka separah ini?". Tanya Gavin.


"Entahlah aku bingung menjelaskan pada mu".


"Baiklah, apa kau sudah bertemu ayah mu lagi?, kemarin aku sempat bertemu ayah mu dan mengobrol banyak. ia sepertinya menyukai pribadi Athar". Kata Gavin.


Luna mengangguk. memandang Gavin penuh terimakasih.


Luna terdiam, dipikirannya saat ini hanya ada Athar. Luna masuk ke ruangan icu. ia memeriksa kondisi Athar pasca operasi.


"Kenapa aku bertemu dengan mu?". Bisik Luna sembari meneteskan air matanya.


Hari-hari di jalani Athar dengan perawatan untuk memulihkan kondisinya. Luna dengan sabar menemani Athar untuk terapi berjalan. karena telapak kakinya kemarin terluka parah. Luna menuntun tubuh Athar untuk berjalan selangkah demi selangkah sampai Athar mampu berjalan sendiri.


Sore itu Luna berada di ruang terapi rumah sakit. ia mengamati Athar yang sedang berlatih untuk berjalan sendiri tanpa pegangan. Luna mengamati wajah Athar yang tertunduk diam.

__ADS_1


Donter Smith memperbolehkan Athar untuk pulang karena kondisinya sudah membaik.


"Jika kau butuh bantuan telepon aku". Kata Gavin. ia ikut mengantar Athar dan Luna sampai di parkiran mobil.


"Athar ku harap kau cepat pulih dan bisa menjaga Luna kembali". Gavin menepuk bahu Athar. Athar menatap Gavin sebentar dan langsung masuk ke dalam mobil.


Sesampainya di rumah Athar langsung beristirahat di kamarnya. Luna memeriksa bekas luka tusuk di punggung Athar dan mengganti perbannya.


Dari semenjak sakit sampai pulang ke rumah Athar hanya terdiam. ia tidak bicara dan tidak mengeluh apapun.


Malam itu Luna menunggui Athar yang tertidur tengkurap. Athar masih lebih banyak diam. di tengah malam Athar terjaga, ia membuka matanya dan mendapati Luna tertidur di lantai mendekap novel yang ia baca tadi.


Paginya Athar sudah terlihat pulih, ia dan Luna bejalan santai menuju danau.


"Kau tidak bicara apapun pada ku sejak insiden itu Athar". Kata Luna sembari berjalan di samping Athar. pria itu hanya tersenyum dan memandang pemandangan danau yang sejuk dan tenang.


"Musuh mu banyak sekali, jika suatu saat aku yang terluka seperti mu apa yang akan kau lakukan?". Tanya Luna. Athar menatap Luna tajam.


"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi!". Kata Athar.


"Akhirnya kau bicara juga". Luna tertawa.


"Apa kau tidak punya niat meninggalkan pekerjaan mu yang sekarang?".

__ADS_1


Athar kembali terdiam menatap danau yang luas.


Suatu saat aku akan meninggalkan pekerjaanku yang sekarang dan hidup bersama mu dengan tenang.


__ADS_2