Cinta Dokter

Cinta Dokter
Athar tertusuk


__ADS_3

Luna membuka matanya, ia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Athar di kamar itu.


Athar nampak berdiri di dekat jendela kamar memandang ke depan. Luna duduk di sofa memandangi punggung Athar yang membelakanginya.


"Bersiaplah aku akan pergi ke kota B, kau bisa kerumah ayah mu dulu". Kata Athar tanpa melihat Luna. Luna tidak membantah ia tahu suasana hati Athar sedang buruk. ia bergegas ke kamar mandi membersihkan diri dan mengganti pakaiannya.


Athar bersiap pergi dengan Luna. ibu dan Amar mengejarnya hingga ke halaman depan.


"Athar kau mau kemana?". Tanya Ibu cemas.


"Aku ada urusan di kota B bu, besok aku kembali". Ibu terdiam. Amar memegang bahu ibu menenangkannya. Luna memeluk ibu dan berpamitan.


"Luna sampaikan salam kami pada ayah mu ya".


"Baik bu, kami pergi dulu".


Mobil Athar melaju menembus jalanan. sepanjang perjalanan ia hanya terdiam dengan wajah kakunya. Luna sesekali memandang Athar dan ia sebenarnya masih kesal pada Athar atas semua perbuatannya yang semena-mena. tapi melihat permasalahannya yang rumit Luna sedikit mengampuninya.


Mobil Athar sampai di halaman rumah ayah. ayah membuka pintu gerbang dan menyambut Luna.


Athar melepas kacamata hitamnya dan berjalan mendekati ayah Luna.


"Ayo masuk". Kata Ayah.


"Ayah, aku harus pergi karena ada urusan. Luna akan menginap disini". Kata Athar menitipkan Luna pada ayahnya.


"Baiklah".Kata Ayah senang.


Athar memandang wajah Luna dengan tatapan yang sulit di jelaskan. mata itu yang biasanya menatap tajam dan garang kini terlihat sedih dan tersakiti.


Athar pergi dengan mobilnya sementara Luna dan ayah masuk kedalam rumah.


Athar menginap di sebuah hotel kecil. ia sedang menjalankan misi dari pekerjaannya. meski ia sedang kecewa dan sedih dengan Josh tapi Athar tetap profesional. selama ini Josh mengajarinya mengelola bisnis sampai memegangi Athar debuah perusahaan miliknya. Josh mengajari Athar ilmu beladiri dan menggunakan senjata.


Sedih untuk di katakan karena Josh pula yang membentuk Athar seperti sekarang. terjerat dalam dunia hitam.


Athar mengenakan jaketnya dan duduk diam di depan perapian. udara cukup dingin, minuman di hadapannya sama sekali tak tersentuh. ia memainkan senapan di tangannya.

__ADS_1


Luna di kamar nya sudah mandi dan berganti pakaian. Luna penasaran sebenarnya apa yang terjadi dengan Athar. Luna memutuskan menelpon Amar.


"Ya Luna". Terdengar suara Amar di ujung telepon.


"Amar, maaf mengganggu mu aku ingin tahu sesuatu jika boleh". Kata Luna.


"Tenang Luna tidak masalah, ada apa?".


"Sebenarnya ada apa dengan Athar, sepertinya ada yang sedang mengganggu pikirannya".


"Apa sekarang kau bersamanya?". Tanya Amar.


"Tidak aku di rumah ayah ku, Athar sedang menginap di hotel. katanya ia ada urusan".


"Sulit mrngatakan ini Luna, Aku sendiri juga baru mengetahuinya dari ibu. jika sebenarnya kakak ku berbeda ayah dengan ku dan Yaslin. selama ini yang kami tahu kami adalah saudara kandung bahkan ayahku dan Athar sangat dekat dan saling menyayangi".


Amar terdiam sejenak mengumpulkan ingatannya.


"Setelah ayah tiada Athar membesarkan kami. ia menjadi tulang punggung keluarga kami. Sampai suatu hari ia bertemu Josh yang membuatnya seperti sekarang. dan kau tahu Luna ternyata Josh adalah ayah kandung Athar. ibu menyimpannya selama berpuluh tahun sampai tidak ada yang mengetahui".


Luna menghela nafasnya. ia tahu betapa sakit hati Athar sekarang.


"Baiklah hati-hati Luna".


Luna mematikan telepon dengan Amar. ia duduk di tepi ranjang. mengenang pertemuannya dengan Athar sampai mereka menikah.


Luna mencoba menelpon Athar tapi tidak di angkat. ia menyambar mantel dan tasnya. Luna menurini anak tangga dan berpamitan pada ayahnya.


"Luna ini sudah malam".


"Ayah aku cemas memikirkannya"


"Luna tapi Athar meminta ayah menjagamu disini".


"Ayah aku mengkhawatirkannya, ia sedang tidak baik-baik saja ayah".


"Baiklah anak ku, pergilah dan temui suamimu".

__ADS_1


Luna memeluk ayahnya. dan pergi dengan diantar sopir ayahnya.


Luna, kau benar-benar mencintai pria itu nak.


Ponsel Athar berbunyi ayah Luna menelponnya.


"Athar, Luna keluar rumah ia mencari mu".


Athar mematikan ponselnya dan bergegas keluar hotel. ia menunggu Luna, tak berapa lama Luna tiba dengan diantar sopir ayahnya.


Luna berjalan mendekat ke arah Athar dan memeluknya.


"Kenapa kemari?". Tanya Athar menatap Luna sambil tersenyum.


"Aku sedikit mencemaskan mu". Kata Luna salah tingkah.


Athar tersenyum dan menggenggam tangan Luna berjalan memasuki hotel.


Luna tertidur pulas di kamar hotel. sementara Athar berjaga. ia tahu akan ada yang mencari dirinya ke hotel itu.


Di loby terdengar suara gaduh, senapan yang di tembakan.


Athar membangunkan Luna, Luna menyambar tasnya dan mengikuti Athar melalui pintu belakang.


"Bersembunyilah di sini dan jangan kemana-mana". Bisik Athar. Luna mengangguk, ia berjongkok agar tak terlihat oleh musuh Athar.


Athar mengeluarkan senapan dari pinggangnya dan menembakan ke arah musuhnya. dua orang tumbang karena tembakan itu.


"Pergilah ke arah pintu itu dan keluarlah. sopir ayah masih menunggu di depan. pergilah!" Bisik Athar sembari menggenggam tangan Luna yang dingin karena ketakutan.


Luna menggelengkan kepalanya, ia tidak mau meninggalkan Athar sendirian.


"Pergilah aku akan menyusul mu". Luna menatap mata Athar, ia lalu berlari pergi meninggalkan Athar menuju halaman hotel. sopir sudah menunggunya disana.


Athar melepaskan tembakan dan mengenai beberapa orang lagi. ia berlari menyusul Luna, tapi ada yang melempar pisau tepat di punggungnya. Athar terjatuh darah mengalir, ia tak sadarkan diri. seseorang menembak telapak kaki Athar. Luna berlari menghampiri Athar yang sudah bersimbah darah. waktu terasa terhenti, terasa hening tidak ada suara. tinggal Luna yang memeluk tubuh Athar yang penuh darah.


"Athar?!".

__ADS_1


"Buka mata mu Athar!". Luna mulai panik dan berteriak memanggil Athar.


__ADS_2