
"Jadi kau berbuat senekat itu padanya?" tanya Renata.
Siang itu Alan bertemu dengan sahabat lamanya Renata. Keduanya berteman sejak duduk di bangku sekolah pertama. Meski menempuh pendidikan yang berbeda tapi itu tidak membuat persahabatan mereka berjarak.
Alan berprofesi sebagai dokter sementara Renata ia adalah seorang seniman. Ia melukis, bernyanyi, bermain alat musik seperti piano dan biola.
Renata berasal dari keluarga kalangan atas seperti Alan. Orang tua mereka saling mengenal dan sempat menjodohkan tapi di tolak oleh Alan dan Renata karena mereka hanya murni bersahabat.
Alan menemui Renata di restoran langganan mereka. Ia biasa bercerita banyak hal pada Renata.
"Seperti apa gadis itu? aku jadi penasaran"
"Ia istimewa Ren" pandangan Alan menerawang mengingat wajah seseorang.
"Bukankah kau amat membencinya?"
"Aku bingung terkadang aku membencinya tapi terkadang aku juga merasa ada sesuatu perasaan untuknya"
"Aku tidak pernah melihat kau plin plan seperti sekarang, berarti gadis itu hebat sekali ia bisa membuat mu kebingungan" Renata tertawa melihat ekspresi Alan yang semakin bingung.
"Baiklah apa gadis itu menyukai mu?" tanya Renata lagi.
"Ia sangat membenciku setelah apa yang aku lakukan padanya"
"Lalu bagaimana jika dia mengandung anak mu?"
__ADS_1
"Aku akan bertanggung jawab"
"Caranya? kau bilang ia membenci mu berarti ia tidak akan mau menikah dengan mu"
"Aku akan mengambil anak itu jika terlahir nanti, aku tidak perlu menikahi Ivana jika ia tidak menerima ku"
"Jadi namanya Ivana?"
"Hmmm... dokter Ivana" kata Alan sembari tersenyum kecil.
"Katakan pada ku seperti apa dia?"
"Dia memiliki sepasang mata bulat yang indah, bibir sensual dan senyum yang sangat manis"
"Kau jatuh cinta padanya Alan?"
"Sudahlah" Alan meneguk habis minumannya dan bersiap pergi.
"Tunggu Alan, lusa aku ada pementasan piano kau datang ya?"
"Tentu saja aku pasti datang"
Alan dan Renata berpisah dan kembali pada kesibukan masing-masing. Alan melihat sebentar ke ruang praktek Ivana begitu ia menginjakan kakinya di rumah sakit.
Kemana Ivana pergi? sudah dua hari dan cutinya akan habis besok. Aku harap gadis itu tidak kabur dari ku.
__ADS_1
"Apa sebaiknya aku tanya Dinda tentang keberadaan Ivana. Tapi Dinda pasti menolak memberi tahu" gumam Alan.
Alan berjalan menuju ruang kerjanya. Ia mengenakan jas putihnya dan mulai memeriksa data pasiennya.
***
Ivana memandang kejauhan dengan sorot mata kesal dan kecewa. Ia melihat seseorang yang di kenalnya sedang bersenda gurau dengan wanita cantik. Ya dia Alan, pria itu nampak sedang bersama seorang wanita.
Ivana kebetulan sedang menikmati siang itu dengan berbelanja di pusat perbelanjaan. Ia mampir ke restoran dekat mall itu. Tanpa sengaja ia melihat Alan disana bersama wanita. mereka terlihat akrab dan seperti memiliki hubungan.
Besok cuti Ivana akan berakhir, ia akan kembali ke rumah sakit dan bertemu Alan disana. Rasanya ia tidak memiliki kekuatan untuk memandang wajah Alan.
Setiap kali ia melihat wajah itu ia teringat kejadian naas yang telah di perbuat lelaki itu padanya.
Ivana berjalan menyusuri trotoar di pusat kota. Ia menenteng kantung belanjaan dan berjalan sendirian sembari melamun.
Ponsel Ivana berbunyi ia melihat nama Gerald tertera di layar ponselnya.
"Halo .."
"Iva kau dimana?"
"Jangan ganggu aku Ger pergilah ku mohon"
"Iva aku akan menceraikan Mery dalam waktu dekat"
__ADS_1
"Kalau begitu jangan pernah menemui atau menelpon ku!"
Ivana mematikan ponselnya. ia muak sekali dengan kisruh rumah tangga Gerald dan Mery yang telah menyeretnya kedalam bahaya.