
"Laporkan padaku". Kata Indra yang berdiri di dekat jendela ruang kerjanya. pagi-pagi sekali Bima sudah datang ke rumah Indra membawa informasi lengkap yang diinginkan tuannya.
"Nona Adelia berolah raga setiap pagi di seputaran rumahnya tuan, ia akan berangkat kerja pukul delapan untuk hari senin dan rabu, sisanya ia berangkat siang dan ada hari libur juga".
"Apa dia punya teman lelaki atau kekasih?".
"Tidak ada tuan. teman dekatnya adalah keluarga dokter Hendrawan".
"Orang tuanya tinggal dimana?".
"Nona Adelia di adopsi keluarga kalangan atas tuan. ia hidup mandiri semenjak masuk bangku kuliah. ia mendapat beasiswa untuk sekolah kedokterannya".
"Cukup, kau boleh menghentikan penyelidikan tentang gadis itu".
Bima mengangguk memundurkan langkahnya dan pergi meninggalkan ruang kerja Indra. Indra kembali ke kamarnya untuk mandi karena ada meeting pagi. Bima menunggunya di ruang tengah sambil mengerjakan pekerjaannya melalui laptop.
***
Adelia menghabiskan sarapannya segelas susu hangat dan roti selai kacang. ia bergegas menuju mobilnya meluncur membelah jalanan kota yang sering macet. setibanya dibrumah sakit Adelia memeriksa daftar pasiennya.
__ADS_1
ada kasus anak kecil dengan kekerasan dari orang tua angkatnya. beberapa bagian di tubuh anak itu lebam bekas pukulan. Adelia memastikan bahwa luka itu memang bekas pemukulan. siang nanti ia berniat ke rumah Bianca untuk meminta pendapat tentang kasus itu.
Adelia mengunjungi rumah Bianca. ia mengobrol dengan Bianca soal kasus kekerasan pada anak. dan kebetulan ia memeriksa seorang anak yang di perkirakan mengalami kekerasan fisik.
"Aku rasa kau harus menyelidiki benar soal kasus itu jangan sampai gegabah karena itu akan membahayakan dirimu". Kata Bianca penuh pertimbangan.
"Ku rasa juga begitu, kita baru bisa lapor ke polisi ketika bukti sudah lengkap".
"Apa kau yakin anak itu benar-benar mengalami kekerasan?".
"Benar aku sangat yakin".
"Pihak sekolah. anak itu masih sekolah dasar".
"Orang tuanya?".
"Mereka bukan orang tua sebenarnya, pasangan muda yang mengangkat anak dari sebuah panti asuhan". Adelia merasa sedih karena ia hampir senasib dengan anak itu. Bianca mengerti ia akan mencoba bertanya pada Gavin nanti kalau suaminya itu sudah pulang kerja.
***
__ADS_1
Luna dan Gavin makan siang bersama. Gavin bercerita mengenai Indra. seperti dugaannya Luna memang tertarik dengan sahabatnya itu.Gavin mengatur pertemuan untuk keduanya Luna sudah mengiyakan tinggal ia akan menghubungi Indra.
Sementara Indra di tempat kerjanya terlihat sibuk. ia menekuni laptopnya sedari tadi. Bima masuk ke ruang kerjanya dan menyampaikan ada undangan makan malam.
"Tuan ada undangan makan malam dari tuan Hendrawan".
"Apa disana ada Adelia?". Tanya Indra antusias. ia tentu akan merasa senang jika gadis itu juga di undang oleh Gavin.
"Saya rasa tidak, sepertinya dokter Luna yang akan datang ke undangan itu".
Wajah Indra sedikit kecewa. ia sebenarnya kurang tertarik dengan dokter Luna. bukan masalah apa-apa hanya tidak klik saja.
"Baiklah katakan pada Gavin aku menerima undangannya".
"Baik tuan".
Indra menghubungi ponsel Adelia. ia ingin mendengar suara gadis itu. tapi nampaknya Adelia sedang sibuk sehingga tak mengangkat telepon dari Indra. Bima yang melihat kegelisahan Indra hanya bisa menghela nafas. ia tahu Indra sedang jatuh cinta makanya ia bertingkah di luar nalar. tapi itu tak penting bagi Bima semua pekerjaannya lancar dan Indra tidak mempersulitnya itu yang paling utama. ia akan menjaga kelancaran hubungan Indra dan Adelia.
***
__ADS_1
Adelia mencoba mengumpulkan bukti tetang anak berinisial R yang mengalami kekerasan itu. ia mencoba mendatangi rumah keluarganya. tapi tampak sepi, rumah itu terlihat bagus. sepertinya pasangan yang mengadopsi R memang mapan. lingkungan rumah itu nampak lengang jadi Adelia juga tidak bisa bertanya dan mencari informasi mengenai keluarga itu. sementara R sudah di pulangkan kata pengajar di sekolah, R sudah dua hari tidak masuk sekolah. Adelia khawatir jika terjadi sesuatu pada R. ia perduli pada R dengan alasan kemanusiaan. ia sendiri juga hampir mengalami yang di rasakan oleh R. hanya saja ia lebih beruntung.