Cinta Dokter

Cinta Dokter
Jatuh Hati


__ADS_3

Gavin datang kembali ke rumah ayahnya untuk menjemput Bianca dan Fani. Gio menyambutnya dengan senyum. Gavin berjalan menggendong Fani yang tertidur di temani Tika.


"Aku ingin bicara dengan mu Vin". Tuan Daud berdiri dari duduknya mengajak Gavin dan Gio bicara bertiga. sementara Bianca gantian yang menggendong Fani. ia menidurkan Fani di sofa ruang tamu terlebih dulu sembari menunggu Gavin.


"Ayah senang kau mau berkunjung kemari bersama anak dan istrimu".


Gavin terdiam. ia menyadari kesalahannya selama ini. ia memang tidak berhubungan baik dengan ayahnya.


"Apa kau masih mengurusi kegiatan sosialmu?".


"Masih yah".


"Kak, jika kau perlu bantuan aku selalu siap". Gio menawarkan diri.


Gavin menepuk bahu Gio. ia juga merindukan adiknya itu. Gio tetap hangat padanya meski terkadang Gavin keterlaluan pada adiknya itu.


"Ku harap kau sering-sering bawa Fani kemari".


"Baik ayah". Ketiganya melangkah menuju ruang tamu. Gavin menggendong Fani masuk ke mobil sementara Bianca mengikutinya. Gavin menjalankan mobilnya dan meninggalkan kediaman ayahnya.


***

__ADS_1


Indra duduk di atas kasur, ia sedang membayangkan saat dirinya mencium Adelia tadi. ia merasa jatuh cinta pada gadis itu. Indra melepas kemejanya dan melemparnya ke keranjang kotor. ia pergi mandi sambil bersenandung riang.


Sementara Adelia melamun di kamarnya. ia tidak menyangka Indra akan menciumnya. itu ciuman pertamanya. jantungnya berdebar mau lepas saat lelaki itu mendekat padanya. Adelia membayangkan esok jika bertemu Indra ia mungkin tidak akan berani menatap lelaki itu. Adelia tidak berani berharap lebih. ia dan Indra berbeda jauh. seperti langit dan bumi. masih untung ia di besarkan oleh keluarga yang berkecukupan yang bersedia mengadopsinya. sementara Indra ia selalu berlimpah materi dan kedudukan. ayahnya orang terpandang. keluarganya terlihat berkelas. Adelia berfikir mungkin Luna akan lebih pantas mendampingi Indra. Luna wanita dari kalangan atas dan ia juga cantik. ia lulusan luar negeri dan sekarang bertugas di rumah sakit kelas pertama. Adelia menarik selimutnya dan tertidur. ia terlelap dengan bayangan Indra yang masih menggantung di pikirannya.


***


Pagi hari Indra terlihat senang. ia sudah siap dengan stelan kerjanya ia bankan lebih banyak tersenyum. Bima tahu kemarin Indra baru saja ke rumah Adelia. tapi ia tidak menduga terjadi sesuatu yang lain diantara keduanya.


"Bima bagaimana menurut mu jika aku jatuh hati pada gadis itu".


"Gadis siapa tuan?".


"Adelia siapa lagi". Indra menatap tajam Bima yang tersenyum.


"Bim apa menurutmu ayah ku akan mengganggu hubungan kami?".


Indra teringat percakapannya kemarin dengan ayahnya. ayahnya nampak kurang setuju jika ia dengan Adelia.


"Entalah tuan, saya tidak berani berkomentar".


"Kalau begitu diamlah".

__ADS_1


Indra berjalan menuju mobil, Bima membukakan pintu untuknya. Indra duduk di kursi belakang dengan wajah senang. ia seperti habis memenangkan undian. Bima jadi penasarn sebenarnya apa yang terjadi antara Indra dengan Adelia. kenapa tuannya jadi sesenang itu. Bima menghentikan laju mobilnya di jalan dekat rumah Adelia.


"Kenapa kau membawa ku kemari?". Indra menendang kursi didepannya yang diduduki Bima.


"Bukankah tuan ingin melihat nona Adelia?".


"Memangnya aku memberi mu perintah begitu tadi?".


"Maaf tuan kalau begitu saya akan putar balik".


"Tunggu dulu siapa yang menyuruh mu putar balik, aku ingin melihatnya sebentar".


Bima menghela nafas mencoba bersabar. tak lama Adelia keluar membuka pagar rumah dan tak berapa lama mobilnya keluar melaju melewati mobil Indra dan Bima.


"Dia sangat menakjubkan bukan?".


"Benar tuan".


"Lalu kenapa kau masih disini?, kau pikir aku tidak punya pekerjaan selain memata-matai gadis itu".


"Baik tuan".

__ADS_1


Bima melajukan mobilnya menembus keramaian jalanan kota menuju gedung perkantoran Indra.


Bima berharap kebodohan tuannya tidak akan berlangsung panjang. karena ia bisa kehabisan kesabaran menghadapinya.


__ADS_2