
Josh berada di kediaman keluarga Athar. ibu Athar sedang tampak berbicara padanya di temani Amar dan Yeslin.
Luna mendengarkan pembicaraan itu di tangga menuju lantai bawah. sementara Athar sedang pergi.
"Pergilah!, jika Athar melihat mu disini ia akan membuat keributan. dia baru saja selamat dari insiden yang hampir menghilangkan nyawanya". Kata ibu.
"Aku akan menunggunya, aku ingin bicara penting dengannya tentang pekerjaan".
"Tidak cukupkah kau membuat Athar masuk ke dalam dunia mu?!, apa kau tidak bisa melepaskannya?".
"Tidak, dia yang akan mewarisi semua usaha ku".
Ibu terlihat jengah, ia terlihat lelah berdebat dengan pria itu. Luna menatap pria bernama Josh itu. sekilas memang wajah Athar mirip sekali dengannya. mereka memiliki bentuk hidung dan rahang yang sama. cara mereka tersenyum pun mirip.
Athar tiba di rumahnya. di ruang tengah ia melihat Josh dan ibunya sedang berdebat. Athar melangkah cepat menaiki anak tangga menuju kamar.
"Athar!". Ibu memanggilnya, tapi Athar tidak mempedulikanya.
Ditangga Athar menatap Luna yang sedang menguping pembicaraan ibunya dan Josh. ia memegang lengan Luna dan menariknya menuju kamar.
Athar terdiam ia duduk di sofa di sebelah Luna.
"Kau baik-baik saja?". Tanya Luna.
"Athar lebih baik kau temui .....".Luna menghentikan ucapannya karena Athar mencium bibir Luna. meraba leher jenjang Luna dengan tangannya yang keras. kulit Luna yang putih dan halus terasa seperti kapas di tangan Athar.
Athar ******* bibir Luna dan menarik tali baju Luna. Luna terdiam, ia menerima perlakuan Athar padanya. ia sepenuhnya menganggap pria itu suami sahnya. terlebih ada cinta di hati Luna untuk Athar. pria yang selama ini ia benci setengah mati.
Keduanya berbaring di kasur dengan selimut menutupi sebagian tubuh mereka. Luna meraba luka di punggung Athar. di dekat luka itu ada tato berbentuk peluru.
"Apa kau mencintai ku?". Tanya Luna pada Athar.
"Hmmm". Jawab Athar sambil memejamkan matanya.
"Athar besok aku mulai bekerja di rumah sakit lagi, kau tidak lupa bukan?".
"Hmmm".
"Bisa kah kau bicara sesuatu pada ku jangan hanya bergumam seperti itu?!".
"Baiklah dokter". Kata Athar ia memegang lembut wajah Luna.
__ADS_1
"Josh katanya ingin berbicara dengan mu, apa sebaiknya kau temui dia dulu?" .
"Dia sedang berencana melenyapkan orang, karena itu ia mencari ku". Kata Athar santai. Luna yang mendengar langsung pucat. ia bergegas ke kamar mandi menyembunyikan wajah takutnya. bayangan Jos dan Athar ketika melenyapkan pria malang yang dulu menjadi tawanan mereka pun melintas.
Athar mengetuk pintu kamar mandi.
"Sedang apa kau di dalam sana?". Tanya Athar.
"Mandi, pergilah!".
Athar membalikan badannya dan pergi keluar kamar. ia melihat ibunya duduk seorang diri di ruang tengah.
"Athar".
"Apa dia sudah pergi?". Ibu mengangguk wajahnya terlihat sedih dan sembab karena menangis.
"Apa aku perlu melenyapkannya jika ia menyakiti mu bu".
"Tidak Athar jangan bodoh!".
Athar pergi ke rumah Amar bersama Luna. Amar memiliki dua orang anak yang lucu-lucu yang satu berusia 5 tahun dan yang satu lagi masih bayi.
Terkadang kau galak, pemarah dan tidak mau kalah. tapi kau juga baik dan menyayangi para pasien mu. bahkan sekarang kau nampak seperti seorang ibu sungguhan.
Athar tersenyum, Amar yang melihat Athar memandangi Luna ikut senang. ia menepuk bahu kakak nya itu.
"Apa kalian sudah berencana memiliki anak?". Tanya Amar. Athar merangkul adiknya dan berjalan menuju ruang kerja Amar.
"Kakak apa kau akan menemui Josh?". Tanya Amar hati-hati karena Athar sangat sensitif tentang Josh. terlebih sekarang ia sedang memainkan senapan di tangannya. Amar tidak mau membuat kakaknya jengkel, bisa-bisa senapan itu meledakan dada atau kepalanya.
"Aku sedang ada pekerjaan penting dengannya. masalah ku dengannya akan ku selesaikan setelah pekerjaan ku selesai".
"Apa aku boleh tahu pekerjaan apa itu?, kak jangan membuat masalah lagi kau bisa di hukum. dan aku sudah tiga kali memebebaskan mu dari jerat hukum. aku harap kau berhati-hati sekarang. pikirkan Luna".
Athar terdiam. Amar benar, sekarang ia bertanggung jawab atas istrinya.
"Sepertinya dia memang mencintai mu, saat kau sakit kemarin dia benar-benar merawat mu dengan telaten bahkan ia kelelahan karena kurang tidur". Amar mengingat ketika ia memaksa Luna beristirahat dan bergantian menjaga Athar.
"Aku akan pergi sebentar, ku tinggal Luna disini. nanti aku akan menjemputnya".
"Baiklah".
__ADS_1
Athar menyelipkan senapan di pinggangnya.
"Kau akan pergi?". Tanya Luna menghampiri Athar.
"Kau disini sebentar aku akan menjemput mu nanti".
Luna menurut saja, sebenarnya ia penasaran akan kemana Athar.
Athar tiba di kediaman Josh, ia berjalan cepat menuju ruang kerja Josh.
Dor...dor...dor...!
Terdengar bunyi senapan, Athar membuka pintu ruang kerja Josh dan melihat seorang pria musuh mereka mati tergeletak dengan luka tembak.
"Kau tidak perlu mengotori tangan mu, aku yang membereskannya". Kata Josh. Athar menatap Josh. memandang wajah bos mafia itu dari arah samping. mata Athar hampir berkaca-kaca. mengingat kenyataan jika benar Josh adalah ayah kandungnya.
Athar menyeret pria itu dan memasukannya kedalan kantong besar. ia mengangkat tubuh pria malang itu kedalam bagasi mobilnya.
Athar pergi untuk menjemput Luna di rumah Amar. Tania memberi bikisan untuk mereka dan ibu. Luna dan Tania berinisiatif menaruh bingkisan itu di bagasi mobil Athar. bagasi mobil sedikit terbuka, dari kejauhan Amar bisa melihat sebuah tangan.
Amar menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. membayangkan jika Luna dan Tania melihatnya. tapi Athar segera menutup kembali bagasi mobilnya dengan menghamtamkan tangannya.
"Taruh saja di depan". Katanya sambil melirik Amar.
Tania merasa ada yang aneh dengan kakak iparnya. tapi ia ingat Athar memang begitu orangnya.
"Sampai jumpa Tania". Kata Luna sambil masuk kedalam mobil Athar.
Athar melajukan mkbilnya menuju rumah. begitu turun dari mobil Athar menerima telepon sehingga menyingkir dari Luna. Luna penasaran kenapa Athar terlihat marah saat ia membuka bagasi mobilnya. Luna mengulangi membuka bagasi mobil itu dan ia hampir pingsan mendapati mayat seorang pria disana. Luna menutup mulutnya dan menangis. ia gemetar membayangkan Athar menembak pria itu.
"Athar.....". Kata Luna dengan bibir bergetar. Athar yang sudah tertangkap basah tidak bisa lagi mengelak dari Luna. ia menarik lengan Luna dengan kasarnya.
"Athar ada apa ini?". Teriak ibu melihat Luna menangis. Athar tidak bergeming ia mendorong tubuh Luna di kasur.
"Dengar inilah perbedaan kita dokter. kita sama-sama dekat dengan darah tapi kau bertugas menyelamatkan dan aku melenyapkan!".
Luna bergidik ngeri mendengar ucapan Athar. ia ketakutan dan bingung.
"Tom urusi mayat itu dari bagasi mobil ku". Kata Athar dingin. Tom adalah orang kepercayaan Josh yang di tugaskan membantu Athar.
Athar menatap Luna yang ketakutan, ia mendekat dan mengusap air mata Luna. Luna memalingkan wajahnya. ia marah dan kecewa pada pria itu.
__ADS_1