
Gavin bertemu dokter Smith di ruang kerja direktur. dokter Smith yang menjabat direktur di rumah sakit itu.
"Duduk lah dokter Hendrawan".
"Maaf kalau kemarin saya keterlaluan dokter". dokter Smith mengangguk sembari tersenyum.
"Tugas kita sebagai dokter memanglah tidak mudah. saya tahu operasi yang akan kita jalani kemarin memang berbahaya dan tingkat keberhasilannya rendah. tapi sebagai seorang dokter kita juga tidak bisa membiarkan pasien merasakan sakit lebih lama. sebagai dokter kita harus bisa mengupayakan yang terbaik". Gavin terdiam mendengar nasehat dokter seniornya.
***
Indra berjalan menuju meja kerjanya. ia melirik jam tangannya meeting mingguan akan di mulai sepuluh menit lagi. ia mengingat pertemuannya dengan Gavin tadi pagi. Indra berniat mampir ke rumah Gavin nanti memenuhi undangan sahabatnya itu.
Sementara Gavin pulang awal dari rumah sakit. ia menelpon Bianca sebelumnya kalau akan ada teman lamanya yang akan berkunjung ke rumah. Bianca dan Wasti menyiapkan beberapa masakan dan camilan untuk menyambut tamu. Gavin juga mengundang Luna untuk datang ke rumah.
Luna mengikuti langkah Gavin menuju rumah. Luna tercengang dengan halaman rumah Gavin yang luas dan terawat. banyak tanaman dari bunga hingga buah. yang menarik perhatian Luna adalah tanaman bunga mawar yang terawat dan indah.
"Bianca suka berkebun". Gavin mengerti arti tatapan Luna saat melihat tanaman-tanaman itu.
"Papa". Fani berlari menyambut ayahnya. Gavin langsung menggendong Fani.
__ADS_1
"Fani ini tante Luna ayo beri salam". Fani sumringah menyambut tangan Luna. Bianca muncul dari dapur. Luna terpana melihat kecantikan istri Gavin. begitulah wanita ketika melihat yang lebih cantik darinya ia juga akan merasa kagum sekaligus iri.
"Sayang ini dokter Luna".
"Apa kabar dokter Luna?, saya Bianca". Kata Bianca ramah sembari menggamit lengan Gavin.
"Hai dokter Bianca senang bertemu dengan mu".
"Panggil saja Bianca".
"Panggil saya juga Luna saja".
"Masaknya banyak sekali sayang?". Gavin takjub melihat hidangan di meja makan.
"Adelia juga akan kemari".
Tak berapa lama Indra datang. ia memberi salam, Gavin menyambutnya dengan senang. Gavin mengenalkan Indra pada Bianca dan Luna. Luna mandang Indra yang tak kalah tampan dari Gavin. postur tubuhnya tinggi dan tegap. pakaiannya juga necis dengan jas mahalnya. senyum Indra sangat menawan. Luna sempat tersihir sesaat.
Gavin terlihat mengenalkan Indra dengan Luna. keduanya langsung berbincang. sementara Gavin dan Bianca di meja makan membantu Wasti menyiapkan beberapa piring dan gelas minuman.
__ADS_1
Adelia juga tiba. ia berjalan menghampiri tuan rumah.
"Oh ya kenalkan ini dokter Luna dan tuan indra". Bianca mengenalkan mereka pada Adelia.
"Adelia". Kata Adelia ramah.
"Tepatnya dokter Adelia". Gavin setengah berteriak dari meja makan. ia menjelaskan titel dari Adelia.
Adelia berperawakan kecil. kulitnya kuning langsat. rambut ikal dan sepasang mata indah yang bisa menyihir dengan tatapannya. berbeda dengan Luna yang memiliki wajah cantik dan tegas kalau Adelia berwajah manis dan terkesan sendu.
"Kau bekerja di rumah sakit mana?". Tanya Luna pada Adelia.
"Di rumah sakit Xx". Luna mengangguk. itu rumah sakit ternama kelas dua.
Indra mendengarkan dua wanita itu mengobrol. ia menikmati pemandangan di depannya. Gavin datang mengajak Indra mengobrol bernostalgia pada masa lalu mereka.
Tibalah waktunya makan malam. semua duduk di meja makan. Fani sudah tertidur karena lelah bermain.
Bianca mempersilahkan semua tamu untuk menyantap hidangannya. ia mengambilkan untuk Gavin. sementara Luna mengambil lauk untuk Indra. kedua nya tertawa terlihat akrab. Adelia cuek dan menyantap makanannya tanpa menoleh pada Indra.
__ADS_1