Cinta Dokter

Cinta Dokter
Bonus Part (Kisah Yang Sama)


__ADS_3

"Tunggu Helen!" Adam meraih lengan Helena yang hampir melangkah keluar ruang meeting. Dokter Reiner terlihat terkejut dengan kejadian itu.


"Kalian saling mengenal?" tanya dokter Reiner tak percaya orang seperti Helena bisa mengenal Adam yang konglomerat pemilik yayasan.


"Tidak" jawab Helena singkat dan melangkah pergi setelah ia menghempaskan tangan Adam. Tapi Adam tak patah arang, ia mengejar Helena sampai ke lift.


"Kau membohongiku" kata Helena tanpa memandang wajah Adam. Pandangannya tetap lurus ke pintu lift yang tertutup rapat.


Adam tersenyum, ia menoleh dan memandang wajah manis Helena.


"Aku tidak membohongimu Helen, tapi kau tidak peduli padaku sejak kita bertemu di rumah Felix"


Helena terlihat salah tingkah, memang yang di ucapkan oleh Adam benar adanya. Ia mengabaikan pria itu dan bahkan mengira Adam adalah tukang ledeng.


"Kenapa kau bisa berada di tempat itu Helen?"


"Kau sendiri, orang terpandang dan kaya raya kenapa berada di sana juga?"


"Aku berlibur..."


"Berlibur?" Helena menahan tawa. Alasan Adam sungguh konyol.


"Apa kau kekurangan uang untuk berlibur ke luar negeri? atau tempat mewah lainnya?"


Adam sudah biasa bepergian ketempat bagus, ia ingin mencoba hal baru dan sekalian memantau kondisi kesehatan penduduk di desa pinggiran. Tapi ia ragu mengatakannya pada Helena.


"Lusa ada penyelenggaraan badan amal yang di gelar di kapal pesiar. Kita ada gabungan dengan beberapa yayasan dan donatur utama para pengusaha. Kau ikut ya..."

__ADS_1


"Aku di tugaskan di desa pinggiran, tidak ada perintah dari dokter Reiner. Jadi aku tidak akan pergi".


"Baiklah, kapan kau kembali ke desa?"


"Nanti sore"


Pintu lift terbuka dan Helena melangkah pergi meninggalkan rumah sakit. Ia sudah tidak ada kepentingan disana, tugasnya adalah di rumah sakit desa.


Helena teringat ia membutuhkan catatan medis beberapa pasien. Ia menghubungi dokter Bianca yang kebetulan bekerja di salah satu rumah skait besar di kota itu.


"Halo...hai dokter Bianca, bisakah aku meminta bantuanmu?"


"Katakan Helena?"


"Apa kau sibuk hari ini? kebetulan aku sedang berada di kota. Kalau bisa kita bertemu saja bagaimana?"


"Kedai kopi J&W"


"Baiklah aku kesana sekarang"


"Baiklah dokter"


Helena tersentak ketika mendengar klakson mobil di bunyikan di belakangnya. Sebuah mobil sport berwarna merah berhenti di dekat Helena.


"Helen masuklah" rupanya Adam pemilik mobil itu. Karena Helena juga sedang terburu-buru akhirnya ia ikut menumpang mobil milik Adam.


"Kemana kita?" tanya Adam sambil mengemudi.

__ADS_1


"Kedai kopi J&W"


"Aha kau mengajakku minum kopi? akhirnya..."


Helena mendengus kesal, pria di sampingnya terlalu percaya diri.


"Aku akan bertemu seseorang"


"Oh ya apa seorang pria?"


"Benar"


Adam mengangguk. Tak berapa lama mobil Adam sampai di depan kedai kopi. Adam tidak ikut turun karena Helena bilang akan bertemu teman prianya. Tapi diam-diam Adam melihat dari kejauhan. Ia tersenyum menyeringai ketika memandang Helena ternyata bertemu Bianca yang kebetulan adalah istri dari teman dekatnya yaitu Gavin.


"Kau membohongiku Helen..." gumam Adam sembari tersenyum. Ia melangkah pergi menuju rumahnya untuk beristirahat. Nanti sore ia akan ikut kembali ke desa bersama Helena.


Di salah satu meja di kedai kopi terkenal itu, Helena mengobrol dengan Bianca. Dokter Bianca memberikan catatan medis beberapa pasien yang di minta oleh Helena.


"Kau Betah disana?" tanya Bianca.


"Iya aku senang tinggal disana, mereka hangat dan baik sekali kepadaku"


"Syukurlah, Helena kau akan menemukan banyak hal disana sama sepertiku yang memulai sesuatu yang baru dalam hidup juga di mulai dari desa itu"


"Benarkah? kau bertemu suamimu juga di sana?"


"Tepat sekali" senyum cerah Bianca mengembang sementara Helena entah kenapa ia membayangkan sosok Adam yang akan menjadi suaminya kelak, sama seperti kisah cinta Bianca dan Gavin.

__ADS_1


__ADS_2