
Jadwal praktek dokter Ivana telah di buka. Ia bersiap di balik meja kerjanya sembari melihat daftar pasiennya hari itu.
"Dokter selesai praktik anda di minta ke ruang kerja dokter Kief" kata perawat.
"Baiklah" Ivana mengerutkan dahinya. Ia tidak berpikir ada sesuatu yang buruk dan kembali melanjutkan pekerjaannya menerima pasien.
Selesai dengan prakteknya dokter Ivana bergegas menuju ke ruang kerja atasannya yaitu dokter Kief.
"Dokter memanggil saya?"
"Hei Ivana duduklah ada yang ingin aku bicarakan pada mu"
"Tentang apa dokter?"
"Rumah sakit mendapat pengaduan dari orang tua pasien. Ia bilang anaknya semakin bermasalah sejak kau tangani"
"Apa? siapa nama pasiennya?"
Dokter Kief memberikan data pasien itu pada dokter Ivana. Dengan terkejut Ivana membaca nama pasien yang tertera disana. Beben itu adalah nama si pasien.
"Ibu Beben bilang anaknya diare semakin parah sejak meminum resep dari mu"
"Tidak mungkin dokter Kief, saya sudah memeriksa dan memberikan diagnosis yang benar. Obat yang saya resepkan memang sudah benar"
__ADS_1
Pintu ruang kerja dokter Kief terbuka, seseorang muncul dan masuk ke ruangan itu. Ia adalah dokter Alan sang pemilik rumah sakit sekaligus dokter disana.
Dokter Alan memandang sinis pada Ivana. Ia terdiam sembari mendengarkan alibi yang di berikan oleh dokter cantik itu.
"Kasus ini masih dalam penyelidikan Ivana, aku harap kau tidak bersalah karena ini bisa sangat berbahaya untuk pasien dan untuk citra rumah sakit kita"
"Jika kau tidak bisa bekerja dengan baik, kenapa kau menjadi dokter di rumah sakit ini?" kata Alan ketus dan tajam, ucapan barusan itu serasa menusuk kalbu Ivana. ia hampir menangis saat mendengar ucapan dokter Alan tadi.
"Baiklah saya akan buktikan jika saya tidak bersalah dalam kasus ini"
"Aku rasa memang kau harus membuktikannya!" kata Alan lebih tegas lagi.
"Sudah....sudah begini saja, Ivana pihak rumah sakit sedang mengirim tim investigasi untuk mencari tahu tentang kasus ini jangan sampai berujung mall praktek"
"Apa?!"
Secara kepemilikan rumah sakit itu memang milik dokter Alan. Ayah nya mewariskannya pada Alan tapi secara pengalaman dan struktur organisasi rumah sakit dokter Kief lebih berwenang di banding Alan. Karena itu ia tidak bisa seenaknya menolak perintah dokter Kief.
Kenapa aku harus membantu si pelakor ini? biarkan saja ia menerima karma dari perbuatanya!
"Jadi apa tindakan mu?" tanya dokter Alan sembari mensejajarkan langkahnya dengan langkah Ivana.
"Saya akan ke rumah Beben"
__ADS_1
"Untuk apa?"
"Saya ingin melihat kondisi Beben, kalau benar dia sakit parah yang pertama harus kita lakukan adalah memberikan perawatan di rumah sakit ini secara cuma-cuma"
"Cuma-cuma? memangnya ini rumah sakit moyang mu?!"
"Tolonglah dokter, jika anda tidak mengizinkan hal itu maka saya yang aakkaan membayar biaya untuk perawatan Beben"
Alan menghela napas kasar, ia gusar dan kesal dengan Ivana. Wanita itu sama keras kepalanya dengan adiknya hanya bedanya Ivana wanita lebih cerdas dan mandiri.
Alan berganti pakaian, ia mengenakan kemeja berwarna navy dan jas hitam. Dengan mobil sport nya ia mengantarkan Ivana ke rumah Beben.
Selama perjalanan menuju rumah Beben, keduanya hanya terdiam dan saling memasang wajah ketus.
Ponsel Ivana berbunyi, nama Gery tertera di layar ponselnya. Alan melirik dan menyeringai.
"Kenapa kau tidak mengangkat panggilan telepon dari kekasih mu?"
Ivana terkejut mendengar ucapan Alan barusan.
"Dia bukan kekasih ku"
Kau bilang dia bukan kekasih mu?! memang aku percaya pada mu dasar pelakor! sudah terbukti Gary menelpon mu barusan.
__ADS_1