Cinta Dokter

Cinta Dokter
Kelahiran Fani Hendrawan


__ADS_3

Tiba waktunya Bianca melahirkan. Gavin di telpon tengah malam oleh ibu mertuanya. ia bergegas menuju rumah Bianca. Gavin membawa Bianca ke rumah sakit. Bianca segera di tangani. dalam proses persalinan Bianca hanya mau di temani oleh ibunya. ia tidak mengizinkan Gavin ikut masuk. Gavin menunggu dengan cemas di luar. ia mengaduk rambutnya gelisah. rasanya ingin sekali merokok disituasi seperti ini. Gavin sudah lama berhenti merokok. profesinya sebagai dokter membuatnya berhenti bersentuhan dengan rokok. hanya sesekali saja ketika berkumpul dengan teman-temannya. terdengar dari dalam ruangan tangis seorang bayi. Gavin panik ia ingin sekali masuk dan melihat kodisi Bianca dan bayinya. setelah beberapa saat Gavin di izinkan masuk ia melihat anaknya. anak lelaki yang sehat dan lucu. Gavin menggendongnya. Bianca memberi nama anaknya Fani Hendrawan.


"Bianca lihatlah lucu sekali bukan?". Gavin menggendong Fani dan menyodorkan pada Bianca. Bianca melengos tak mau memegang Fani.


"Dia anak mu ambilah aku tidak perduli".


"Dia juga anak mu Bian".


Fani kecil menangis ingin menyusu pada ibunya.


"Bian Fani haus ia ingin menyusu".


"Berikan ia susu formula".


"Bianca tega sekali kau!". Gavin murka dengan sikap keterlaluan Bianca pada anaknya.

__ADS_1


"Baiklah aku akan menyusuinya tapi kau harus membayar padaku".


"Gila!, menyusui anak mu sendiri kenapa harus di bayar?".


"Dia anak mu!". Bianca tak kalah histeris.


"Baiklah aku ayah dan anak akan sangat berterimakasih jika kau mau menyusuinya. aku akan menuruti permintaan mu". Bianca menerima Fani dalam gendongannya. ia menyusui Fani.


***


Bianca sedang sibuk dengan makalahnya. ia akan melanjutkan pendidikan kedokterannya. Fani tinggal bersamanya sedang Gavin tetap di rumahnya sendiri. setiap malam.Gavin mengunjungi anaknya. ia menyambangi rumah keluarga Bianca. malam itu Fani rewel sekali ia ingin menyusu pada ibunya, dan mengajak ibunya bermain. Bianca menolak karena ada Gavin. ia sengaja ingin membuat Gavin sedih.


"Bawalah!".


Gavin semakin terluka melihat perlakuan Bianca pada Fani. Gavin membawa Fani ke rumahnya. Fani di rawat oleh Gavin dan suster yang membantunya. Fani berusia lima tahun sekarang. ia tumbuh sehat dan kuat juga pintar. setiap malam minggu ia tidur di rumah Bianca.

__ADS_1


"Mama aku besok mau jalan-jalan ma".


"Fani mama besok sibuk, ajak papa saja ya".


"Tapi Fani mau pergi sama papa dan mama".


"Fani tidak boleh nakal ya,".


Fani mengangguk. ia tidak berhasil membujuk ibunya. sementara Gavin menitipkan Fani karena ia juga sibuk. ada seminar keluar kota dan ia harus mengisinya.


Bianca membuka emailnya. ada email masuk dari Nicolas yang menanyakan kabarnya. Bianca tersenyum masam membaca email itu. sekarang ia sudah hancur Nico tak akan mau menerimanya. Bianca tak membalas email itu. Bianca menelpon Gavin. saatnya ia menjemput Fani.


"Besok akan ku jemput Fani, aku sedang di luar kota ada seminar".


"Seminar dengan para dokter baru yang mengincarmu?". Bukan rahasia bila ketampanan Gavin menjadi rebutan di kalangan juniornya. bahkan para wanita berebut mendekati Fani karena ingin memenangkan hati ayahnya.

__ADS_1


"Sudahlah aku sedang malas berdebat pada mu, jaga Fani baik-baik aku akan menjemputnya besok". Gavin menutup sambungan telponnya. Bianca geram sekali.


"Lihatlah Fani papa mu pintar sekali". Gumam Bianca pelan. ia tak bermaksud Fani mendengar ucapannya. sebenarnya Bianca sangat menyayangi Fani. tapi ketika melihat Fani ia merasakan trauma masa lalu dengan Gavin.


__ADS_2