Cinta Dokter

Cinta Dokter
Part 90 Pelajaran Untuk Pelakor


__ADS_3

Ivana hadir di pesta ulang tahun seorang sahabat lama nya dan Dinda. Kebetulan sahabatnya itu adalah salah satu sosialita ternama. Tamu yang hadir juga dari kalangan atas.


Ivana mengenakan dress selutut berwarna navy yang membuat kulitnya terlihat semakin putih dan cerah. Sementara Dinda mengenakan dress pendek berwarna biru muda di padu dengan sepatu dan tas senada.


Keduanya sama-sama cantik dan terlihat mencuri perhatian.


Acara di mulai dengan tiup lilin dan potong kue sebagai formalitas. selanjutnya dentuman musik membahana memenuhi ruangan. tamu undangan asyik berdansa mengikuti alunan musik.


Gerald mendekati Ivana, kebetulan ia juga salah satu tamu undangan dari si sosialita itu.


"Ivana kau disini?" Kata Gerald berbasa-basi. Ia jelas tahu Ivana dan Dinda berteman dengan si empunya pesta.


"Gerald?!" Ivana langsung berjalan pergi. Tapi Gerald mengejarnya.


Alan dan Mery yang juga merupakan tamu undangan melihat kejadian itu dan mengamati dari kejauhan.


"Lagi-lagi pelakor itu!" Mery menahan tangisnya. Alan ikut marah melihat adik iparnya dengan sengaja menggoda Ivana.


Rupanya kau tidak ada kapoknya dengan peringatanku, dasar pelakor! batin Alan. Ivana hadir di pesta ulang tahun seorang sahabat lama nya dan Dinda. Kebetulan sahabatnya itu adalah salah satu sosialita ternama. Tamu yang hadir juga dari kalangan atas.


Ivana mengenakan dress selutut berwarna navy yang membuat kulitnya terlihat semakin putih dan cerah. Sementara Dinda mengenakan dress pendek berwarna biru muda di padu dengan sepatu dan tas senada.


Keduanya sama-sama cantik dan terlihat mencuri perhatian.


Acara di mulai dengan tiup lilin dan potong kue sebagai formalitas selanjutnya dentuman musik membahana memenuhi ruangan.


Gerald mendekati Ivana, kebetulan ia juga salah satu tamu undangan dari si sosialita itu.


"Ivana kau disini?" Kata Gerald berbasa-basi. Ia jelas tahu Ivana dan Dinda berteman dengan si empunya pesta.


"Gerald?!" Ivana langsung berjalan pergi. Tapi Gerald mengejarnya.


Alan dan Mery melihat kejadian itu dan mengamati dari kejauhan.


"Lagi-lagi pelakor itu!" Mery menahan tangisnya. Alan ikut marah melihat adik iparnya dengaan sengaja menggoda Ivana.


Rupanya kau tidak ada kapoknya dengan peringatanku, dasar pelakor!

__ADS_1


Alan mengejar langkah Ivana dan Gerald.


"Oh bagus sekali, apa yang kalian lakukan ini sungguh menakjubkan" Alan bertepuk tangan secara dramatis. Gerald memucat tapi ia tidak menyerah. Kali ini ia akan meninggalkan Mery di hadapan kakaknya.


"Dokter Alan..." Ivana bergumam sembari memandang Alan. Ia mencoba menjelaskan melalui tatapan matanya jika ini bukanlah kemauannya. Ia tidak pernah tertarik dengan Gerald begitu tahu pria itu sudah beristri.


"Ivana aku tidak menyangka jika kau seberani ini" Alan menyeringai marah menatap tajam ke arah Ivana.


"Kakak bukankah pelakor ini bekerja di rumah sakit milik kakak? Pecat saja dia dan jangan biarkan dia mendapat pekerjaan di rumah sakit manapun!" Kata Mery sadis.


Air mata Ivana mengalir, ia tidak berdaya di keroyok seperti itu. Dinda memberikan pembelaan tapi juga percuma saja.


"Jangan banyak bicara Mery! Mulai sekarang aku akan meninggalkan mu dan kita berpisah! Akan ku urus di pengadilan, kau tinggal terima beres saja"


Gerald melangkah pergi setelah mengatakan itu pada Mery. Alan tertegun ia memandang adiknya yang hampir pingsan.


"Mery kau tak apa-apa?" Tanya Alan.


Mery hanya terdiam melangkah lunglai meninggalkan pesta. Ia memasuki mobilnya dan diantar sopir untuk pulang.


"Semua ini karena mu!" Alan tak bisa membendung kemarahannya pada Ivana. Ia menarik kasar lengan Ivana menuju mobilnya. Dinda pontang panting mengejar Ivana dan Alan.


Di dekat danau itu ada sebuah rumah bergaya klasik. Rupanya rumah itu milik Alan.


Dengan kasar Alan menyeret Ivana memasuki rumah dan menutup pintunya. Ia mengunci dan memasukan kunci itu kedalam saku celananya.


"Kau menghancurkan masa depan adikku, maka kau juga harus menerima akibatnya" mata Alan memerah membuat Ivana ngeri. Ia seperti melihat pria berbeda di hadapannya.


"Dokter Alan apa yang akan kau lakukan? aku mohon ini hanya salah paham!"


Alan melepas jasnya dan membuka seluruh kancing kemejanya. Keringat dingin muncul di dahi Ivana ia mencoba lari tapi Alan sudah mengunci pintunya. Ivana berteriak meminta tolong tapi percuma saja rumah itu terpencil di pinggir danau.


Alan mendekatkan langkahnya kepada Ivana yang terpojok di dekat pintu keluar. Wajah Alan mendekat ke wajah cantik Ivana. Aroma minuman tercium dari bibir Alan yang kemerahan. Pria itu belum bercukur wajahnya di tumbuhi bulu halus.


"Alan aku mohon kendalikan diri mu! Aku bisa jelaskan semua" Ivana terlihat memelas.


Alan menyergap kedua tangan Ivana dan mengikat dengan dasinya.

__ADS_1


"Jika kau tidak bisa diam maka aku akan menutup mulutnya yang manis itu" bisik Alan di telinga Ivana.


"Di bagian mana Gerald pernah menyentuh mu? Apakah di bibir?" Alan dengan agresif ******* bibir Ivana dan memagutnya.


Ivana dengan sisa tenaganya mencoba mendorong tubuh tinggi tegap Alan. Tapi pria itu semakin brutal padanya.


"Apa dia juga menyentuh bagian tubuh mu Yang lain?"


"Cuih!" Ivana meludahi wajah Alan karena marah dan sakit hati. Ia di perlakukan seperti wanita murahan oleh Alan.


Alan semakin murka dengan perlakuan Ivana tadi. kali ini tanpa bicara lagi Akan mulai menarik dress Ivana hingga robek. Secara kasar ia membuka dress itu.


Tampak pemandangan indah di hadapannya. Dengan kedua tangannya ia menyentuh leher Ivana dan bibirnya menggerayangi dada wanita itu. Ivana terisak tertahan.


Hancur sudah masa depannya. Cita-citanya menjadi dokter anak dan membuka praktek sendiri telah raib di renggut oleh kebejatan sikap Alan. reputasinya akan hancur setelah peristiwa ini.


Alan membuka ikat pinggangnya dan menariknya dengan kasar. Deru napasnya terdengar mengerikan di telinga Ivana. Pria itu dengan sengaja telah melukai harga diri Ivana.


Untuk terakhir kali Ivana memelas pada Alan agar mengampuninya dan tidak sampai berbuat sesuatu padanya.


Ivana menjerit ketika sesuatu memaksa melesak masuk dalam dirinya. Tangannya terikat kebelakang mengepal menahan rasa sakit, malu dan hancur.


Alan terus melampiaskan kemarahannya pada Ivana. Dengan leluasa ia menikmati tubuh indah Ivana.


Dia masih perawan...? Ivana kau....


Alan menghentikan gerakannya tapi bagi Ivana semua terlambat. Ia menyadari ada sesuatu mengalir di bawah sana. Ivana terkulai dan jatuh pingsan.


Alan membawanya ke rumah sakit untuk pemeriksaan. Ia memeriksa sendiri kondisi Ivana. Alan yang merawat luka-luka di tubuh Ivana.


Pikiran waras Alan telah kembali, ia menyesali perbuatannya pada Ivana.


Alan gelap mata melihat adiknya di buat menderita oleh Gerald dan Ivana.


"Ivana?!" Dinda memasuki ruang perawatan.


"Apa yang kau lakukan padanya?!" Bentak Dinda pada Alan. Pria itu hanya terdiam.

__ADS_1


Alan pergi meninggalkan Dinda bersama Ivana. Ia yakin jika sudah sadar nanti Ivana akan bercerita pada Dinda.


Setidaknya Ivana tidak akan histeris karena Alan telah menyuntikkan obat penenang pada Ivana.


__ADS_2