
"Mery aku ingin bicara" suara Alan penuh penekanan dan berarti itu adalah sebuah perintah. Mau tidak mau Mery harus mendengarkan kakaknya kalau tidak Alan akan semakin marah padanya.
"Ada masalah apa kak?" tanya Mery berlagak tenang.
"Kenapa kau tega memfitnah dokter Ivana?"
"Apa maksud kakak aku tidak mengerti?!"
"Sudahlah Mery, kau adikku jika kau tersakiti tentu aku berada di garda depan untuk membelamu tapi jika kau berbuat salah kau juga harus bertanggung jawab"
"Aku tidak menuduh apapun pada wanita pelakor itu! kakak pasti sudah terpedaya olehnya!"
"Aku melihat sendiri seperti apa gadis itu bersikap. baiklah jika kau masih kekeh Ivana bersalah dan mencoba merebut Gerald dari mu kakak akan mencari tahu sampai tuntas. Tapi jika suamimu yang clamitan itu terbukti bersalah, maka kau harus meninggalkan dia kalian harus berpisah!".
Alan melangkah pergi meninggalkan Mery yang melongo dan tidak percaya. Sebenarnya Mery sangat takut berpisah dari Gerald ia begitu mencintai suaminya itu.
"Bagaimana ini...." Mery terlihat bingung.
***
Ponsel Ivana terus berbunyi nama Gery tertera di layar ponselnya. Ia malas mengangkat panggilan telepon pria itu.
__ADS_1
Lelah menjalari tubuh Ivana, ia merasakan perutnya perih karena sedari tadi siang ia belum makan. Ivana membuka nakas di samping tempat tidurnya dan meraih satu butir obat lambung.
Ivana menghela napas mengeluarkan segala beban dalam benaknya. Hari yang sungguh melelahkan untuknya. Ia beranjak ke dapur meraih sebungkus mie instan dan sekaleng kornet sapi dan juga dua butir telur.
Ivana memasak mie kedalam panci panas, ia lalu mencampur telur dengan kornet lalu memanggangnya di atas teflon panas. tidak lupa garam ia taburkan di atas telur panggangnya.
Rumah nampak lengang Dinda belum pulang bekerja. Jadilah Ivana makan malam seorang diri di depan tv.
Ia menikmati semangkuk mie kuah dan telur panggang.
Tak berapa lama Dinda pulang ke rumah dengan wajah sumringah.
"Kau terlihat senang?" tanya Ivana sembari menyendok mie kuahnya.
"Oh ya kau mau bercerita padaku tentang kejadian yang menimpa mu tadi siang?"
Ivana mulai menceritakan secara detail masalah yang di alaminya tadi siang. Dinda melongo mendengar cerita Ivana.
"Lalu pria yang bersama mu itu?..."
"Dia dokter Alan, pemilik rumah sakit tempat ku bekerja"
__ADS_1
"Pantas saja dia tidak ramah ternyata dia orang kaya" kata Dinda sembari meletakkan mangkuk mie di atas meja.
"Oh ya apa kau tahu jika Gerald sudah menikah?"
"Maksudnya?"
"Ivana sayang, Gery yang tengah mendekati dan mencoba merebut hati mu itu ternyata adalah Gerald dan dia sudah menikah"
"Menikah?!"
"Iya Ivana mantan kekasih mu itu sudah menikah dengan seorang wanita anak konglomerat"
"Kau tahu dari mana?"
"Aku baru saja mewawancarai seorang pengusaha dan kau tahu di kantornya aku bertemu dengan Gery atau Gerald. Aku bertanya soal Gery, narasumber ku bilang dia menantu di keluarga miliader itu"
Ivana termenung, tadinya ia mempertimbangkan akan menerima Gery kembali. Jika perkataan Dinda benar maka ia tak lebih dari seorang penipu sama seperti dulu.
"Berhati-hatilah kalau tidak kau bisa dianggap pelakor jika berdekatan dengan si Gery sialan itu"
Dinda memang tidak pernah menyukai Gery sejak awal. Ia bahkan tak segan memaki Gery di depan Ivana dengan kata sialan.
__ADS_1
Ivana berjalan menuju kamarnya, ia ambruk diatas ranjang dan mulai menangis.