
Bianca mengganti bajunya usai dari pesta tadi. ia duduk memebersihkan riasannya. Gavin yang sudah selesai membersihkan diri terlihat rebahan di atas kasur. Fani sudah tertidur lelap. tadi sore ia merengek ingin ikut ke pesta bersama papa dan mamanya. tapi Wasti berhasil menenangkannya dan mengajak bermain. Gavin merasa kasian juga pada anak lelakinya itu.
Bianca melangkah ke atas kasur mengecup bibir Gavin.
"Kau lihat tadi Indra dan Adelia?".
"Iya aku melihat mereka akrab".
"Sepertinya ada hubungan diantara mereka".
"Benarkah?". Gavin sedang berfikir Luna juga tertarik pada Indra. tapi ia tidak bercerita pada Bianca.
"Vin boleh aku tahu sesuatu tentang mu?". Maklum selama ini Bianca tidak begitu tahu banyak soal suaminya itu. Gavin lelaki yang mandiri dan cukup misterius.
"Katakanlah".
Bianca berbaring berbantalkan lengan Gavin. Gavin menatap lekat wajah istrinya.
"Ceritakan tentang keluarga mu".
__ADS_1
"Bukan kah kau sudah tahu ayahku".
Dulu sewaktu Bianca hamil muda dan di rawat di rumah sakit ayah Gavin sempat menjenguknya dan memberikan bunga mawar kesukaan Bianca. Bianca hanya tahu berita di luar mengenai ayah mertuanya itu.
"Ayahku Daud Hendrawan ia pengusaha ekpor dan impor. memiliki beberapa jaringan perusahaan. ayah dan ibu berpisah ketika usiaku delapan tahun. aku tidak akrab dengan ayah. tapi kami saling menyayangi. ia bahkan menendang ku ketika aku berbuat tak pantas pada mu dulu. ayah tidak ingin aku jadi dokter, ia lebih suka jika aku jadi pengusaha seperti Indra". Gavin tersenyum menatap istrinya yang mendengar dengan serius ceritanya.
"Aku ingin bertemu ayah Vin, Fani pasti juga begitu".
"Kita akan bertemu nanti".
"Benarkah?".
"Tentu saja".
***
"Darimana kau mengenal gadis itu?". Tuan Biantoro mengajak Indra berbicara di ruang kerjanya. Indra hanya terdiam. sepertinya hubungan ayah dan anak terlihat kaku.
"Aku sudah dewasa jadi ayah jangan mencampuri tentang pilihanku pada seorang wanita". Indra berdiri dari duduknya dan beranjak pergi.
__ADS_1
"Aku adalah ayah mu aku berhak mencarikan wanita yang pantas untuk mu".
"Aku yang akan menjalani hidupku jadi aku yang akan memutuskan, ayah tak perlu repot".
Bima yang berdiri di sudut ruangan hanya terdiam. ia mendengar dengan seksama pembicaraan kedua tuannya. Bima asisten Indra tapi kendali sepenuhnya ada di ayah Indra. jika tuan Biantoro memerintahnya untuk meninggalkan Indra, Bima tidak akan bisa membantah. Indra berjalan menuju mobilnya. ia akan pulang kerumahnya sendiri. Ibunya nampak menghampiri. ibunya yang sekarang adalah ibu tiri Indra. dan adik perempuannya Mila adalah anak dari ayah dan ibu tirinya.
"Kau belum makan malam, makanlah dulu". Ibu tirinya memang baik pada Indra. wanita itu sangat menyayangi Indra karena sudah merawatnya sedari kecil. ibu kandung Indra meninggal saat Indra berusia lima tahun.
"Aku ingin pulang bu, aku lelah".
Ibunya mengerti ia tidak memaksa Indra lagi. Indra berjalan menuju mobilnya di iringi oleh Bima. Indra mengambil ponselnya dan menelpom Adelia.
"Kau sudah akan beristirahat?".Tanya Indra.
"Benar aku sudah di atas kasur yang nyaman, kau menginap atau pulang ke rumah mu sendiri?".
"Aku sedang di perjalanan pulang. beristirahatlah besok kita akan bertemu lagi".
"Bertemu lagi?".
__ADS_1
"Aku ingin bicara sesuatu pada mu".
Indra menutup telepon dan menyandarkan kepalanya. ia menatap keluar melalui kaca mobil. Bima diam mengamati perilaku Indra. ia menebak sepertinya mood bosnya sedang tidak bagus.