
Athar menghempaskan tubuh Luna di atas tempat tidur. ia menindih Luna dan mencengkeram dagu Luna.
"Sudah ku katakan berapa kali agar kau jangan mempermainkan ku!".
"Kau yang mempermainkan ku!". Luna berteriak.
"Diam!!". Suara Athar terdengar mengintimidasi. Luna melirik pisau di atas meja di samping tempat tidur. diam-diam ia meraih pisau itu, Luna menggores Tangannya dengan pisau itu hingga darah mengalir.
"Apa yang kau lakukan?!". Athar menarik tubuh Luna dan menyingkirkan pisau yang masih di genggam Luna.
"Kenapa?, apa kau takut?". Luna menyeringai ia menantang sejauh mana keberanian Athar padanya.
Athar merobek kaos yang di pakainya dan membalut luka Luna agar darahnya terhenti.
Atar memapah tubuh Luna ke dalam mobil dan melaju menuju rumah sakit. di rumah sakit luka Luna segera di obati dan di perban.
Di perjalanan pulang, di dalam mobil keduanya hanya terdiam. Athar sesekali melirik Luna yang memalingkan wajahnya memandang jalanan.
Athar menghentikan mobilnya di pelataran vilanya. ia pergi ke rumah ibunya mengambil makanan untuknya dan Luna.
"Makan lah". Kata Athar meletakan nampan berisi makanan di depan Luna. Luna tidak bergeming. ia memalingkan wajahnya malas melihat Athar.
Athar menyuapkan makanan ke mulut Luna. Luna menepisnya.
"Baiklah kalau kau tidak mau makan. ini sangat enak, emmm....enak". Athar mengunyah dengan di buat-buat. Luna merasa perutnya semakin lapar. ia tergoda melihat Athar makan di sampingnya dengan lahap.
Luna menarik satu piring berisi makanan dan memakannya. Atahr tersenyum melihatnya.
Athar menuangkan minuman ke dalam gelas Luna.
"Minumlah obat mu". Kata Athar ia menyerahkan tiga butir obat pada Luna. Luna langsung meminumnya.
"Apa tangan mu terasa sakit?". Tanya Athar.
"Tidak". Jawab Luna cuek.
"Lain kali kau lebih baik menusuk ku daripada melukai diri mu sendiri".
"Huh aku bukan orang kejam seperti mu, yang bisa seenak sendiri melukai orang lain!".
Athar tersenyum menanggapi kemarahan Luna ia berdiri mengambikan baju tidur Luna.
"Kau mau mengganti baju sendiri atau aku yang menggantikan?".
Luna berdiri dan menyambar baju tidurnya dari tangan Athar. ia bergegas ke kamar mandi mengganti bajunya.
Selesai berganti pakaian Luna berbarinh di sofa. ia menarik selimut tebalnya dan mulai terlelap karena lelah perjalanan dari kota menuju vila Athar.
Athar berjongkok di hadapan Luna dan memandang wajah cantik yang sedang tertidur di hadapannya. ia menyelipkan helaian rambut Luna yang menutupi separuh wajah Luna.
__ADS_1
Aku tidak yakin aku bisa melepas mu.
Athar mengangkat tubuh Luna dan membaringkannya di atas tempat tidur. mendekap Luna dalam pelukannya.
Entah sadar atau tidak tangan Luna ikut memeluk tubuh Athar. ia terlihat nyaman dan aman di sana.
Pagi tiba, udara cukup dingin di dalam kamar. Luna menggeliat dan membuka matanya. ia tersentak melihat Athar ada di sampingnya. bukan ...bukan di sampingnya tapi Luna kaget melihat dirinya tertidur dalam pelukan pria kejam itu.
"Athar?!".
Athar menggeliat dan memalingkan tubuhnya membelakangi Luna. Luna segera beranjak ke kamar mandi. ia menatap dirinya di cermin. jantungnya masih berdebar kencang, ia tidak menyangka akan tidur satu ranjang dengan Athar.
"Athar kenapa kau berani menyentuh ku?!". Luna jengkel dan memukuli Athar.
"Hey dokter apa ini, kau istriku kalau hanya tidur berdampingan itu wajar".
"Istri ...aku istri mu?! jangan membuat ku geli dengan kata-kata itu!".
Athar bangun dan duduk di pinghiran kasur berdekatan dengan Luna.
"Kenapa kita tidak menikmati saja pernikahan ini sampai kau kembali pada kehidupan normal mu lagi".
Luna menatap wajah Athar. mata pria itu terlihat teduh. sekilas ia seperti seorang suami yang mencintai istrinya dengan tulus. seperti seolah pernikahan itu sungguhan.
Athar meraih tangan Luna yang terluka. mengamati perban di tangan Luna. Athar berjalan menuju sofa.
"Kemarilah biar ku ganti perban di tangan mu". Luna menurut ia duduk di samping Athar.
"Apa begini cara memasang perban yang benar?".
"Bukan begitu....". Luna tertawa.
"Bagaiman dokter?, aku tidak tahu caranya, sementara seperti ini saja nanti biar ibu yang memasangkan perban untuk mu".
Luna tertawa dan memukul bahu Athar. Athar berdiri membuka bajunya dan pergi mandi.
Sementara Luna merenung dengan ucapan Athar tadi. kenapa ia tidak menikmati saja pernikahannya dengan Athar. sejauh ini Athar baik kepadanya.
Luna menggelengkan kepalanya.
Pasti aku sudah gila!, atau aku hanya tergoda dengan ketampanannya saja.
Tuk tuk...!
Pintu kamar Athar dinketuk dari luar. terdengar suara Amar. Luna yang membuka pintu itu karena Athar masih berada di kamar mandi.
"Ada apa Amar?".
"Dimana Athar?".
__ADS_1
"Athar sedang mandi".
"Luna sampaikan pada kakak ku aku menunggunya di lantai bawah".
"Baiklah"'.
Tak berapa lama Athar keluar dari kamar mandi. ia mengeringkan badannya dengan handuk.
"Amar mencari mu, ia menunggu di lantai bawah".
Atar terdiam sebentar, ia ingat ada janji bertemu Josh pagi ini. Athar mengenakan kemeja hitamnya dan memakai jaket kulit berwarna hitam. ia mengambil senapan yang tersimpan di laci lalu menyelipkannya ke pinggangnya.
"Kau mau kemana?". Tanya Luna bingung.
"Bukan urusan mu dokter".
Athar melangkah pergi dengan tergesa-gesa. Luna mengikuti langkah Athar. ia nampak sedang berbicara dengan Amar. keduanya nampak serius.
Athar langsung pergi dengan mobilnya. Luna berniat mengikuti Athar. ia takut Athar berbuat sesuatu yang bisa melukai orang lain.
"Amar mau kemana kakak mu?".
"Ia ada urusan penting, Luna mau kemana kau?".
"Aku aka mengikutinya, bisa aku pinjam mobil mu".
"Luna untuk apa kau mengikuti Athar?".
"Aku hanya cemas dengannya, dia membawa senjata. Amar mau kemana sebenarnya kakak mu?".
"Dia akan bertemu Josh". Kata Amar, nampak kegelisahan di wajah Amar.
"Siapa itu Josh?".
"Dia bos mafia yang mempekerjakan Athar. kau tenang saja Josh sangat baik pada Athar".
"Luna kau kembali saja ke kamar mu dan tunggu kakak ku pulang".
Luna menaiki anak tangga menuju kamar. ia putuskan menunggu Athar pulang dan tidak jadi mengikutinya.
Hari sudah menjelang Sore, Luna yang tertidur di sofa segera bangun. ia melirik jam dan melihat Athar belum pulang.
Dia pergi selama ini, seharusnya ini kesempatan ku untuk kabur darinya.
Luna berjalan menuju pintu, taapi ia terlambat karena Athar tiba disana. matanya tajam menatap luna.
"Mau kemana dokter?". Suara berat itu yang selalu membuat Luna bergidik. Luna memundurkan langkahnya karena Athar berjalan mendekat padanya. tangan kekar itu menyentuh lembut pipi Luna yang halus. Luna memalingkan pandangannya. Athar tersenyum menatap kecantikan wanita di hadapannya.
"Kenapa kau terus memalingkan wajah mu?". Athar berusaha menatap mata Luna.
__ADS_1
"Aku tidak mau melihat mu!". Jawab Luna ketus.
"Tapi aku ingin menikmati kecantikan wajah mu".