Cinta Dokter

Cinta Dokter
Perpisahan Sementara


__ADS_3

Yasir mendatangi kediaman keluarga Athar dan terjadi keributan. Yasir ingin meminta Sheril anak mereka untuk hidup bersamanya. tapi Wila tidak mengizinkan Yasir membawa Sheril.


Athar dan Yasir terlibat perkelahian. Yasir tersungkur karena Athar memukul wajahnya. Luna mencoba melerai.


"Katakan Wila kenapa Yasir tidak berhak membawa Sheril?, apa karena ayah Sheril yang sebenarnya adalah Athar dan bukan Yasir?". Celetuk Yaslin.


Athar terkejut dengan perkataan Yaslin. ia memejamkan matanya dan bisa jadi ucapan adiknya benar.


Luna kembali ke kamarnya dan menangis sejadinya.


Ia mengeluarkan pakaiannya dari dalam lemari dan memasukannya ke dalam koper.


Athar membuka pintu kamar dan terdiam menatap Luna mengemasi pakaiannya ke dalam koper.


"Kau mau pergi dokter?".


Luna menghentikan gerakannya. ia terisak, berat untuknya meninggalkan Athar meski itu hanya sementara. tapi dirinya membutuhkan waktu untuk berpikir jernih tentang semua.


"Athar, aku ingin pulang sebentar ke rumah ayah. tolong biarkan aku pergi".


"Tidak...".


"Athar kumohon selesaikan permasalahan mu dengan Wila dan berdo'alah yang terbaik untuk hubungan kita". Luna menggenggam tangan Athar. ia terisak di dada Athar.

__ADS_1


"Dokter bagaimana jika aku tanpa mu?". Kata Athar menahan emosi dan kesedihannya.


"Biarkan aku mengantar mu ke rumah ayah".


"Tidak Athar, aku akan pergi dengan Amar".


Luna berjinjit mencium lembut bibir Athar, kedua tangannya memegang pipi athar. ada gurat cemas dan amarah di wajah tampan Athar.


Luna menarik kopernya keluar menuruni anak tangga. semua melihatnya, ibu meneteskan air mata dan menatap Luna penuh harap. karena ia tahu puteranya tidak akan bisa menjalani hidup dengan baik tanpa Luna.


Amar memasukan koper Luna ke bagasi mobinya. sepanjang perjalanan Luna hanya terdiam dan menangis.


Amar tak bisa lagi menghibur kakak iparnya itu. ia sendiri juga bingung harus bagaimana. karena semua menyangkut privasi kakaknya.


Luna turun di depan pintu gerbang rumah ayahnya. Amar tidak mengantarnya masuk karena Luna tidak ingin ayahnya banyak bertanya pada Amar tentang semua yang terjadi.


"Luna?".


Ayah melihat koper yang di bawa Luna.


"Aku ada seminar untuk beberapa hari ayah, jadi aku akan tinggal sementara bersama ayah".


"Tentu nak, ini rumah mu. tapi kau dan Athar baik-baik saja?".

__ADS_1


"Iya kami tidak ada masalah, tadi Athar akan mengantar ku kemari tapi ia ada keperluan mendadak".


"Baiklah, beristirahatlah".


Luna menaiki tangga menuju kamarnya. kamar yang ia rindukan. Luna membuka dua jendela besar di kamarnya. angin berhembus masuk terasa menenangkan. di balkon kamarnya ada bungan mawar kesukaannya. terlihat terawat, ayah pasti meminta pelayan untuk merawatnya dengan baik.


Luna berdiri di balkon kamarnya menatap nanar ke depan. mencoba menghilangkan sejenak bayangan Athar. tapi percuma itu tidak berhasil semakin ia ingin menghilangkan bayangan Athar semakin Luna merindukan pria itu.


Luna terisak, ia terduduk di lantai memeluk lututnya.


Sementara Athar di kamarnya seperti orang gila. ia sedih Luna tidak di sisinya saat ini.


Athar meraih botol parfum Luna dan menghirup aroma wanginya. ia mengambil bantal Luna dan memeluknya erat seolah sedang memeluk Luna.


"Athar?". Amar masuk kedalam kamar Athar. ia duduk di samping kakak nya. Amar mengamati botol parfum di tangan Athar.


"Kenapa kau tak mengejarnya?, dia benar-benar sangat mencintai mu Athar. ku harap keberuntungan berpihak pada kalian". Amar menepuk bahu Athar. air mata Athar terlihat mengalir di pipinya.


Malamnya Athar pergi dengan mobilnya. di sepanjang jalan ia mengenang pertemuannya dengan Luna. bagaimana ia bisa terpesona dengan dokter itu dan sampai menikahinya.


Athar tersenyum mengenang kejutekan dan kebawelan Luna padanya.


Athar menghentikan mobilnya di depan rumah ayah Luna. ia memandang ke arah lantai dua tepat di kamar Luna. jendelanya masih terbuka dan lampu juga masih menyala. Luna belum tertidur. Athar menatap sedih ia ingin sekali bertemu Luna.

__ADS_1


Lama Athar terdiam di dalam mobilnya lalu pergi. Luna yang bimbang tiba-tiba merasa Athar datang. ia berjalan ke arah jendela menatap jalanan di depan rumahnya. jalanan nampak sepi tidak ada mobil Athar atau Athar di sana.


Hatinya kecewa, ia mengamati cincin pernikahan yang Athar berikan padanya. cincin berlian safir bertmata biru.


__ADS_2