
Rumah Beben
Setibanya di rumah Beben Ivana bergegas melihat kondisi anak itu. Beben terlihat lemas dan pucat. Ia kekurangan cairan.
"Apa Beben masih buang air dan muntah Bu?" tanya Ivana pada ibu Beben yang berdiri di samping anaknya dengan daster lusuh dan rambut tak terawat.
"Iya Bu dokter" kata Ibu Beben gemetar. Ivana menangkap ada sesuatu yang aneh dengan ibu Beben. ia nampak cemas dan ketakutan bukan karena kondisi anaknya tapi seperti ada sesuatu yang ia sembunyikan.
"Kalau begitu bisa saya minta obat yang sudah saya berikan kemarin?"
"Obatnya di buang oleh ayah Beben karena marah dokter"
"Di buang?"
"Iya dokter, Karena setelah minum obat itu Beben jadi semakin parah jadi ayahnya melemparnya ke tempat sampah"
Ivana memejamkan matanya, obat itu adalah satu-satunya bukti jika ia tidak bersalah dan meresepkan obat yang benar. Mulai kali ini ia harus lebih teliti lagi jika membuat resep.
"Di apotik mana kalian menebus obat itu?"
"Saya tidak tahu dokter , ayah Beben yang menebusnya"
"Dimana tempat sampahnya?"
"Penampungan sampah umum dokter, tidak jauh dari sini"
Alan mulai menerka hal gila apa yang akan di lakukan Ivana. Ia sengaja diam dan mengamati tingkah wanita itu.
"Dokter Alan bisakah anda bawa Beben dan ibunya ke rumah sakit, saya mohon"
__ADS_1
"Aku tidak bisa"
"Tolong dokter sekali ini saja, tunjukan empati anda sebagai seorang dokter" Ivana memelas dengan mata berkaca-kaca.
Akhirnya Alan luluh juga dan membawa Beben serta ibunya ke rumah sakit untuk mendapat perawatan lebih lanjut.
Sementara Ivana ia pergi ke penampungan sampah dan mencoba mencari obat yang di buang oleh ayah Beben.
Ayah Beben bekerja di sebuah proyek dan tidak bisa izin pulang jadilah Ivana mengobrak Abrik tumpukan sampah seorang diri untuk mencari keberadaan obat itu.
Selesai dengan Beben dan ibunya, Alan merasa penasaran ia memutuskan kembali ke rumah Beben dan bertanya pada warga dimana keberadaan Ivana.
"Permisi Bu ada yang melihat seorang wanita? emmm..... dia cantik, kulitnya putih dan rambutnya ikal panjang" kata Alan mendeskripsikan penampilan Ivana.
"Oh sedang berada di penampungan sampah umum tuan" kata seorang ibu.
Gila untuk apa dia kesana, jangan bilang Ivana akan mencari obat yang sudah di buang di tempat sampah itu?!
Alan turun dari mobilnya, ia melepas jasnya dan menggulung lengan kemejanya. Dikejauhan diantara lautan sampah Ivan terlihat mengais dengan sebuah tongkat.
Alan memandangnya dengan takjub. selama ini belum pernah ia jumpai wanita segigih Ivana.
"Apa yang kau lakukan disana? cepat kemari!"
Ivana menghentikan aktivitasnya mengobrak Abrik sampah, ia mendekat ke arah Alan. Bau menyengat dari sampah pun tercium dari tubuh Ivana.
Refleks Alan menutup hidungnya dan menahan mual.
"Maaf dokter saya harus menemukan obat itu, saya yakin saya sudah benar memberikan resep obat pada Beben"
__ADS_1
Wajah cantik Ivana terlihat kotor dan lusuh. Ia membuka masker pelindung yang ia gunakan.
"Dasar bodoh kau tidak sadar jika penampungan sampah itu juga berbahaya bagi mu, disana banyak kuman dan virus!"
"Tapi saya harus menemukan obat itu, dokter pergi saja"
"Dasar kau keras kepala!" Alan kembali ke mobilnya dan meninggalkan Ivana.
Alan memutuskan pulang kerumah untuk meminta asistennya menyelidiki Cctv di apotik rumah sakit. Siapa tahu ayah Beben sebenarnya menebus obat dari sana dan datanya masih ada..
"Biar tahu rasa dia, aku senang jika dia di tuduh melakukan mall praktek!" Alan tidak sengaja mendengar Mery menelpon seseorang.
"Hahaha sebentar lagi ia akan di pecat dan lisensinya akan di cabut!"
"Aku sudah membayar orangtua pasien itu untuk bekerja sama dengan ku jadi kau tenang saja. Aku juga sudah membayar pegawai di apotik tempat ayah si Beben menebus obatnya juga"
"Mery!" Alan berteriak marah dan geram pada adiknya itu. Mery tersentak dan mematikan teleponnya.
"Kak Alan?"
"Kakak tidak mengira kau selicik dan sekejam ini!"
"Apa kakak bilang aku kejam? pelakor itu lebih kejam dia menghancurkan hidupku!"
"Kau belum memiliki bukti kuat Mery, belum tentu Ivana benar-benar merebut Gerald dari mu!"
"Sudahlah! kakak kecewa pada mu Mery!"
Alan bergegas pergi dengan mobilnya dan menyusul Ivana yang masih mengais obat di penmpungan sampah.
__ADS_1