
Athar meminta Luna mencoba gaun pengantinnya. ia tidak main-main dengan rencana gilanya.
Luna mengenakan gaun pengantin yang di pilih Athar. ia terduduk dengan wajah datar.
Tak pernah terbayang di benaknya kalau ia akan menikah dengan cara seperti ini. menikah tanpa cinta bahkan dengan pria gila yang baru di kenalnya.
Pernikahan indah yang pernah di bayangkannya sirna sudah.
"Apa kau sedang berkhayal?". Suara Athar membuyarkan lamunan Luna. Luna tidak sadar jika Athar sempat memandangnya cukup lama.
"Athar ku mohon buang ide pernikahan ini. aku berjanji pada mu ayah ku tidak akan memenjarakan mu Athar".
Athar hanya terdiam, ia mengenakan jas hitamnya.
Lihatlah bahkan di hari pernikahannya ia mengenakan serba hitam. pria menjengkelkan!.
Acara pernikahan di mulai. acara paling sakral telah di laksanakan. Athar memasang cincin di jarinya sendiri dan di jari Luna. tidak ada keromantisan diantara mereka.
Athar mencium kepala Luna sebagai tanda mereka sepasang suami istri sekarang. Luna menangis di kamar membayangkan pernikahan seperti mainan. bahkan orangtuanya tidak hadir menyaksikan pernikahannya.
Luna dan Athar duduk berdampingan untuk tanda tangan buku pernikahan. Luna yang panik tidak bisa menahan kakinya untuk bergerak dan menimbulkan suara berisik dari sepatunya.
Athar dengan satu gerakan tangan memegang lutut Luna dan menghentikan ketukan kaki Luna. akhirnya keduanya selesai mengurus buku nikah mereka.
"Sialllll!!!!". Umpat Luna sembari menangis. Athar yang melihat kekesalan Luna hanya terdiam tidak peduli.
Luna masih duduk dengan gaunnya. sementara Athar tiba di kamar dan melepas baju yang di pakainya.
"Apa yang kau lakukan kenapa kau melepas baju mu?!". Luna terlihat panik.
"Aku mau mandi, apa aku harus memakai baju?". Athar masuk ke dalam kamar mandi, Luna mencoba melepas gaunnya. tapi sia-sia kacing gaun itu ada di bagian belakang tepatnya punggung ke bawah.
Athar keluar dari kamar mandi dengan handuk melingkar di pinggangnya. ia menatap Luna yang mencoba melepas gaunnya.
Athar mendekati Luna dengan tubuh atletisnya yang masih basah karena baru selesai mandi. Athar melepas satu persatu kancing, dan gaun Luna lolos dari tubuh semampai itu.
Luna menyambar baju mandinya dan bergegas ke kamar mandi.
Ia menyeringai melihat tingkah Luna yang lucu menurutnya.
__ADS_1
Athar mengenakan kaos hitam dan celana jeans hitam. ia duduk menunggu Luna yang tak kunjung selesai mandinya.
"Hey dokter kau mandi atau tidur di dalam sana?".
Luna keluar kamar mandi mengenakan baju tidur ia membungkus rambutnya dengan handuk putih.
"Keringkan rambut mu dan tidur di sofa". Kata Athar. ia beranjak menuju tempat tidur dan menguasainya sendirian. Luna dengan kesal tidur di sofa. ia mengomel tapi percuma Athar entah mendengarnya entah tidak.
Pagi hari ibu mengantar makanan untuk Athar dan Luna.
Ibunya wanita yang baik berbeda sekali dengan puteranya. batin Luna.
"Makanlah selagi hangat". Kata ibu Athar. Luna mengangguk sembari tersenyum.
"Athar kau ajak Luna pergi ke danau melihat pemandangan".
Athar terdiam melihat Luna yang sedang makan. ia duduk di samping Luna dan ikut menghabiskan makanan dari ibunya.
Keduanya pergi ke sebuah danau tak jauh dari vila Athar. pemandangan sangat indah mata hari pagi terasa hangat menembus dedaunan.
Athar sedang sibuk menelpon seseorang, Luna tidak sengaja melihat sebuah perahu kecil. ia segera menaikinya. berharap di tepi danau sebrang sana ada pertolongan yang bisa membebaskannya dari monster macam Athar.
Athar selesai berbicara di telepon ia menoleh mencari keberadaan Luna. Luna sudah berada di tengah danau dan sepertinya Luna panik.
Athar melihat Luna dari kejauhan yang panik, ia bergegas menyelamatkan Luna. di pinggiran danau ada perahu motor, Athar segera menaikinya dan mengarah ke tengah danau tempat Luna yang hampir tenggelam.
"Luna...". Athar memberikan tangannya agar Luna meraihnya.
"Athar tolong aku".
Athar menarik lengan Luna dan berhasil menaikannya ke perahu motor dan bergegas membawa perahu motor itu ke pinggir danau.
Sesampainya di pinggir danau ia menuntun Luna turun dari perahu. tangan Luna dingin sekali karena ketakutan.
"Apa yang kau lakukan?". Tanya Athar memandang Luna tajam. Luna tidak bisa menjelaskan ia hanya menggeleng dan menangis.
Athar menarik kasar lengan Luna dan membawanya kembali pulang ke vila.
"Ada apa ini?". Tanya ibu yang memandang Athar kesal karena Luna terlihat menangis.
__ADS_1
"Athar?". Bukannya menjawab pertanyaan ibunya Athar langsung pergi ke kamarnya. menahan marah pada Luna.
Sore hari Athar pergi ke kota ia membawa serta Luna. ia sedang ada urusan disana. mereka menginap di sebuah hotel berbintang.
"Aku akan pergi sebentar. jangan coba lari dari ku atau kau tahu akibatnya!".
"Aku sudah memasang cctv di ruangan ini, telepon semua sudah ku sadap jadi kau jangan main-main lagi dokter". Atar tersenyum tampan menatap Luna.
Senyumnya itu, wajahnya...sungguh sangat tidak pas untuk penjahat seperti dia!!.
Luna membuka pintu kamar, di luar sudah ada dua orang anak buah Athar yang mengawasi Luna.
"Anda mau kemana nona?".
"Aku mau ke cafe di lantai bawah".
Dua orang itu mengikuti Luna ke cafe. Luna memesan secangkir kopi panas dan cake coklat. ia duduk sediri. cafe itu terbuka dengan pemandangan keramaian kota. Luna menikmati kopinya dan berpikir bagaimana cara ia bisa lolos dari Athar.
"Luna?!". Sebuah suara pria menegur Luna dari arah belakang. Luna menoleh dan memandang sumber suara itu.
"Dokter Beni!". Luna lega sekali ia bisa bertemu Beni di tempat itu, setidaknya ia bisa meminta bantuan pada Beni untuk membawanya pulang pada ayahnya.
"Luna kau menghilang lama sekali, dari mana saja kau?". Tanya Beni yang ikut duduk di depan Luna. kedua anak buah Athar terlihat siaga. salah satu dari mereka merekam pertemuan Luna dan Beni lalu mengirimkannya ke ponsel Athar.
"Beni ceritanya panjang sekali, aku bingung harus memulai cerita dari mana".
Beni melirik cincin di jari manais Luna.
"Kau sudah menikah?". Tanya Beni heran. setahu dia Luna sedang tidak dekat dengan pria manapun.
"Beni aku mau kau mengabari Gavin kalau aku baik-baik saja. biar Gavin yang mengabari ayah ku".
"Luna sebenarnya ada apa?".
"Aku sudah mengatakan pada mu jangan main-main dengan ku". Suara berat Athar terdengar marah. ia menarik lengan Luna dan akan membawanya kembali ke kamar mereka.
"Tunggu!, siapa kau?!". Beni menahan Athar. Luna menggeleng meminta Beni untuk menjauh.
"Tidak Luna, siapa pria ini?".
__ADS_1
"Kenapa kau tidak sopan dengan perempuan?!". Kata Beni marah, ia memegang bahu Athar dan siap memukulnya.
"Beni! jangan menyentuhnya Beni kumohon pergilah". Tangis Luna pecah. Athar tidak bisa lagi menahan emosinya. ia melayangkan tangannya ke hidung Beni dengan sekali hantam. darah segar mengalir dari hidung Beni. Luna berteriak meminta Athar untuk menyudahi kegilaan itu. Athar menarik Luna kembali ke kamar dan menguncinya dari luar.