
🌍
🌍
🌍
🌍
🌍
Waktu mata kuliah Alta pun selesai, Alta segera keluar.
"Bee, bisakah kamu antarkanku pulang?" seru Erika.
"Maaf, tapi hari ini aku ada urusan."
"Yah sayang sekali, padahal kalau kamu mau mengantarkanku pulang, aku akan membayarmu dua kali lipat dari yang tadi," seru Erika dengan melangkahkan kakinya.
"Apa? dua kali lipat," batin Bee.
"Erika tunggu!"
"Iya."
"Ya sudah, aku antarkan kamu pulang."
"Nah gitu dong."
Erika merangkul pundak Bee...
Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Bee pun sampai di rumah Erika. Lagi-lagi Bee tampak menganga melihat rumah yang lebih mewah dan megah di banding rumah Alta.
"Bee, terima kasih ya sudah nganterin aku pulang, ini bayarannya."
"Hehehe...terima kasih, maaf aku terima ya."
"Ya memang harus di terimalah, aku kan sudah janji mau kasih kamu uang."
"Oh ya Er, kok kelihatannya rumah kamu sepu?"
"Iya, soalnya Daddy masih di kantor sedangkan Mommy masih di rumah sakit."
"Mommy kamu Dokter?"
"Iya."
"Wuidih hebat banget...ya sudah kalau begitu, aku pulang dulu ya."
"Ga mau mampir dulu, Bee?"
"Lain kali aja Er, soalnya sekarang aku lagi ada keperluan."
"Ya sudah kamu hati-hati di jalan."
"Sip...."
Bee pun langsung melajukan motornya menuju rumah Alta, dia sudah janjian dengan Alsya akan pergi ke salon bersama-sama.
Bee masuk ke dalam rumah dengan santainya, saking bahagianya dia sampai tidak memperhatikan kalau di halaman rumah ada mobil Alta dan saat ini juga Bee tidak sadar kalau dari tadi Alta sedang memperhatikan Bee dengan tajamnya.
"Dari mana saja jam segini baru pulang? aku sudah lapar dari tadi."
"Allohuakbar, Pak Alta ngapain ada di sini?" seru Bee dengan terlonjak kaget.
"Kamu sudah hilang ingatan ya? ini kan rumahku ya jelaslah aku ada di sini."
"Ah maksud aku, bukannya Pak Alta ngomong sama aku ga usah nyiapin makan siang karena Pak Alta mau ke kantor."
"Tidak jadi, aku kerja dari rumah saja."
"Tapi Pak, aku mau pergi ke salon sekarang sama Alsya."
"Astaga, kamu mau pergi kencan sampai segitu nya harus pergi ke salon dulu," seru Alta dengan dinginnya.
"Biasanya sih tidak, tapi Bapak tahu ga Pak Simon memberikan kartu member VIP salon ternama, lihat deh."
Bee menunjukkan kartu member VIP itu kepada Alta, dengan cepat Alta menyambar kartu itu dari tangan Bee.
Pletek...
Alta langsung mematahkan kartu itu menjadi dua bagian membuat Bee seketika menganga dan syok. Bee mengambil kartu yang sekarang sudah patah menjadi dua bagian itu, sedangkan Alta tampak tersenyum.
"Kenapa Bapak patahkan kartunya!" teriak Bee dengan kesalnya.
"Kartu gitu aja, aku bisa buatkan seratus kartu kaya gitu kalau kamu mau."
"Ga mau, pokoknya Bapak harus balikin kartu aku seperti semula," rengek Bee.
"Memangnya kamu pikir aku pesulap apa yang bisa balikin utuh seperti semula," seru Alta dengan santainya dan kembali duduk di sofa.
"Terus kalau gitu kenapa Bapak patahkan!" teriak Bee.
Bee terduduk di lantai dengan menangis meraung-raung bahkan sampai kejer.
"Astaga, masalah kartu saja sampai segitunya."
"Huwaaaaa....Bapak jahat."
"Sudah diam, berisik."
Dengan emosi yang memuncak, Bee pun berdiri dan langsung melangkahkan kakinya hendak masuk ke dalam kamarnya.
"Woi mau kemana? masakin makan siang dulu!" teriak Alta.
"Ogah...masak saja sendiri."
Bruugghh...
Bee menutup pintu kamarnya dengan sangat kencang membuat Alta terlonjak kaget.
"Dasar gadis bar-bar, kalau pintunya sampai rusak memangnya kamu bakalan mampu menggantinya!" teriak Alta.
Alta menghempaskan tubuhnya di atas sofa, bibirnya kembali menyunggingkan senyumannya.
"Pasti kali ini kencannya bakalan gagal total karena aku bakalan buat Bee sibuk sampai-sampai dia melupakan janjinya," gumam Alta.
Bukan apa-apa, Alta dan sahabatnya sudah tahu siapa Simon. Dia adalah seorang penjahat k******, sudah banyak yang menjadi korbannya dengan di iming-imingi barang-barang mewah bahkan kebanyakan dari korban Simon berakhir dengan bunuh diri.
__ADS_1
Bee adalah Mahasiswinya, sahabatnya Alsya, sekaligus tukang masaknya jadi Alta merasa punya tanggung jawab untuk melindungi Bee.
"Bee...Bee...main yuk!" teriak Alsya.
"Ya ampun Alsya, bisa tidak kamu itu bicara pelan-pelan ga usah teriak-teriak."
"Eh Kak Alta, maaf Kak sudah bawaan dari orok bagaimana dong."
Alta hanya mendengus kesal...
"Bee ada kan, Kak?"
"Ada di kamarnya, suruh dia keluar dan siapkan makan siang untuk Kakak."
"Yaelah Kak, hari ini Bee akan pergi sama Alsya ke salon, jadi kalau urusan makan Kakak pesan go food aja deh."
"Pokoknya kalau Bee tidak mau masak, Kakak tidak akan mengizinkan Bee keluar."
"Idih, kok gitu?"
"Pokoknya cepat bilang sama dia, masak dulu baru bisa pergi."
Ceklek...
Dengan wajah yang cemberut plus kesal, Bee keluar dari dalam kamarnya dan langsung menuju dapur untuk membuatkan makan siang.
Tak..tak..tak..
Suara pisau memotong sayuran dan ayam menggema di seluruh dapur, membuat Alta dan Alsya bergidik ngeri.
"Kak, kayanya Bee lagi ngamuk tuh pasti Kakak sudah melakukan sesuatu ya sama Bee?" bisik Alsya.
"Kakak mematahkan kartu member VIP salonnya," sahut Alta dengan santainya.
"Apa?" teriak Alsya tanpa sadar.
Praannggg....
Bee mengaduk-ngaduk masakan di di dalam wajan dengan sangat kerasnya sehingga menimbulkan bunyi bising yang membuat Alta dan Alsya lagi-lagi terlonjak kaget.
"Nah loh, kayanya sebentar lagi Kakak yang bakalan di potong dan di goreng."
"Apa? sembarangan kalau ngomong."
Alta kembali fokus ke laptopnya sedangkan Alsya fokus dengan ponselnya.
Teng..teng..teng..
Bee memukul mangkuk dengan sendok untuk memanggil Alta karena Bee saat ini sedang malas bicara dengan Alta.
"Astaga, bisa tidak kamu ngomong? jangan pukul-pukul barang-barang bisa habis perabot aku kalau kamu pukulin terus kaya gitu," sentak Alta.
Bee tidak menyahut sama sekali, Alta dan Alsya pun duduk di meja makan dan mulai menyantap masakan Bee. Kali ini Alta tidak memprotes masakan Bee karena tahu Bee lagi kesal.
"Sya, cepetan makannya sudah siang ini."
"Siap Bee."
"Buatkan dulu aku bubur kacang."
"Apa?"
Bee menggeretakkan giginya dan mengepalkan kedua tangannya tapi Bee sama sekali tidak bisa melawan Alta karena dia butuh pekerjaan dan tempat tinggal.
Bee menghentak-hentakkan kakinya dan menuju dapur, mau tidak mau Bee harus membuatkan bubur kacang permintaan Alta. Sementara itu, Alta hanya mengulum senyumnya merasa lucu dengan tingkah Bee.
"Kak, kok Alsya merasa Kakak sedang ngerjain Bee," bisik Alsya.
Alta hanya mengangkat bahunya...
Waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore tapi Alta tidak henti-hentinya menyuruh Bee membuat ini itu sehingga lama-kelamaan Bee merasa sangat kesal bahkan saat ini airmatanya sudah menetes dengan sendirinya.
Saking lamanya menunggu, Alsya sudah tidur di atas sofa. Alta melirik ke arah Bee, ada perasaan kasihan juga melihat Bee menangis kaya gitu.
"Sudah-sudah, jangan di lanjutkan lagi kamu boleh pergi," seru Alta sembari melangkahkan kakinya menuju lantai dua.
Bee terduduk di kursi dengan mengusap airmatanya secara kasar, pergi juga percuma selain sudah sore kartu membenya pun sudah tidak bisa di pakai lagi.
"Kenapa dia begitu sangat menyebalkan," kesal Bee.
Bee menghampiri Alsya dan membangunkannya.
"Sya, bangun."
"Kamu sudah selesai Bee?"
"Sudah."
"Ya sudah, ayo kita pergi."
"Sepertinya kita tidak jadi pergi, sudah sore juga ga bakalan keburu mana kartu membernya juga sudah tidak bisa di gunakan," seru Bee dengan lemasnya.
Alsya menghembuskan napasnya...
"Ya sudah kamu jangan sedih, nanti biar aku dandani kamu ya."
Bee pun mengangguk dengan pelan.
Tidak terasa waktu pun berjalan sangat cepat, saat ini Alsya sedang mendandani Bee karena sebentar lagi Bee akan kencan dengan Simon.
"Astaga Bee, kamu cantik banget."
"Iyakah?"
"Hooh, sumpah kamu cantik banget apalagi sudah pakai gaun seperti ini tambah cantik kamu."
Bee saat ini menggunakan gaun panjang tanpa lengan, Alsya memakaikan make up tipis dan membuat rambut Bee curly sungguh Bee sangat cantik malam ini.
"Terima kasih ya, Sya."
"Sama-sama."
Ponsel Bee pun bergetar dan terdapat notif pesan, kalau sopir Simon sudah sampai di depan rumah Alta.
"Sya, jemputan aku sudah datang."
"Ya sudah, sana cepat keluar."
__ADS_1
Bee pun segera keluar dari dalam kamarnya dan bersamaan dengan Alta yang baru saja turun dari lantai dua. Seketikan tatapan mereka bertemu, tapi Bee segera memalingkan wajahnya karena masih merasa kesal.
Berbeda dengan Alta yang tampak melongo melihat penampilan Bee, sampai-sampai Alta terus saja memperhatikan Bee yang berjalan dengan anggunnya meninggalkan rumah Alta.
"Bee cantik kan, Kak?" seru Alsya sembari menyenggol lengan Alta.
Alta tersadar dan menatap tajam ke arah Alsya.
"Sudah malam, sudah sana pulang."
"Alsya pengen nginep di sini Kak, nungguin Bee."
Alta mendorong tubuh Alsya untuk keluar dari rumahnya.
"Lain kali saja ya nginapnya, sudah sana pulang."
"Dasar pelit."
Dengan kesalnya Alsya pun masuk ke dalam mobilnya dan segera meninggalkan rumah Alta, setelah di rasa Alsya sudah pergi, Alta segera mengambil jaket dan kunci mobilnya. Ia akan menyusul Bee, entah kenapa perasaannya tidak enak.
Sementara itu, Bee baru saja sampai sang sopir membawa Bee ke sebuah Bar ternama di Jakarta ini.
"Nona, Tuan Simon sudah menunggu di dalam."
"Ah iya, terima kasih Pak."
Bee tampak ragu-ragu untuk masuk karena Bee belum pernah masuk ke dalam Bar tapi demi bayaran besar Bee memberanikan diri masuk. Di saat Bee masuk, semua mata tertuju kepada Bee, sedangkan Bee merasa tidak nyaman apalagi suara musik yang sangat memekakan telinga.
Seorang pria tampan menghampiri Bee dan langsung cipika-cipiki membuat Bee terkejut.
"Kamu cantik sekali malam ini."
"Te--terima kasih, Tuan."
"Ayo, teman-temanku sudah menunggu."
Simon merangkul pinggang Bee dengan posesif membuat Bee bertambah tidak nyaman.
Simon mengulurkan sebuah minuman ke arah Bee.
"Maaf Tuan, aku tidak minum minuman beralkohol."
"Ini tidak memabukkan Bee, coba deh."
"Tapi Tuan."
"Coba dulu, seriusan ini bukan minuman beralkohol."
Dengan ragu-ragu Bee mengambil minuman itu dan mengendus-ngendus. Baunya sangat aneh tapi Simon dan teman-temannya terus saja memaksa Bee.
"Cobalah sedikit saja," bujuk Simon.
Akhirnya Bee pun mencoba sedikit meminumnya, sungguh rasanya tidak enak dan tenggorokkannya pun terasa panas. Bee menyimpan gelas itu, tapi memang dasarnya Bee tidak pernah meminum minuman seperti itu akhirnya Bee mabuk.
"Ya ampun kenapa kepalaku pusing," gumam Bee.
"Astaga Bee, ternyata sangat mudah membuatmu mabuk. Sorry bro, aku pergi dulu mau bersenang-senang dulu," seru Simon.
Simon pun mulai memapah Bee yang sudah sempoyongan, tapi baru saja beberapa langkah.
Bughh...
Bughh...
Bughh...
Seseorang memukul Simon sampai Simon tersungkur.
"Jangan coba-coba sentuh dia, atau kamu akan berurusan denganku," sentak Alta.
Anak buah Simon langsung datang dan menyerang Alta, perkelahian pun tak terelakkan lagi semuanya tampak terkejut. Alta sudah mulai terdesak karena anak buah Simon kembali datang.
"Kenapa? kamu takut Tuan Alta? jangan jadi sok pahlawan deh, mendingan sekarang kembalikan wanita itu," seru Simon dengan senyumannya.
"Tidak akan, aku tidak akan membiarkan dia menjadi korbanmu yang selanjutnya."
"Sialan, serang dia kalau perlu bunuh sekalian," seru Simon.
Anak buah Simon kembali menyerang Alta tapi belum juga mereka menyentuh Alta sekelompok orang menghadang semuanya dan dalam sekejap anak buah Simon tumbang.
"Cepat bawa Bee pulang," seru Seno.
Ya, ternyata orang-orang itu adalah Seno, Gibran, Rayyan, dan anak buahnya. Alta segera mengangkat tubuh Bee yang sudah tidak berdaya, sedangkan Seno memerintahkan anak buahnya untuk membereskan semuanya termasuk Simon.
Selama dalam perjalanan, Bee terus saja mengoceh tidak jelas. Sesampainya di rumah, Alta kembali mengangkat tubuh Bee dan merebahkannya di tempat tidur Bee tapi di saat Alta hendak meninggalkan Bee, Bee menarik Alta sehingga Alta terjatuh menimpa tubuh Bee membuat Alta terkejut.
"Hai, Pak Alta yang terhormat. Bapak itu memang tampan tapi sayangnya anda sangat menyebalkan, anda selalu menyuruh ini itu semaumu, sungguh kamu sangat menyebalkan."
Cup...
Tanpa aba-aba Bee mencium bibir Alta, membuat Alta membelalakan matanya. Tapi sedetik kemudian Bee langsung tertidur tidak sadarkan diri, sedangkan Alta hanya bisa terdiam membeku.
Jantungnya berpacu dengan kencangnya, membuat Alta dag dig dug tak karuan. Alta tersadar dan langsung bangkit dari atas tubuh Bee, Alta segera pergi meninggalkan kamar Bee dengan perasaan yang tak menentu.
"Sial, kenapa jadi begini," gumam Alta.
Alta segera masuk ke dalam kamarnya dan beberapa kali mengusap wajahnya bahkan sesekali mengacak-ngacak rambutnya karena frustasi.
🌍
🌍
🌍
🌍
🌍
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
__ADS_1
TERIMA KASIH
LOVE YOU