CINTA DOSEN GENIUS

CINTA DOSEN GENIUS
Sahabat Akan Peka


__ADS_3

🌍


🌍


🌍


🌍


🌍


Nasya pun celingukkan mencari keberadaan Alta hingga akhirnya Bee melambaikan tangannya ke arah Nasya.


Nasya tampak terkejut melihat Seno dan Rayyan..


"Ya ampun, kenapa pria-pria ini tampan-tampan sih? Alsya beruntung banget bisa dekat dengan mereka," batin Nasya.


"Bee, serius kalian mau nikah?" tanya Rayyan.


"Iya Bang."


"Sumpah, aku ga percaya kalau akhirnya kalian akan menikah. Kalian ga sedang bersandiwara kan? apa jangan-jangan kamu mau dijodohin sama Tante Tasya dan Om Alvian ya?" seru Rayyan kembali.


"Ya ampun bawel banget sih jadi cowok, perasaan cewek aja ga sekepo itu," sindir Erika.


"Diam kamu bule gila," ketus Rayyan.


"Apa kamu bilang? bule gila?"


Erika bangkit dari duduknya dan langsung menjambak rambut Rayyan membuat Rayyan berteriak.


"Woi sakit, apa-apaan sih lepasin!" teriak Rayyan.


"Siapa suruh panggil aku bule gila, sembarang saja kalau ngomong," kesal Erika.


"Astaga Er, sudah-sudah kasihan Bang Rayyan," seru Bee dengan menarik tubuh Erika.


Erika akhirnya melepaskannya dan duduk dengan penuh emosi.


"Astaga, liar banget sih jadi cewek ga salah kan aku panggil kamu bule gila," kesal Rayyan.


"Ih dasar nyebelin."


Erika hendak menyerang Rayyan lagi tapi keburu Bee menahannya, sedangkan Alta dan Seno hanya bisa memijat pelepisnya yang tiba-tiba berdenyut.


"Sorry lama...Allohuakbar, kamu kenapa Ray? kok acak-acakkan seperti itu?" tanya Gibran.


"Siapa lagi kalau bukan si bule gila nih pelakunya, liar banget jadi cewek," ketus Rayyan.


"Serem juga kamu Nona bule, ya ampun yang jadi suami kamu pasti bakalan jadi kucing yang manis dan ga bakalan berani macam-macam," seru Gibran.


"Iyalah, kalau macam-macam bakalan aku potong burungnya," kesal Erika.


Reflek keempat serangkai itu memegang senjata pusakanya masing-masing sembari meringis.


"Gila, aku merinding tahu. Kamu nanti jangan seperti itu ya Bee," seru Alta.


"Tergantung, bagaimana si pria bersikap. Kalau dia baik-baik saja, ya kita pun bakalan lebih baik tapi kalau dia macam-macam, kita bakalan lebih kejam lagi," sahut Bee dengan santainya.


"Mantap Bee, kita jangan kalah sama pria," seru Erika.


Bee dan Erika bertos ria, membuat para pria tampan itu menganga.


"Masih mau lanjutin nikahnya, Al?" bisik Seno.


"Lanjut saja," sahut Alta dengan wajah yang meringis.


Nasya terus saja curi-curi pandang kepada Gibran.


"Jadi seriusan, kalian minggu depan mau nikah?" tanya Gibran.


"Iya Gib, kita sudah memutuskan kalau kita akan menikah biar pacarannya enak kan sudah halal, jadi mau ngapa-ngapain juga ga bakalan ada yang melarang," sahut Alta.

__ADS_1


"Terus rencananya kalian mau ngadain resepsi dimana?" tanya Seno.


"Sepertinya kita hanya ijab kabul saja Bang Sen, soalnya waktunya mendadak," sahut Bee.


"Wah parah kamu Al, masa pengusaha sukses ga ngadain resepsi malu-maluin kita saja," seru Gibran.


"Resepsinya di pending dulu, soalnya aku lagi ada sedikit masalah nanti kalau semuanya sudah baik-baik saja baru kita bakalan ngadain resepsi," sahut Alta.


"Terserah Pak Dosen sajalah, kita mah hanya bisa mendo'akan yang terbaik untuk kalian," seru Rayyan.


"Setuju," seru Seno dan Gibran bersamaan.


Nasya terus saja memperhatikan Gibran...


"Apa dia Gibran pacarnya Alsya ya? Alsya sungguh beruntung sekali punya pacar tampan seperti itu, tapi kok selama aku di rumah sakit dia ga pernah datang menjenguk Alsya? apa mereka sedang marahan?" batin Nasya.


Tiba-tiba Gibran menoleh ke arah Nasya dan Nasya tampak terkejut hingga akhirnya dia dengam cepat berpura-pura mengotak-ngatik ponselnya.


"Ada yang aneh dengan si lalat pengganggu, kenapa dia hari ini bersikap manis seperti itu tidak bar-bar seperti biasanya, mana dia seolah-olah tidak kenal sama aku lagi," batin Gibran.


Mereka semua pun makan sembari diselingi canda tawa.


"Bee, serius kamu mau menunda punya anak?" tanya Erika.


"Iya Er, aku mau fokus dulu selesaikan kuliah aku terus habis itu aku ingin kerja."


"Ya ampun Bee, ngapain pakai kerja segala? calon suamimu itu orang kaya loh, perusahaannya ada dimana-mana lebih baik kamu diam di rumah habisin uang si Alta," seru Gibran.


"Woi, tolong di garis bawahi uang aku itu tidak akan pernah habis sampai tujuh turunan," sahut Alta dengan sombongnya.


"Bang Gibran lupa ya kalau aku itu mata duitan, aku harus mengumpulkan uang yang banyak karena aku sangat suka sekali dengan uang," seru Bee dengan senyumannya.


"Ya ampun, aku baru tahu kalau calon istriku maniak uang."


"Kenapa? mau batalin pernikahannya?"


"Ishh..ishh..ishh..tidak ada kata mundur dalam kamus seorang Alta si anak genius, justru kamu harus bantuin aku habisin uangnya soalnya uang aku terlalu banyak."


"Ckckck...sombong sekali kamu Oppa."


"Sya, kamu kenapa kok dari tadi diam saja? kamu lagi sakit ya?" tanya Bee.


"Ah, tidak kok Bee aku baik-baik saja."


"Tapi tidak seperti biasanya kamu pendiam seperti itu, biasanya kamu paling heboh apalagi kalau bertemu dengan Bang Gibran, biasanya kamu bakalan nempel kaya perangko."


Nasya bingung harus menjawab apa, Bee terlalu peka dan bisa tahu perubahan yang terjadi pada sahabatnya itu. Begitu pun dengan Alta, dia juga tidak tahu harus bicara apa.


"Oppa, jawab dengan jujur dimana Alsya?" tanya Bee.


Cekiiiiiiiitttt....


Alta menginjak remnya dengan sangat kencang membuat Nasya dan Bee terkejut.


"Maksud kamu apa Bee? itu Alsya," seru Alta.


"Bukan, dia bukan Alsya tapi dia Nasya kan kembarannya?"


Alta dan Nasya membelalakkan matanya, mereka tidak menyangka kalau Bee akan semudah itu mengenali Nasya padahal semua orang tidak ada yang ngeh dengan keberadaan Nasya.


"Jawab Oppa, dimana Alsya?" sentak Bee.


Mata Bee sudah mulai memerah menahan tangisannya, Bee memang sudah curiga kalau saat ini pasti sedang terjadi sesuatu sama Alsya.


Alta tidak menjawab pertanyaan Bee, Alta pun segera menginjak gasnya dan mengarahkan mobilnya ke sebuah rumah sakit.


"Kenapa kita ke rumah sakit?" tanya Bee.


"Nanti juga kamu akan tahu," sahut Alta.


Tiba-tiba detak jantung Bee berdetak lebih kencang saat menginjakkan kakinya di rumah sakit, perasaannya sungguh tidak enak. Bee berjalan mengikuti langkah Alta dan Nasya, hingga akhirnya Alta dan Nasya berhenti di depan sebuah ruangan.

__ADS_1


Ceklek...


Perlahan Alta membuka pintu itu, dan terlihat Mommy Tasya sedang menyuapi Alsya.


"Hai, kalian sudah pulang ternyata," seru Mommy Tasya.


"Bagaimana Nas, dengan kuliahnya?" tanya Alsya.


"Lancar."


Alsya tersenyum kepada Kakak dan saudara kembarnya itu tanpa tahu kalau dibelakang mereka ada Bee yang mati-matian menahan tangisannya saat mendengar suara parau Alsya.


"Kenapa kalian malah berdiri di depan pintu, ayo masuk," seru Mommy Tasya.


Perlahan Alta dan Nasya melangkahkan kakinya, tapi tidak dengan Bee dia masih berdiri di depan pintu dengan menundukkan kepalanya.


Alsya membelalakkan matanya saat ada seseorang yang masih berdiri di depan pintu.


"Bee..."


Bee mengangkat wajahnya, seketika airmatanya luruh juga tidak bisa dibendung saat melihat keadaan Alsya yang sangat mengkhawatirkan itu.


"Alsya..." seru Bee dengan bibir bergetar.


Alsya tersenyum dengan deraian airmata, Bee langsung berlari memeluk sahabatnya itu.


"Sya, kenapa kamu tidak bilang kalau saat ini kamu sedang sakit."


"Maaf Bee, aku ga mau membuat kamu sedih dengan keadaanku."


Bee melepaskan pelukkannya dan menatap kesal ke arah sahabatnya itu.


"Justru kalau kamu membohongi aku, itu sangat menyakitkan dan membuat aku lebih sedih lagi."


Mommy Tasya sudah meneteskan airmatanya dan Nasya pun memeluk Mommynya itu, sedangkan Alta menghampiri kedua gadis yang sangat dia sayangi.


"Kamu hebat Sya, punya sahabat sangat peka sampai-sampai dia tahu kalau itu bukan kamu," seru Alta.


"Loh, Bee tahu sendiri? bukan karena Kak Alta yang memberitahunya?" seru Alsya kaget.


Alta pun menggelengkan kepalanya...


"Kamu tahu darimana kalau dia bukan aku?"


"Sifatnya terlalu jauh berbeda, Nasya terlalu pendiam dan saat ngobrol sama aku dan Erika pun Nasya sangat kaku," sahut Bee.


"Bee, kamu memang sahabat terbaikku."


"Sahabat itu sudah saling mengenal satu sama lain, maka dari itu sahabat akan peka jika terjadi sesuatu kepada sahabatnya sendiri."


Alsya sangat bahagia dan kembali memeluk Bee, Alta mengusap kepala Alsya dan Bee bergantian. Kedua wanita yang sampai kapan pun akan menempati tempat istimewa dihatinya.


🌍


🌍


🌍


🌍


🌍


Jangan lupa


like


gift


vote n


komen

__ADS_1


TERIMA KASIH


LOVE YOU


__ADS_2