
🌍
🌍
🌍
🌍
🌍
Bee tersenyum saat mengingat ucapan Alta beberapa saat yang lalu kalau Dosen tampannya itu menyatakan cintanya kepada dirinya.
Saat ini Bee memperhatikan wajah tampan Alta yang sedang tertidur dengan lelapnya setelah sebelumnya meminum obat penurun panas. Alta tertidur dengan menggenggam tangan Bee, Alta bilang takut Bee pergi dan meninggalkannya.
Perlahan Bee melepaskan tangannya, Bee akan menghubungi adiknya.
***
Sementara itu, Zia terlihat buru-buru memasuki sebuah hotel mewah dan ternama itu. Zia sudah tahu dimana letak ruangan Seno, maka dari itu Zia langsung menuju ruangan Seno tanpa bertanya dahulu.
"Nona Zia, ada apa?" tanya Reza.
"Apa Seno ada didalam?"
"Ada Nona."
Zia pun langsung masuk ke dalam ruangan Seno.
"Reza, kenapa kamu tidak ketuk pintu dulu kalau mau masuk?" seru Seno dengan pandangan yang masih fokus kepada berkas-berkas dihadapannya.
Tidak ada jawaban, membuat Seno mengerutkan keningnya kemudian mendongakkan kepalanya dan terkejut melihat seorang wanita cantik berdiri di depan pintu dengan anggunnya.
"Kamu? ngapain kesini?" ketus Seno.
Zia menghampiri Seno dan duduk di hadapan Seno.
"Besok lusa temannku ulang tahun."
"Terus?"
"Konsepnya itu, setiap tamu undangan diharuskan membawa pasangannya masing-masing."
Seno mengangkat satu alisnya. "Terus?"
Lama-lama Zia kesal dengan jawaban Seno yang sangat menyebalkan itu.
"Kenapa sih kamu itu begitu sangat menyebalkan," sentak Zia.
"Makanya kalau ngomong itu yang jelas jangan banyak basa-basi, langsung ke intinya jangan berbelit-belit."
"Kamunya aja yang ga peka, aku harus datang ke acara ulang tahun itu karena dia teman terbaikku karena sekarang status kamu tunanganku jadi aku mau mengajak kamu ke acara ulang tahun tanku," ketus Zia.
"Kapan?"
"Besok lusa."
"Ga bisa, aku banyak kerjaan lagipula besok lusa aku harus ke luar kota ada kerjaan."
"Ck...ga bisakah kamu menyerahkan pekerjaan itu kepada asistenmu saja?"
"Tidak bisa, ini pekerjaan penting harus aku sendiri yang turun tangan."
Zia sangat kesal, bahkan Seno berbicara tanpa melihat wajahnya membuat matanya memerah menahan tangisan. Zia pun bangkit dari duduknya, membuat seketika Seno mendongakkan kepalanya.
"Ternyata aku sudah datang ke tempat yang salah," kesal Zia dengan menahan tangisannya.
Zia pun segera melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan Seno, sungguh Zia menyesal sudah datang ke hotel Seno.
Sementara itu Seno hanya bisa melihat kepergian wanita yang saat ini berstatus tunangannya itu. Zia mengusap airmatanya dengan kasar, kemudian segera melajukan mobilnya meninggalkan hotel itu.
__ADS_1
Dilain sisi, Alsya yang baru saja pulang dari kampus langsung menuju kamarnya. Wajahnya terlihat pucat dan badannya pun sudah mulai demam lagi.
Alsya segera mengambil obat didalam laci lemari dam segera meminumnya.
"Semakin hari tubuhku semakin lemah saja," gumam Alsya.
Perlahan Alsya membuka lemari pakaiannya, Alsya mengambil sebuah map. Tangannya begitu bergetar membuka map itu, didalam map itu tertulis berbagai macam catatan medis.
Tidak terasa airmata Alsya menetes kemudian tanpa sadar meremas map itu dan mendekapnya didalam dadanya.
"Ya Alloh, bisakah Engkau memberiku waktu sedikit lebih lama lagi?" gumam Alsya dengan tangisannya.
Akhirnya Alsya hanya bisa terduduk di lantai meratapi nasibnya yang kurang beruntung.
***
Waktu pun berjalan dengan cepat, waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 sore saat ini Bee sedang berkutat di dapur untuk membuatkan makanan untuk Alta.
Bee tidak menyadari kalau saat ini Alta sudah berdiri di belakangnya.
"Hmm...harum sekali, kamu masak apa?" tanya Alta.
"Allohuakbar, Oppa kenapa suka sekali membuat jantungku bermasalah sih. Lagipula, ngapain Oppa turun bukannya istirahat saja di kamar."
"Aku sudah sembuh kok."
"Ini aku masakin makanan buat Oppa, terus buat makan malam Oppa nanti tinggal panasin saja ya."
"Lah, memangnya kamu mau kemana?"
"Oppa, aku kan mau pulang."
"Ah iya, aku lupa. Tidak bisakah kamu tinggal lagi disini?"
"Tidak bisa Oppa, sekarang ada Rega."
"Kamu bisa ajak Rega buat tinggal disini."
"Tidak bisa, aku tidak mau merepotkan Oppa lagipula rasanya tidak enak saja kalau harus lama-lama tinggal disini, ga baik nanti disangkanya kita ngapain-ngapain mana kalau malam hari kita hanya berdua lagi."
"Ya sudah kita nikah saja, biar kamu bisa tinggal disini."
"Hah..."
"Kenapa, kamu ga mau nikah sama aku?"
"Ya ampun Oppa, kita jadian baru tadi pagi loh belum dua puluh empat jam masa mau nikah-nikah saja, lagian aku belum mau nikah."
"Kenapa?"
"Aku masih kuliah, aku ingin fokus menyelesaikan kuliah aku dulu habis itu aku ingin kerja baru deh setelah itu mikirin nikah."
"Lah lama dong nunggunya."
"Ya itu resiko Oppa, kalau mau nunggu syukur kalau pun tidak mau nunggu juga ga apa-apa, aku mah nyantai-nyantai saja."
"Ckckck...."
Bee pun tersenyum dan menyelesaikan masakannya. Sementara Alta hanya melipat kedua tangannya di depan dada dengan tatapan tajam ke arah Bee.
"Sudah selesai, sekarang Oppa makan ya habis itu aku pulang."
Bee sudah menata di meja makan, tapi Alta masih saja diam. Bee kemudian mendekati Alta dan menarik paksa tangannya kemudian menyuruh Alta untuk duduk.
"Ayo makan dulu, jangan cemberut terus."
"Aku ga lapar."
Bee baru tahu sisi lain dari Dosen killernya itu, ternyata selain Killer, Dosennya itu ngambekkan juga.
__ADS_1
"Aish..."
Bee mengambilkan nasi dan lauk pauknya kemudian Bee duduk di samping Alta.
"Ayo buka mulutnya."
Alta masih setia dengan diamnya bahkan tidak mau membuka mulutnya sama sekali. Bee menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan.
"Baiklah Oppa, jadi kapan Oppa mau nikahin aku?" seru Bee.
Alta langsung menatap ke arah Bee sedangkan Bee yang di tatap malah bersikap santai.
"Kok malah lihatin aku kaya gitu? katanya Oppa kan ingin nikahin aku, ayo aku ladenin."
Pletaakkk...
Alta menyentil kening Bee membuat Bee meringis...
"Kok malah di sentil?"
"Dasar ya, masa ngomong mau nikah kaya yang mau ngajak berantem," seru Alta.
"Ya habisnya Oppa ngambekkan, kalau Oppa serius mau ngajak aku nikah, oke aku akan terima tapi dengan satu syarat."
"Apa?"
"Kita tunda punya anak."
"Lah, buat apa nikah kalau kita ga ngelakuin apa-apa sama saja bohong. Kamu hanya ingin menyiksa batinku kalau begitu."
"Siapa yang mau nyiksa Oppa?"
"Itu katanya kamu ingin menunda punya anak, berarti kita ga bakalan ngelakuin itu dong."
"Itu apa?" goda Bee.
"Ya itu, yang anu-anu," sahut Alta salah tingkah.
Bee menahan senyumannya, kemudian dengan gemasnya memasukan satu sendok penuh nasi ke dalam mulut Alta membuat Alta melotot dan tidak bisa bicara sama sekali.
"Oppa itu orang genius, tapi kadang-kadang kalau masalah kaya ginian lemot banget. Aku kasih syarat mau nunda punya anak dulu bukan berarti seperti yang Oppa bayangkan, maksudnya aku pakai KB dulu soalnya aku masih ingin lanjutin kuliah dan bekerja, nah setelah itu baru deh aku lepas KBnya mau berapa pun anak yang Oppa minta aku jabanin."
Tiba-tiba sebuah senyuman terbit di wajah tampan sang Dosen, kemudian Alta langsung memeluk Bee saking bahagianya membuat Bee terkejut.
"Oke...minggu depan kita nikah."
"Whaaaaatttttt......"
🌍
🌍
🌍
🌍
🌍
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
__ADS_1
LOVE YOY