
🌍
🌍
🌍
🌍
🌍
Setelah berbincang-bincang, Bee pun pamit untuk berangkat ke kampus.
"Mau bareng sama aku?" seru Alta.
"Tidak, kan aku bawa motor."
"Kak, aku ikut sama Kakak saja aku kan ga bisa nyetir," seru Nasya keceplosan.
Bee mengerutkan keningnya membuat Alta menatap tajam ke arah Nasya.
"Ah, maksud aku...aku ikut Kakak karena aku ga bawa mobil," sahut Nasya gugup.
"Kamu mah Sya, suka bercanda saja tiap hari pakai mobil masa ga bisa nyetir, garing banget bercandanya," ledek Bee.
Nasya tertawa dipaksakan...
"Ya sudah, aku duluan."
Bee pun mulai melajukan motornya dan meninggalkan rumah Alta, sedangkan Nasya langsung masuk ke dalam mobil Alta.
"Nasya, kamu itu harus ingat kalau kamu sedang berpura-pura menjadi Alsya jangan sampai kamu keceplosan," seru Alta.
"Iya Kak, maaf."
Tidak lama kemudian, mobil Alta pun sampai di kampus dan ternyata Bee dan Erika sudah nongkrong manis di kursi taman sembari menunggu Alsya.
"Hai Bee, Erika, sedang apa nih?" tanya salah satu Mahasiswa mendekati kedua gadis cantik itu.
Bee dan Erika hanya menatap pria itu dengan tatapan malas.
"Boleh aku duduk disini?"
"Tidak boleh," sahut Bee dan Erika bersamaan.
"Ishh..ishh..ishh..jangan sombong, nanti ga bakalan ada pria yang deketin kalian baru tahu rasa kalian."
"Bodo amat," sahut Bee dan Erika bersamaan.
Alta dan Nasya yang baru saja keluar dari mobil, melihat ke arah Bee dan Erika yang sedang diganggu oleh salah satu Mahasiswa membuat Alta sedikit emosi.
"Ishh sombongnya, aku do'akan kalian bakalan menjadi perawan tua."
"Hai tokek buluk, hidup kamu saja hancur sok-sok an mendo'akan kita. Lebih baik kamu berdo'a untuk dirimu sendiri ga usah ribet-ribet do'ain orang," ketus Erika.
"Ehmm...ehmm..."
Suara deheman Alta membuat ketiganya menoleh dan membuat si Mahasiswa abadi itu sedikit terkejut.
"Ada apa ini?" tanya Alta dingin.
"Ini Pak, tokek buluk ini dari tadi gangguin kita," sahut Erika.
"Enggak Pak, mereka bohong justru mereka berdua yang gangguin aku mereka memaksa aku untuk duduk disini," seru Mahasiswa bernama Ucok itu.
"Allohuakbar, nyebut Cok nyebut dasar tokek buluk. Noh lihat semut aja ga mau duduk barengan sama kamu apalagi kita, percaya diri sekali anda Ucok," kesal Erika.
Bee hanya menahan senyumnya saja...
__ADS_1
"Ya sudah kalian masuk kelas, sepuluh menit lagi mata kuliah aku dimulai," seru Alta datar dan langsung meninggalkan semuanya.
Ketiga wanita cantik itu pun pergi menuju kelasnya, selama perjalanan ke kelas Bee dan Erika tampak heboh membicarakan semua hal tapi berbeda dengan Nasya yang hanya bisa diam saja karena memang dia tidak tahu apa-apa.
"Tunggu, Bee kamu merasa ada yang aneh ga sih?" seru Erika.
"Yang aneh, apaan?"
"Sya, kok dari tadi kamu diam saja sih? kamu sakit gigi ya?" seru Erika.
"Ti--tidak kok, aku baik-baik saja," sahut Nasya.
Bee dan Erika saling pandang. "Kamu dari tadi aneh tahu ga Sya, jadi pendiam gitu biasanya juga heboh," seru Bee.
"Hooh, heboh dan bawel," sambung Erika.
"Masa sih? aku ga apa-apa kok, hanya lagi ga mood aja," sahut Nasya dengan canggung.
"Kamu lagi galau ya? dicuekin lagi sama Bang Gibran?" seru Bee.
"Hah..Bang Gibran?"
"Kamu jangan pikirin Sya, cowok itu gengsinya memang tinggi melebihi cewek kalau Bang Gibran nyuekin kamu, ya kamu cuekin baliklah jangan kamu deketin dulu," sambung Erika.
"Gibran? siapa dia? apa dia pacarnya Alsya?" batin Nasya.
Ketiganya pun masuk ke dalam kelas, dan mengikuti mata kuliahan Alta. Nasya tampak fokus memperhatikan penjelasan Alta, berbeda dengan Bee dan Erika yang seperti biasa tidak pernah fokus dalam mengikuti mata kuliah Alta.
Setelah selesai, satu persatu Mahasiswa pun mulai meninggalkan kelas.
"Bee, sekarang kamu ikut aku ya?"
"Kemana Oppa?"
"Aku mau bertemu dengan Seno, Gibran, dan Rayyan untuk membicarakan pernikahan kita, kalau kamu ga ikut takutnya mereka tidak akan percaya."
"Tanya saja sama Bee," sahut Alta.
"Bee, tolong jujur kamu ga mau kan sampai melihat aku mati penasaran nanti yang ada aku gentayangin kamu loh Bee."
"Minggu depan, aku sama Pak Alta akan menikah," lirih Bee.
"Apa?"
Erika berteriak sembari menggebrak meja membuat semuanya terlonjak kaget.
"Astaga Erika, apa-apaan kamu," sentak Alta.
"Maaf Pak, habisnya aku terkejut. Sya, kok kamu diam saja? apa kamu sudah tahu masalah ini?"
Nasya hanya tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.
"Busyet, Bee kamu serius mau nikah sama Pak Alta? bukannya kamu baru saja jadian ya sama Pak Alta? seharusnya kamu pikir-pikir dulu Bee, takutnya kamu menyesal. Apalagi kalau sudah nikah nanti kamau bakalan bebas lagi, kemana-mana harus lapor dulu, menurut aku lebih baik kamu pikir-pikir dulu deh," cerocos Erika.
Alta sudah mengeraskan rahangnya menahan kesal, membuat Bee merasa sedikit takut.
"Erika, jangan coba-coba kamu mempengaruhi Bee awas saja kalau sampai Bee membatalkan pernikahan ini, kamu orang pertama yang aku cari," seru Alta dengan tatapan horornya.
Erika susah payah menelan salivanya..
"Ma--maaf Pak, saya cuma ngasih pendapat saja."
"Oppa, apa aku boleh ajak Erika dan Alsya?"
"Selama si bule ini tidak membuat masalah, kamu boleh ajak mereka."
Erika mengerucutkan bibirnya dengan berpura-pura ingin menangis.
__ADS_1
"Wajahnya jangan dibuat-buat sedih seperti itu, karena sedikit pun aku tidak akan simpati sama kamu. Bee, aku tunggu diparkiran, kamu naik mobil aku saja motornya simpan disini saja nanti biar anak buahku yang mengambilnya."
Alta pun segera pergi meninggalkan ketiganya...
"Busyet dah, apa itu calon suamimu Bee sungguh menyebalkan. Sepertinya setelah kamu menikah, kita bakalan jarang pergi main deh soalnya aku takut digantung sama suamimu," ledek Erika.
"Oppa baik kok."
"Dasar bucin, orang menyebalkan seperti itu dibilang baik."
"Sudah-sudah, ayo kita pergi."
Bee merangkul pundak kedua sahabatnya itu, Nasya baru pertama kali ini merasakan punya sahabat karena semenjak kecil Nasya tidak punya sahabat, Nasya terlalu introvert dan malas bergaul dengan yang lainnya.
"Sya, kamu ikut mobil si bule saja," ketus Alta.
"Iya Kak."
Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya kedua mobil itu sampai di restoran milik empat serangkai itu.
"Kalian masuk saja duluan, aku mau ke toilet dulu," seru Nasya.
"Oke..."
Nasya pun dengan terburu-buru menuju toilet karena dia sudah kebelet ingin pipis. Nasya dengan cepat masuk toilet, beberapa saat kemudian Nasya pun keluar dari toilet bersamaan dengan seseorang membuat mereka bertabrakan dan dengan cepat orang itu menahan tubuh Nasya supaya tidak jatuh.
Sesaat kedua pasang mata itu saling pandang satu sama lain, hingga keduanya sadar dan si pria langsung melepaskan tubuh Nasya.
"Makannya kalau jalan lihat-lihat," ketus Gibran.
"Iya, maaf," sahut Nasya dengan menundukkan kepalanya.
"Hah..."
Gibran mengerutkan keningnya mendengar jawaban Nasya, Gibran memperhatikan penampilan Nasya dari atas hingga bawah.
"Nih anak kenapa? pasti kesambet setan toilet, kok jadi kalem gitu," batin Gibran.
Sedangkan Nasya yang sadar Gibran sedang memperhatikannya, wajahnya tampak memerah hingga Nasya pun memilih untuk pergi meninggalkan Gibran dengan masih menundukkan kepalanya.
"Si lalat pengganggu kenapa? tumben ga slengean, biasanya kan kalau ketemu sama aku dia kaya lintah pengennya nemplok mulu," batin Gibran.
Gibran pun melanjutkan langkahnya menuju meja sahabat-sahabatnya dengan pikiran yang terus saja memikirkan sikap Alsya yang aneh, sedangkan Nasya tampak gugup dan memegang dadanya.
"Ya ampun, pria itu tampan sekali mana jantung aku berdebar tak karuan seperti ini," batin Nasya.
🌍
🌍
🌍
🌍
🌍
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
__ADS_1
LOVE YOU