
π
π
π
π
π
Keesokkan harinya...
Erika bangun dengan badan yang seakan remuk, bukan karena malam pertama yang melelahkan tapi rangkaian demi rangkaian pernikahan yang sangat panjang membuatnya sangat kelelahan.
Erika melihat jam ternyata sudah pukul 08.00 pagi.
"Ya ampun, kenapa si kanebo kering tidak membangunkanku, aku kan harus ke kantor," gerutu Erika.
Erika pun segera bangun dan....
Bruakk...
Erika terjatuh karena keserimpet gaunnya sendiri, dia lupa kalau semalam tidur masih memakai gaun.
"Sial..."
Dengan berjalan tertatih-tatih, Erika pun masuk ke dalam kamar mandi tidak lupa dia membawa baju ganti. Setelah beberapa saat, Erika berdandan dengan terburu-buru dan segera keluar dari kamarnya.
Erika tidak memperhatikan kalau saat ini Rayyan sedang memperhatikannya sembari nenyeruput kopinya. Erika tampak heboh mencari-cari heelsnya dan tasnya, setelah semuanya ketemu, Erika pun segera keluar.
Erika tampak celingukkan..
"Ah sial, aku kan ga bawa mobil," gumamnya.
Erika kembali masuk ke dalam rumah, dan terlihat Rayyan masih santai dengan kopi dan ponsel di tangannya.
"Hai, kanebo kering buruan anterin aku ke kantor aku sudah terlambat!" senrak Erika.
Rayyan terlihat cuek tidak mendengarkan ocehan wanita yang saat ini sudah sah menjadi istrinya.
"Ih, woi kamu tuli ya buruan anterin aku ke kantor!" teriak Erika.
"Tidak usah teriak-teriak, lagipula aku ini suamimu jadi berbicaralah dengan sopan."
"Suami hanya status saja, jadi kamu tidak usah ngatur-ngatur aku. Buruan mau nganterin aku atau enggak."
"Memintalah dengan sopan, baru aku akan mengantarkan kamu ke kantor."
"Astaga, ribet banget. Ya sudah, malas minta bantuan sama kamu mendingan aku minta anterin sama Polisi yang ada diluar sana aku yakin mereka mau nganterin aku," ketus Erika.
Rayyan membelalakkan matanya...
"Erika berhenti, berani kamu meminta bantuan kepada orang lain aku akan menghukummu!" bentak Rayyan.
"Bodo amat."
Erika terus saja keluar dari rumah dan hendak menghampiri para Polisi yang saat ini sedang santai di depan rumah Dinasnya masing-masing tapi belum juga Erika bicara, Rayyan dengan cepat menarik tangan Erika dengan kasar dan mendorong Erika untuk masuk ke dalam mobilnya.
Rayyan melajukan mobilnya dengan sangat emosi.
"Kamu ya, sudah berani melawanku."
"Kami duluan yang membuatku emosi."
"Jangan coba-coba menggoda para Polisi itu, atau kamu akan tahu akibatnya."
"Siapa juga yang mau menggoda mereka, aku hanya ingin meminta bantuan kepada salah satu dari mereka untuk mengantarkanku, lagipula aku bakalan bayar mereka kok," sahut Erika.
"Bayar pakai apa? pakai tubuhmu?"
Erika langsung menatap tajam ke arah Rayyan, matanya sudah berkaca-kaca lagi-lagi Rayyan mengatakan hal yang sangat kejam dan membuat hati Erika sakit.
__ADS_1
"Berhenti..."
Rayyan tampak gelagapan, dia sadar kalau ucapannya barusan sudah sangat salah. Rayyan tidak mendengarkan ucapan Erika, dia terus saja melajukan mobilnya.
"Aku bilang berhenti!" teriak Erika dengan deraian airmatanya.
Rayyan langsung menginjam remnya dan dengan cepat Erika keluar dari dalam mobil Rayyan. Erika segera menghentikan taksi dan masuk ke dalam taksi tanpa menoleh lagi ke arah Rayyan.
Rayyan memukul stir mobilnya, lagi-lagi mulutnya mengeluarkan kata-kata yang tidak sepantasnya dia ucapkan.
Sementara itu dilain sisi, Alta terlihat memijit keningnya melihat isi dari berkas-berkas yang menumpuk di depannya.
Tok..tok..tok..
"Masuk."
"Pagi Pak, apa Bapak memanggil saya?" seru Edo.
"Edo, apa-apaan ini? kamu bekerja disini bukan seminggu dua minggu tapi kenapa pekerjaan kamu jadi acak-acakkan seperti ini," kesal Alta.
"Maaf Pak, itu hasil kerjaan Nona Bee bukan saya."
"Astaga..."
Lagi-lagi Alta memijit keningnya, sudah satu minggu istrinya bekerja tapi kerjaannya tidak pernah ada yang benar.
Tok..tok..tok..
"Permisi..."
"Hai sayang, ayo masuk. Ada apa?" tanya Alta.
Raut wajah Alta yang awalnya kusut tiba-tiba sumringah melihat wajah istrinya itu membuat seketika Edo melotot.
"Oppa kenapa? apa hasil kerjaku tidak benar?" seru Bee.
"Ah ti--dak kok sayang, pekerjaanmu bagus hanya saja Edo yang tidak becus kerja," dusta Alta.
"Kak Edo kenapa kerjanya tidak becus, padahal Kak Edo kan sudah lama bekerja disini jangan-jangan Kak Edo lagi patah hati ya makanya kerja jadi berantakan," seru Bee dengan polosnya.
"Hah...."
Edo dan Alta saling pandang satu sama lain, hingga akhirnya Alta memberikan isyarat kalau Edo harus keluar. Edo pun pamit dan meninggalkan ruangan Alta.
"Ya ampun, Pak Bos saja takut sama bininya apalagi aku yang hanya sebatas asisten," gerutu Edo.
"Sayang."
Alta menarik tangan Bee sehingga Bee terduduk di pangkuan Alta.
"Oppa jangan begini, bagaimana kalau nanti ada yang masuk."
"Siapa yang akan berani masuk kesini."
"Oppa capek ya, sini aku pijitin."
Bee pun memijat kening Alta dengan sangat telaten membuat Alta memejamkan matanya saking enaknya.
"Sayang, boleh aku bertanya?"
"Apa?"
" Sebenarnya keahlian kamu itu dibidang apa sih?"
"Sebenarnya aku itu jago gambar, dan aku cita-cita ingin menjadi seorang Arsitek tapi ga kesampaian."
"Terus kenapa kamu kuliah ambil jurusan bisnis?"
"Itu keinginan kedua orang tuaku Oppa, dulu mereka ingin anak-anaknya sukses padahal aku sama sekali tidak mengerti masalah bisnis kemarin aja aku lulus itu sudah suatu keajaiban," sahut Bee.
Alta membuka matanya dan menatap wajah cantik istrinya itu.
__ADS_1
"Pantas saja kerjaan kamu tidak ada yang benar."
"Maksudnya?"
"Kerjaan kamu salah semua sayang, kerjaanku jadi kacau," sahut Alta lembut.
"Apa? maaf aku sudah mengacaukan semuanya," seru Bee dengan menundukkan kepalanya.
"Tidak apa-apa, aku akan mengajarimu di rumah nanti tapi tentu saja ada bayarannya."
"Oppa ga marah?"
"Kenapa mesti marah, tidak apa-apa lagipula ini masih diawal. Lain kali kalau kamu tidak mengerti jangan malu-malu tanya pada Edo."
"Siap Oppa, kalau begitu aku kerja dulu aku janji kali ini aku akan bekerja dengan benar."
Bee pun bangkit dari pangkuan Alta dan dengan cepat mencium pipi Alta kemudian berlari meninggalkan ruangan Alta membuat Alta terkekeh.
***
Malam pun tiba...
Erika melihat jam yang melingkar ditangannya sudah menunjukkan pukul 21.00 malam. Erika kemudian membereskan barang-barangnya, sungguh Erika sangat malas bertemu dengan Rayyan tapi kalau dia pulang ke rumahnya pasti kedua orang tuanya akan marah.
Akhirnya dengan langkah gontai, Erika pun melangkahkan kakinya hingga disaat Erika sudah sampai di lobi ia dikejutkan dengan kehadiran Rayyan yang sudah menunggunya.
Erika melangkahkan kakinya dengan mantap dan melewati Rayyan begitu saja, kemudian Erika menghentikan taksi dan segera masuk ke dalam taksi. Rayyan hanya bisa memperhatikan Erika pergi tanpa bisa berkata apa-apa lagi, lidahnya begitu kelu karena Rayyan tahu pasti saat ini Erika sangat marah kepadanya.
Rayyan segera masuk ke dalam mobilnya dan segera menyusul taksi yang Erika tumpangi, Rayyan bisa bernafas lega karena Erika pulang ke rumahnya. Rayyan pun masuk ke dalam rumah, dan ternyata Erika sudah masuk ke dalam kamar mandi.
Beberapa saat kemudian Erika keluar...
"Makanlah, pasti kamu belum makan," seru Rayyan.
Erika hanya menatap tajam ke arah Rayyan, sungguh Erika saat ini sangat membenci sosok yang ada dihadapannya ini.
Erika segera mengambil selimut dan merebahkan tubuhnya diatas sofa tanpa memperdulikan Rayyan.
π
π
π
π
π
Yuk, guys kasih giftnya yang banyak karena ada hadiah pulsa menunggu kalianππ
Juara 1 : 100k
Juara 2 : 75k
Juara 3 : 50k
Juara 4-10 : 20k
Ayo, semangat waktunya dimulai sekarang sampai tanggal 1 Maretπͺπͺππ
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
__ADS_1
LOVE YOU