CINTA DOSEN GENIUS

CINTA DOSEN GENIUS
Operasi Transflantasi Hati


__ADS_3

🌍


🌍


🌍


🌍


🌍


Ceklek...


Pintu ruangan rawat Alsya pun terbuka menampilkan sosok Mommy Rubby dan Daddy Gerry.


"Mommy, Daddy, kok ada disini?" tanya Gibran.


"Kami sudah tahu semuanya, tadi pagi Mas Alvian datang ke rumah dan menceritakan semuanya kepada kami," seru Mommy Rubby.


"Terus, apa yang akan kalian lakukan? Gibran akan tetap mendonorkan hati Gibran untuk Alsya," sahut Gibran.


Alsya membelalakan matanya mendengar ucapan Gibran.


"Apa Kak? Kakak akan mendonorkan hati Kakak untuk Alsya?" tanya Alsya terkejut.


"Iya Sya, aku sudah diperiksa dan saat ini aku sedang menunggu keputusan Uncle Zidan."


"Kak, Kakak tidak perlu seperti itu aku tidak apa-apa kok," seru Alsya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Gibran menghampiri Alsya dan menggenggam tangan Alsya.


"Tidak Sya, aku akan tetap mendonorkan hati aku untukmu dan aku yakin hati aku akan cocok denganmu."


"Alsya sayang, yang dikatakan Gibran benar Tante tidak akan melarang keinginan Gibran karena Tante tahu, Gibran bukan anak yang gampang untuk dibujuk. Tante dan Om hanya bisa berdo'a dan memberikan semangat untuk kalian berdua, kami sangat mendukung keputusan Gibran," seru Mommy Rubby.


"Terima kasih Mommy."


Gibran pun memeluk Mommy dan Daddynya secara bergiliran, Gibran semakin bersemangat dan yakin kalau hatinya akan cocok dengan Alsya.


"Alsya...."


Erika masuk dengan deraian airmata dan langsung memeluk sahabatnya itu.


"Kenapa kamu ga bilang kalau kamu sedang sakit," seru Erika.


"Aku tidak apa-apa kok Er, jangan sedih seperti itu ah."


Tidak lama kemudian, Dr.Zidan pun datang...


"Gibran, bisa ikut saya sebentar."


"Baik Uncle."


Gibran pun segera mengikuti langkah Dr.Zidan menuju ruangannya.


"Silakan duduk, Gib."


"Terima kasih Uncle."


"Bagaimana, apa kamu sudah memikirkannya dengan baik?"


"Sudah Uncle, dan aku akan tetap mendonorkan hati aku untuk Alsya kalau memang hati aku cocok dan kedua orang tuaku juga sudah mengizinkannya."


"Baiklah, dengarkan saya baik-baik. Menurut hasil pemeriksaan kemarin, mulai dari golongan darah dan hati kamu sangat cocok untuk Alsya."

__ADS_1


"Alhamdulillah."


"Tapi satu yang harus kamu tahu, mengenai efek samping dari kamu mendonorkan hati kamu diantaranya, reaksi alergi terhadap anestesi, mual dan muntah, infeksi, pedarahan, pembekuan darah, serta kerusakan organ atau jaringan yang dekat dengan organ yang mengalami sayatan. Selama pemulihan, saya akan memberikan obat pereda nyeri untuk mengurangi rasa sakit dan ketidak nyamanan pasca operasi," seru Dr.Zidan.


"Organ hati yang telah didonorkan biasanya akan tumbuh kembali sampai pada ukuran sebelumnya dan fungsi hati pun bisa kembali normal dalam beberapa bulan setelah operasi, bagaimana apa kamu masih mau melanjutkannya?" tanya Dr.Zidan.


"Iya Uncle, aku akan tetap lanjut," sahut Gibran mantap.


"Dan satu lagi----"


"Apa itu Uncle?"


"Usia hidup setelah transflantasi hati sangat beragam tergantung dari kondisi masing-masing. Secara umum, lebih dari 70% pasien yang menjalani tranflantasi hati berhasil hidup selama lima tahun setelah operasi."


"Apa? lima tahun?"


"Iya, tapi mudah-mudahan Alsya bisa bertahan lebih dari itu. Kita tidak tahu kuasa Alloh, bisa saja Alloh menurunkan keajaibannya memberikan kesembuhan untuk Alsya, kita kan tidak tahu."


Gibran hanya bisa diam...


"Bagaimana, apa kamu siap?"


"Aku siap Uncle."


"Bagus, ayo sepertinya kita harus mulai sekarang."


Tibalah saatnya Alsya dan Gibran masuk ke dalam ruangan operasi, semua orang tampak was-was.


"Tolong kalian semua do'akan kami, supaya operasinya berjalan lancar. Ini adalah operasi besar dan membutuhkan waktu kira-kira enam sampai dua belas jam," seru Dr.Zidan.


"Amin."


Dr.Zidan dan Dr.Billy pun segera masuk ke dalam ruangan operasi, Alsya dan Gibran sama-sama sedang disuntik bius. Keduanya saling pandang dan tersenyum bersama, hingga akhirnya perlahan keduanya menutup mata mereka masing-masing.


"Bagaimana operasinya?" tanya Seno.


"Mereka baru masuk," sahut Alta.


Semuanya tampak terdiam dan hening, menunggu di depan ruangan operasi. Zia tiba-tiba datang dengan setengah berlari.


"Maaf Tante, Om, Zia baru tahu kalau Alsya lagi sakit," seru Zia dengan nafas yang masih memburu.


"Tidak apa-apa Zia."


Zia menatap Nasya. "Lah, ini kan Alsya?"


"Bukan Kak, itu Nasya kembarannya," sahut Bee.


"Alsya punya kembaran?"


"Iya."


Zia terlihat manggut-manggut, Zia tidak sadar kalau dari tadi Seno memperhatikan gerak-gerik Zia.


"Dr.Zia, ada pasien yang mau melahirkan," seru salah seorang suster.


"Ah iya suster, semuanya aku pergi dulu ya."


"Iya Kak."


Zia pun segera pergi meninggalkan semuanya tanpa sadar kalau ada Seno disana saking Zia paniknya mendengar berita mengenai kondisi Alsya.


Satu jam berlalu, dengan wajah yang lelah akhirnya Zia pun masuk ke dalam ruangannya. Zia mendudukkan tubuhnya di kursi kebesarannya dan menyandarkan tubuhnya sembari memejamkan mata.

__ADS_1


"Kamu pasti lelah kan?"


Zia langsung membuka matanya, Zia sangat terkejut saat melihat Seno sudah berdiri dihadapannya. Zia hendak bangkit tapi Seno segera menahannya, Seno membungkukkan tubuhnya sehingga wajah mereka semakin dekat.


"Ka--kamu ma--mau nga--ngapin? jangan macam-macam aku akan berteriak," seru Zia gugup.


Seno mengembangkan senyumannya membuat Zia sesaat merasa terpukau, ternyata Seno seribu kali lipat jauh lebih tampan kalau tersenyum seperti itu.


Hingga tidak lama kemudian, Zia tersadar dan mendorong dada Seno sehingga Seno sedikit terdorong dan Zia segera berdiri.


"Kapan kamu masuk ke ruanganku? sungguh tidak sopan," kesal Zia.


"Memangnya aku harus minta izin dulu saat masuk ke dalam ruangan kerja tunanganku."


"Tunangan? bukannya semuanya sudah berakhir?"


"Siapa bilang? aku tidak pernah bilang pertunangan kita berakhir," seru Seno dengan santainya.


"Ishh..ishh..ishh..kamu sungguh menyebalkan, sudah sana keluar aku benci sama kamu, dasar pria pemaksa. Aku ga suka pria kasar sepertimu," sentak Zia.


"Bagaimana ya kalau Uncle Zidan dan Onty Kinan tahu kalau puteri cantiknya ini membatalkan pertunangannya secara sepihak, bisa-bisa kamu diusir dari rumah," goda Seno dengan wajah menyebalkannya.


Zia langsung berlari ke arah Seno dengan kaki yang berjinjit, Zia membekap mulut Seno dengan tangannya.


"Jangan keras-keras, diluar ada suster yang diperintahkan sama Daddy untuk memata-mataiku, bisa-bisa dia lapor sama Daddy."


Seno malah tersenyum dibalik tangan Zia. Menurut Seno, Zia bertambah cantik kalau sedang marah seperti ini.


Seno menarik pinggang Zia, membuat tubuh mereka saling menempel dan Zia sangat terkejut hingga tanpa sadar melepaskan tangannya.


"Jangan macam-macam sama aku, kalau kamu ga mau Uncle Zidan tahu berarti kamu harus mengikuti semua keinginanku."


"Ma--maksudnya apa?"


Seno merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil, kemudian Seno membukanya. Seno mengambil cincin itu lalu maraih tangan Zia dan kemudian menyematkan kembali cincin itu di jari manis Zia.


"Jangan pernah melepaskan cincin itu lagi, atau kamu akan tahu akibatnya," seru Seno.


Cup...


Seno mencium kening Zia, kemudian segera keluar dari ruangan Zia dengan senyuman tengilnya. Sementara itu Zia seperti orang yang terkena hipnotis, hanya bisa mematung dan melongo.


🌍


🌍


🌍


🌍


🌍


Jangan lupa


like


gift


vote n


komen


TERIMA KASIH

__ADS_1


LOVE YOU


__ADS_2