
🌍
🌍
🌍
🌍
🌍
Gibran membawa Bee ke sebuah Mall, karena reuniannya di adakan di sebuah restoran mewah yang ada di Mall itu.
Sesampainya di Mall, Gibran dan Bee berjalan beriringan tanpa pegangan tangan. Gibran sibuk dengan ponselnya sedangkan Bee mengikuti langkah Gibran.
Sesampainya di restoran, Gibran langsung menggandeng Bee.
"Siap berakting?"
"Siap Tuan."
Gibran dan Bee berjalan dengan santainya membuat semua teman-teman yang melihatnya melongo.
"Wah, Pak Bos sekarang bawa gandengan," celetuk salah satu temannya.
"Iyalah, masa tahun 2022 masih jomblo saja," sahut Gibran dengan sombongnya.
"Yaelah, kayanya keempat pria tampan itu punya gengsi yang tinggi. Sudah jelas-jelas mereka pada jomblo tapi tidak mau mengakui," batin Bee dengan mencoba menahan senyumannya.
Bee pun bersalaman dengan semua teman-teman Gibran. Semuanya tampak senang berbincang dengan Bee karena Bee orangnya memang hamble dan gampang bergaul membuat semuanya suka kepada Bee.
Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 malam.
"Tuan, sepertinya aku harus pulang soalnya sudah pukul 21.00," seru Bee.
"Oh oke, kita pulang sekarang."
Gibra dan Bee pun akhirnya pamitan pulang, lagi-lagi mereka berjalan beriringan.
"Tuan, kenapa Tuan ga ngajak Alsya saja ke acara tadi?" tanya Bee.
"Idih ogah, nanti yang ada dia bakalan buat keributan disana."
"Padahal Alsya sudah lama loh, suka sama Tuan."
"Ga mungkinlah Bee, aku hanya menganggap dia sebagai adik saja ga lebih."
"Iya sekarang nganggap sebagai adik tapi lama-kelamaan jadi......" ucapan Bee terhenti karena ada seseorang yang memanggil Gibran.
"Gibran!" teriak seseorang yang sangat Gibran kenal.
"Aduh bahaya ini," gumam Gibran.
"Siapa Tuan?"
Gibran membalikkan tubuhnya, begitu juga dengan Bee yang ikut membalikkan tubuhnya.
"Nah kan benar," keluh Gibran.
Terlihat empat orang dewasa berdiri tepat di belakang Bee dan Gibran. Keempat orang dewasa itu menghampiri Gibran dan Bee.
"Kalian sedang apa disini?" tanya Gibran.
"Kami sedang malam mingguanlah, memangnya cuma kamu saja yang bisa malam mingguan? kami juga ingin malam mingguan seperti anak muda," seru Daddy Gerry.
"Ih apaan sih Daddy, gatel banget sok-sok an pengen malam mingguan," ketus Gibran.
"Ini siapa, Sayang?" tanya Mommy Rubby.
"Ah, kenalkan Tante saya Bianca."
Bee langsung menyalami semuanya termasuk kepada Uncle Kiting dan Onty Celline.
"Boy, siapa wanita cantik ini?" bisik Uncle Kiting.
"Idih Uncle kepo."
"Kamu pacarnya Gibran ya Sayang?" tanya Onty Celline.
"Bu----"
__ADS_1
"Iya, dia pacar Gibran," sahut Gibran memotong ucapan Bee dengan merangkul pundak Bee membuat Bee terkejut.
"Wah, kamu pintar cari pasangan Boy sama seperti Daddy dulu."
"Iya dong, Gibran kan keturunan Daddy."
"Kirain kamu keturunan sun go kong, Boy," ledek Uncle Kiting.
"Apaan sih Uncle, ga lucu," ketus Gibran.
Bee hanya bisa tersenyum, Bee bisa memastikan kalau keluarga Gibran keluarga yang humoris dan santai.
"Sudah malam, Gibran mau antar Bee pulang dulu."
"Hati-hati sayang, Bianca lain kali main ya ke rumah Tante," seru Mommy Rubby.
"Ah...iya Insyaalloh Tante."
"Ingat kamu harus hati-hati bawa anak perawan, jangan diapa-apain belum halal," ledek Uncle Kiting.
"Uncle, sepertinya Uncle belum pernah ngerasain sepatu masuk mulut ya? mau Uncle coba?"
"Wah durhaka kamu sama Uncle sendiri."
"Sudah-sudah, kenapa sih kalian kalau bertemu tidak pernah akur. Ini juga sudah tua masih saja ga mau kalah sama yang muda," seru Mommy Rubby menatap Uncle Kiting dengan tatapan tajamnya.
"Nah kan, tatapan horornya sudah keluar. Makanya jangan macam-macam sama Mommy. Sudah ah, nanti keburu malam kita pergi dulu," seru Gibran.
"Semuanya Bianca pulang dulu."
"Iya, hati-hati sayang."
Bee dan Gibran pun segera meninggalkan keempat orang dewasa itu. Sesampainya di parkiran, mereka langsung masuk dan Gibran mulai melajukan mobilnya.
"Tuan, kenapa tadi Tuan bilang kalau aku pacar Tuan?"
"Maaf Bee, sebenarnya kalau aku katakan kamu bukan pacar aku, sudah dipastikan aku bakalan dijodohkan."
"Aku kadang-kadang aneh dengan kalian berempat, padahal kalian itu sudah sangat punya segalanya. Masa depan cerah, wajah yang tampan, karir yang bagus, tapi kenapa kalian belum punya pasangan? bahkan orangtua kalian sampai mau menjodohkan kalian."
"Itulah Bee, sebenarnya kami itu termasuk orang yang pemilih. Pemilih dalam arti, ingin mencari pendamping yang bisa menemani kita suka maupun duka. Kebanyakan wanita yang deketin kita itu hanya melihat karena kita seorang pengusaha kaya raya, kita punya prinsip ingin punya pasangan sekali seumur hidup jadi kita pilih-pilih wanita yang benar-benar bisa nerima kita apa adanya."
Bee tampak tersenyum, salut dengan para cogan itu.
"Banyak Tuan, tapi aku ga mau soalnya aku ingin mendapatkan pria yang biasa saja bukan orang kaya seperti kalian."
"Lah, bukannya kamu itu mata duitan ya? kalau kamu dapetin pria biasa, berarti kamu bakalan hidup susah dong."
"Ckckck...aku mata duitan karena saat ini sudah tidak ada lagi yang bisa aku jadikan sandaran Tuan, kalau aku tidak mata duitan, aku mau makan apa? sedangkan zaman sekarang, apa-apa mesti pakai uang. Nah, kalau nanti aku sudah menikah dan punya suami walaupun pria itu orang biasa seenggaknya dia punya pekerjaan tetap dan bertanggung jawab, karena dari dulu impian aku tidak muluk-muluk hanya ingin bahagia membangun keluarga dengan orang yang aku cintai."
Gibran tersenyum mendengar jawaban Bee, Gibran tahu kalau Bee adalah wanita spesial dan pesona seorang Bee bisa membuat semua pria bertekuk lutut dihadapan Bee.
Tidak lama kemudian, Bee pun sampai di depan rumah Alta.
"Tuan, terima kasih ya."
"Sama-sama."
Gibran pun mulai melajukan mobilnya meninggalkan rumah Alta. Bee perlahan melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah dan ternyata rumah belum dikunci.
"Loh, tumben belum dikunci," gumam Bee.
Bee pun masuk ke dalam rumah dan tidak lupa mengunci pintunya. Bee melangkahkan kakinya menuju dapur, mengambil air putih dan duduk di kursi yang ada di dapur.
"Aaaarrrrggghhhh....."
Tiba-tiba terdengar teriakkan Alta dari atas membuat Bee kaget.
Brruuuggg...
Alta terjatuh dari tangga saking paniknya...
"Ya ampun, Pak Alta kenapa?"
"Bee tolongin, di atas ada....."
"Ada apa, Pak?"
"Di ruangan kerjaku ada tikus."
__ADS_1
"Tikus, Bapak takut sama tikus?" tanya Bee tak percaya.
Wajah Alta tampak pucat dan dipenuhi dengan keringat. Bee sangat ingin tertawa kencang tapi Bee takut Alta ngamuk, alhasil Bee hanya bisa menahan tawanya.
"Aku tahu, kamu menahan tawa pokoknya aku ga mau tahu kamu harus bantu aku keluarin tuh tikus di ruangan kerjaku."
Bee mendelikkan matanya kemudian mengambil sapu dan mulai melangkahkan kakinya menuju ruangan kerja Alta. Alta mengikuti Bee dari belakang dengan wajah yang ketakutan.
Bee mulai memasuki ruangan kerja Alta dan celingukkan kesana-kemari.
"Mana Pak tikusnya?"
"Tadi ada di bawah meja kerjaku."
Bee mulai mencari tikus itu tapi Bee tidak menemukannya.
"Tidak ada Pak, sudah pergi tikusnya."
Bee pun hendak melangkahkan kakinya keluar dari ruangan kerja Alta.
"Hai mau kemana kamu?"
"Mau keluarlah, aku ngantuk."
"Tidak bisa, kamu harus menemani aku disini."
"Yaelah Pak, aku ngantuk."
Alta menggeser kursi dan menyimpannya di samping kursi kerjanya.
"Kamu duduk disini."
"Kenapa aku mesti duduk disana? aku duduk di sofa saja."
"Duduk disini atau aku potong gaji kamu," ancam Alta.
"Ah ga asyik, ngancamnya sama sekali ga lucu."
Bee pun terpaksa menuruti keinginan Alta, dengan wajah yang cemberut, Bee duduk di samping Alta yang saat ini sedang mengerjakan pekerjaannya.
Waktu pun berjalan cepat, Bee terus saja menguap.
"Pak, masih lama ya? aku ngantuk banget ini," keluh Bee.
"Sebentar lagi."
Akhirnya Bee yang tidak bisa menahan rasa kantuknya lagi tertidur di kursi itu. Alta merentangkan kedua tangannya karena pekerjaannya baru saja selesai.
Alta menoleh ke arah Bee, ternyata Bee sudah tertidur dengan lelapnya. Alta memperhatikan wajah Bee kemudian menyunggingkan senyumannya.
"Baru kali ini aku bertemu dengan wanita yang mata duitan seperti kamu, tapi anehnya aku tidak marah ataupun benci sama kamu justru aku suka," gumam Alta dengan senyumannya.
Alta pun bangkit dari duduknya dan langsung mengangkat tubug Bee. Bee yang memang sudah sangat lelah dan capek tidak menyadari kalau Alta mengangkat tubuhnya.
Alta pun membaringkan Bee di kamarnya dan menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Dasar kebo, kenapa kamu suka sekali membuat aku marah Bee? seandainya aku bisa melarang kamu untuk berhenti bekerja menjadi pacar sewaan," gumam Alta.
Alta pun perlahan melangkahkan kakinya keluar dari kamar Bee.
🌍
🌍
🌍
🌍
🌍
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
__ADS_1
TERIMA KASIH
LOVE YOU